USA Butuh Blogger Indonesia

“Kedubes AS bangga mendukung dan mensponsori Pesta Blogger untuk kedua kalinya. Kebebasan berpendapat adalah bagian yang tak terpisahkan dalam sistem demokrasi yang berkesinambungan,” ujar Cameron R. Hume, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia seperti dilansir detikcom.

Blogger harus bangga? Silakan, suka-suka Anda saja.

Ada sedikit catatan dari saya, semoga pantas menjadi wacana bagi kita, bloggerwan-bloggerwati se-Nusantara. Tak gampang bagi seorang duta besar negara besar seperti Amerika, untuk proaktif memberi pernyataan terbuka akan sebuah peristiwa di negara lain. Ada tata krama diplomatik yang mengikat.

Untuk memperoleh konfirmasi atas sebuah peristiwa menyangkut yang warga negara Amerika di Indonesia saja, misalnya, belum tentu pernyataan muncul dari duta besar. Mungkin, pernyataan cukup dikeluarkan oleh seorang atase pers, atau juru bicara kedutaan yang ditunjuk sesuai kompetensi untuk menyikapi sebuah persoalan.

Saya justru menangkap isyarat lain, yakni pengakuan akan efektifitas jurnalisme warga –yang notabene diperankan oleh blogger, menyaingi keberadaan media tradisional yang dikendalikan oleh dewan redaksi. Jurnalisme warga lebih bebas dan spontan karena tak melalui proses seleksi informasi yang rumit, sementara kantor berita dan industri pers lebih rumit mekanismenya, selain ada kecenderungan ‘dikendalikan penguasa’, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kita tahu, jurnalisme warga kian menjamur di Indonesia, baik melalui situs resmi seperti Publikana, Wikimu, Politikana atau JurnalismeWarga, maupun blog-blog yang dikelola secara idnependen oleh para blogger, sesuai minat dan latar belakang masing-masing. Jurnalis yang kecewa atau kurang puas dengan sistem penyuntingan redaktur, misalnya, banyak menumpahkannya di blog pribadi, bahkan tak jarang lebih kaya warna, dan terbebas dari kepentingan (elit redaksi maupun pemodal).

Kalau dalam berita di detikcom itu ada pernyataan tambahan “Indonesia dan AS memiliki kesamaan dalam hal kebebasan” saya sarankan Anda memaknainya sebagai basa-basi politik karena tuntutan tata krama diplomatik.

Amerika pasti tahu, masih adanya pasal penghinaan dan pencemaran nama baik pada KUHP seperti ditunjukkan dalam pasal 310 dan 311 serta pasal 27 ayat (3) pada UU ITE, menunjukkan masih adanya inkonsistensi bangsa ini akan prinsip kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat seperti termaktub pada pasal 28 UUD 1945.

Pasal-pasal itu sudah jelas inkonsisten, antidemokrasi, dan tak sejalan dengan prinsip Deklarasi HAM PBB. Amerika, sebagai negara yang kerap jumawa mengklaim sebagai pionir dalam hal pembelaan hak-hak asasi manusia, kebebasan informasi serta kebebasan berpendapat, lantas menemukan (tepatnya memilih) kekuatan komunitas pengguna internet sebagai ‘mitra’ mereka dalam menyuarakan banyak hal.

Momentum Pesta Blogger, yang suka-tidak suka harus diakui sebagai ajang berkumpulnya para blogger berskala paling besar di Indonesia, lantas ditangkap oleh Amerika. Soal kenapa Amerika tak terlibat sejak event serupa yang pertama, bisa jadi karena Amerika masih meragukan, atau bahkan underestimate terhadap tingkat keberhasilan pengorganisasian oleh panitia. Oleh sebab itu, mereka memilih wait and see.

Pertumbuhan pengguna Facebook di Indonesia yang mencengangkan (kini sudah 10 juta lebih), bermunculannya blog-blog yang menyuarakan banyak hal, termasuk yang berbau ‘advokasi kepentingan publik’ seperti ditunjukkan pada umumnya situs citizen jouralism, lambat laun akan berdampak pada menyusutnya kontrol negara (pemerintah) terhadap berbagai hal.

Dengan dalih demi kebebasan pula, publik terus didorong untuk menuntut hak-hak individunya, sehingga ketika kontrol masyarakat jauh lebih lebih kuat dibanding kontrol negara, maka di situlah akan muncul sosok ‘hantu modern’ yang tak lain dan tidak bukan adalah p.a.s.a.r.!

Negara diibaratkan sebuah pasar tradisional yang superbesar, dimana rakyat bisa tawar-menawar mengenai sebuah produk kebijakan yang akan dikeluarkan oleh penguasa. Khusus dalam hal ini, harus diakui masih banyak manfaat yang bisa diproleh publik. Negara (pemerintah) tak akan mudah membuat kebijakan dengan semena-mena, yang hanya akan menguntungkan elit dan kroni-kroninya.

Bagai pisau bermata dua, situasi demikian juga akan memunculkan pasar dalam arti yang sesungguhnya. Beragam produk dibuat dan dipasarkan secara massal, teknik dan strategi pencitraan dibuat sedemikian rupa, sehingga setiap manusia –sejak kanak-kanak hingga tua renta, merasa sangat membutuhkan produk yang ditawarkan. (Simak baik-baik, apa yang dilakukan Kedubes Amerika terhadap blogger, salah satunya adalah sebagai bentuk upaya menampilkan citra yang baik dengan pendekatan public relations yang canggih).

Itulah mengapa, Kedutaan Besar Amerika Serikat tampak ‘concerned’ dalam dunia blogging, tak terkecuali ditunjukkan lewat Pesta Blogger tahun lalu dan kali ini.

Mungkin pernyataan saya di sini terlalu mengada-ada. Tak apa, monggo saja Anda mau menjatuhkan penilaian seperti apa. Saya hanya berharap, penyelenggaraan Pesta Blogger mendatang lebih ‘berhitung’ pada sisi kemanfaatan. Saya berani taruhan, Amerika akan rela mengeluarkan dana besar demi kepentingan dan agenda besar mereka.

Dengan tahu misi dan tingkat kepentingan mereka, kita bisa melakukan tawar-menawar yang sepadan. Misalnya, mengarahkan dana dari Amerika –termasuk perusahaan-perusahaan asal Amerika seperti Microsoft, Apple, Freeport, Yahoo! dan sebagainya, untuk mensejahterakan sebanyak mungkin bangsa Indonesia. Kita harus sadar, banyak keuntungan yang sudah diperoleh perusahaan-perusahaan Amerika dari Indonesia.

Utang negara Indonesia pun sudah banyak menumpuk di lembaga-lembaga yang disetir Amerika, seperti World Bank, IMF, ADB dan masih banyak lagi, padahal semula mereka menjanjikan akan mensejahterakan kita.

Ketika utang luar negeri disalahgunakan (sehingga default) oleh oknum-oknum birokrasi dan penguasa, Amerika sebagai ‘polisi dunia’ tutup mata, bahkan terus menggelontorkan utangan baru. Ketika kita terjerat, mereka memaksakan banyak kebijakan dengan iming-iming debt swap yang pada hakikatnya bukan penghapusan beban utang.

Itu, belum termasuk kalau kita berhitung berapa ribu nyawa hilang, berapa juta rakyat menderita, akibat represi penguasa masa lalu demi proyek-proyek besar yang dibiayai kroni-kroni Amerika. Mengapa Amerika tutup mata? Mengapa kita diam saja?

Kini, saatnya kita memaksa Amerika, agar setidaknya meniru program Politik Etis semasa kolonialis Belanda berkuasa dulu. Karena kaubiarkan jutaan rakyat menderita, maka kami tak sudi membayar utang-utang yang kaukucurkan sejak menang pada 1965.

Sekali-sekali, tak ada salahnya kita mengingat pernyataan Soekarno, supaya kita punya semangat untuk bangkit, menjadi lebih bermartabat: Go to hell America, with your aid! Mumpung ada momentum Sumpah Pemuda, mari kita kritisi kembali, makna One Spirit One Nation.

14 thoughts on “USA Butuh Blogger Indonesia

  1. wah… om blontank… jurnalisme warga, kena isu pembajakan intelektual warga politikana tuh…………………..

    silakan cek di sini: http://politikana.com/baca/2010/01/01/keluarga-politikana-dibajak.html

    ck ck ck …. cuma hasil copas, dan ga menyebutkan sumbernya. ujung2nya cari iklaaaaaaaaaaan. -_-”

    terima kasih. sebaiknya, tak usah terlalu emosional menyikapinya. beberapa kali, Ahmad Kosasih menghubungi saya, meminta ijin menampilkan tulisanku di situsnya. saya tak masalah. bahwa kemudian ternyata tidak menyebutkan sumbernya, biarlah itu menjadi pelajaran berharga untuk dia. biarkan dia berproses alamiah, sebab seseorang kian matang ketika berhadapan dan berhasil mengatasi masalah…

    /blt/

  2. Om Blontak terima kasih telah menyebut Jurnalismewarga.com sebagai salah satu situs citizen journalisme di tulisan anda. Ini paragraf awal tulisan anda ———->(Kita tahu, jurnalisme warga kian menjamur di Indonesia, baik melalui situs resmi seperti Publikana, Wikimu, Politikana atau JurnalismeWarga)<—-
    sebagai orang biasa yang tidak banyak bergelut dengan kawan2 aktivis, jurnalis dan komponen lainnya, penyebutan ini sangat membesarkan hati saya Om.

    Salam hangat,
    Ahmad Kosasih

  3. *saia mencoba untuk memanfaatkan internet melalui blog, bagaimana caranya agar saia dapat mengeruk sedikit dollar mereka masuk ke kantong pribadi saia melalui program paid review. semua tak lepas dari kepentingan pribadi masing-masing, bagaimana caranya kita bertindak dalam menghadapi suasana seperti ini? ujung-ujungnya pasti duit dan kekuasaan, kita liat freeport, apakah kita sudah lupa? saia berharap jangan pernah melupakan ekploitasi kekayaan alam di tanah saudara kita Papua*

    sepakat, Jah…
    /blt/

  4. Pengangkatan Endang Sebagai Menteri Bak Kolonel Jadi Panglima TNI

    Endang Rahayu Sedyaningsih tercatat sebagai pegawai negeri Depkes eselon II. Pengangkatannya sebagai Menteri Kesehatan ibarat seorang kolonel diangkat menjadi panglima TNI yang memimpin para jenderal.

    “Ibarat diangkatnya seorang kolonel tak berprestasi menjadi panglima TNI. Lalu tak adakah jenderal yang lebih cakap?” kata Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo kepada detikcom, Sabtu (24/10/2009).

    Menurut Tjahjo, pengangkatan Endang itu pun dinilai telah menciderai sistem karir kepegawaian di Indonesia. Dalam usia menjelang pensiun, Endang masih berstatus eselon II. Itu menunjukkan Endang bukan pegawai yang berprestasi.

    Secara tiba-tiba, Endang harus memimpin struktur departemen yang sangat besar dan membawahi ratusan pejabat eselon I. “Ini aneh dan patut dipertanyakan. Apa sebenarnya motif SBY mengangkat dia? Kecuali dia orang luar atau mungkin seorang politikus,” kata Tjahjo.
    http://www.detiknews.com/read/2009/10/24/171248/1227759/10/

    Mas Tjahjo lupa, itu kan politik. sebenarnya malah bagus begitu, wong jadi ketahuan Pak Presiden maunya apa…
    /blt/

  5. Kalo pendapat saya gini.
    1. Amerika butuh perbaikan citra
    2. Kebetulan diplomat mereka di Jakarta emang sadar PR
    3. Cara “murah” dan “praktis” ya manfaatin bloggers, supaya ada gambaran bhw Amrik itu friendly
    4. Panitia juga butuh dukungan dana dari kanan kiri tanpa titipan macem-macem yang berlebihan
    5. So far buat saya oke-oke saja. Toh duitnya bukan buat pribadi-pribadi panitia.

    Soal one soul one nation? Ya itu yang harus kita perjuangkan bareng. Langkah pertama ya menerima dan mengakui perbedaan pendapat. Antara lain melalui blog dan semua layanan media sosial.

    setuju sepenuhnya, Paman… saya melihatnya dari sisi Amerika-nya kok. punapa tulisan kula kados ban sing kudune 25 psi disebul ngantos 33 psi, nggih? padahal kula mboten bermaksud kados makaten, niku…..

    atas pendapat nomor 4 dan nomor 5, saya malah bingung nanggapinya. saya ucapkan selamat untuk kesuksesan penyelenggaraannya. mohon maaf cuma bisa datang meramaikan acara yang di Yogyakarta…..
    /blt/

  6. Sip Pakdhe…
    kedepannya nanti semoga pakdhe juga membahas tentang Menteri Kesehatan yang Notabene lulusan Namru kae lho…. Aqu pingin reti apa opini sing nang penggalihe Pakdhe Blontank je….
    Makasih….

    Go to hell America, with your aid! too

    ora duwe bahan, je… durung wani komentar. sing genah, aku mesakake calon menteri kesehatan sing wurung dipilih…
    /blt/

  7. Amerika.. doh. sbrnya aku sangat apatis dengan segala aktivitas amrik (terutama dalam pendekatannya). sampai2 aku gak niat datang ke acara ini. tapi gimana, kita gak boleh berprasangka buruk. perutku pun udah telanjur dicekoki dengan segala jamuan makan saat di konjen sby. doorprize juga aku terima saat launching fesbuk surabaya.
    terkikis juga komitmen itu, lebih2 teman memberikan tiket gratis. maka berangkatlah. :)

    membaca postingan Pak B spt ini bisa menyadari titik lemah yg harus dipahami. Kebebasan berpendapat sangat diperjuangkan oleh amerika ke sini, tmsk dg sponsor2nya yg sangat wah, sesuatu yg mau tak mau kudu dibanggakan oleh penyelenggara, juga peserta.
    tp, jika itu sudah tercapai (bagi amerika)…… terjadilah apa yg saya alami. apalagi kultur di indonesia melekat rasa sungkan, pakewuh, dll :-)
    Bagaimanapun, dalam kondisi status kebebasan yg berimbang, amerika tetaplah memilkiki mainstream yg lebih kuat. yg bisa mencaplok indonesia!.

    sama halnya, betapapun kita selalu diajarkan demokrasi, persamaan hak, dll. toh sampai saat ini presiden amerika tak pernah perempuan spt di indonesia, karena demokrasi itu bukanlah tujuan dari amerika. tapi (salah satu) jalan untuk….

    makanya, sepakat dgn tulisan diatas, Pak Karno saja sampe ngomong go to Hell ..

    jangan sampai membenci Amerika, juga siapapun. justru di situlah kearifan kita diuji. mungkin memang Gusti Allah menghadirkan Amerika dan sekutunya untuk menguji kita semua. kita masih bisa berharap atas kehadiran Obama, yang sedikit banyak sudah meruntuhkan ‘rumus baku’ penguasa Amerika, sebuah potret betapa rakyat Amerika juga dinamis, menginginkan perubahan, tidak lagi primordial.

    kita ingat WASP, White-Anglo Saxon-Protestant sudah ditumbangkan oleh Obama yang semiBLACK. itu menarik. persentuhannya dengan (kultur) Islam pada masa kanak-kanaknya juga memberi ‘pencerahan’, betapa primordialisme itu sudah usang.

    kita tak boleh benci dan anti terhadap Amerika. yang saya tolak hanya sikap hegemoniknya, ambisinya menjadi polisi dunia dan penentu merah-hitam jagad raya.

    cerita sedikit: pernah suatu ketika (sekitar 2004-2005), saya diajak seorang teman untuk melakukan penelitian mengenai konflik di Indonesia. pendanaannya lumayan, hampir semilyar rupiah untuk masa penelitian enam bulan.

    seorang kiai lantas mengingatkan saya, dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan pernyataan, seperti:
    – kamu pingin uang itu?
    – duit itu besar buatmu, tapi kecil bagi mereka…
    – dengan menyajikan data lapangan, termasuk peta dan akar konflik, tak bisa dihindari kamu akan menyodorkan banyak data.
    – tahukah kamu, dari duit ribuan dolar saja, mereka bisa membeli informasi kita, lalu bisa diolah, dikapitalisasi sehingga berguna untuk penentuan strategi internasional mereka, yang bisa jadi menghasilkan keuntungan beratus-ratus kali lipatnya.
    – KAMU DAPAT APA? BANGSA INI BAKAL DIBUAT APA?

    hmmm….. asyik, kan? itulah hebatnya orang Amerika. mereka pintar, tanpa gembar-gembor sebagai peminum jamu tolak angin segala…

    ingat kata Kennedy saja, right or wrong, my country.. selesai!
    /blt/

Leave a Reply