Mengatur Adegan Foto

Ketika foto yang saya ambil secara candid itu diunggah ke Facebook, sang fotografer yang saya tampilkan di foto itu mencak-mencak. Apalagi, dia sudah mewanti-wanti agar saya tidak meng-upload foto yang satu itu, saat saya tunjukkan kepadanya. Andai petang itu terjadi deal, entah disogok apa, mungkin saya rela menghapus file-nya. Hahaha…..

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009

Rupanya, lelaki muda yang blog dan salah satu karya fotonya masuk nominasi pada ajang lomba foto Pesta Blogger 2009, itu risih, setengah malu. Dia protes, sambil membawa-bawa istilah semiotika gambar segala, sebab orang yang melihat foto itu bisa saja menafsir sang fotografer sedang nginceng daleman seorang perempuan yang melintas di depannya.

Memang, gaya memotretnya tak lazim, meski harus dipahami itu sebagai upaya kreatif sang fotografer untuk memperoleh gambar yang bagus, meski yang sedang dia bidik adalah bangunan tua, yang tak bakal beringsut kemana-mana, yakni Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama, Semarang.

Namun, justru cara memotretnya yang tak lazim itulah yang menggelitik saya untuk mengabadikannya. Kebetulan, saya sudah memperhatikan gayanya memotret belasan menit lamanya. Pinginnya, bidikan terfokus pada dia, dengan foreground roda kendaraan bermotor yang melintas di depannya. Dalam benak saya, citra blur atau panning pada latar depan akan dramatik.

Dasar memang tolol dan amatiran, beberapa frame hasil rekaman masuk kategori layak hapus. Tiba-tiba, saya melihat seorang perempuan mengayuh sepeda secara melawan arus. Sang fotografer yang memicingkan mata di balik kamera terlalu memfokuskan perhatiannya pada bidikannya, hingga tak sadar ada yang hendak melintas di depannya. Maka, dari seberang jalan kutekan tombol pelepas rana kamera saya yang selalu pada status continuous mode.

Seperti saya sebutkan pada awal cerita, sang fotografer yang gagal nego dengan saya, mencoba mengajukan jurus yang diyakininya bakal jitu. Katanya, orang akan menuduh foto itu sebagai hasil setting-an, atau adegan yang diatur, dipersiapkan demi hasil yang bagus, sesuai keinginan sang pemotret. Dia tahu, nyetting termasuk perbuatan hina, karena itu akan menjadi aib bagi yang melakukannya.

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook

Karena memang ndableg, saya tak peduli dengan bujukannya. Orang mau bilang apa kepada saya, tak bakal ada pengaruhnya buat saya. Bisanya juga cuma pertunjukan yang menggunakan penerangan lampu sangat terang. Lagi pula, hasilnya juga untuk menghibur harddisk komputer, supaya keberadaannya di rumah saya menjadi lebih berarti. Itu saja.

*****

Bahwa nyetting itu aib, apalagi bagi foto jurnalis, toh masih ada saja yang melakukannya. Demi gambar bagus, dramatik, menyentuh perasaan, dan entah apalagi alasannya, ada saja yang rela melakukannya. Posisi sebagai fotografer pun dilengkapi dengan kemampuan menjadi sutradara.

Di beberapa tempat, malah saya sering mendengar seorang fotografer meminta demonstran bergaya, berteriak sembari mengepalkan tangan agar didapat hasil foto yang ‘berbicara’, seolah-olah spotnews sungguhan. Pada bentuk lebih halus, meski sejatinya sadis, fotografer sengaja ngompori polisi agar mau merazia atau menghardik orang berpacaran di taman, sementara dari kejauhan ia mengarahkan lensa tele-nya sambil menebak-nebak seperti apa reaksi targetnya.

Apakah peran demikian itu hanya menjadi monopoli fotografer? Tidak! Kameraperson televisi pun banyak yang melakukan hal serupa. Penyutradaraan malah sering lebih terencana, sehingga hasilnya bisa disebut sempurna. Memang agak panjang cerita, semoga Anda tak bosan membacanya.

Suatu ketika, jurnalis televisi mendatangi sebuah pertemuan sekelompok orang di sebuah gedung. Ia sudah selesai mengambil stockshots, baik berupa jalannya acara beserta pernik-perniknya hingga wawancara tokohnya. Merasa kurang hot, ia pun menelepon sekelompok orang yang memusuhi kelompok pertama, untuk mereaksi atas kegiatan yang baru saja diliputnya.

Tak lama berselang, sekelompok orang datang, berteriak-teriak mengecam pertemuan dan menuntut pembubaran dengan segera. Sang kameraperson pun memperoleh gambar dramatik, ekspresi orang kesetanan karena bernafsu menyerang musuhnya, juga suasana kekacauan di ruang pertemuan, serta bumbu reaksi masyarakat awam yang menghentikan perjalanan atau berbondong-bondong menyaksikan ‘keributan’.

Tukang setting kebanyakan peka dalam selera, meski sejatinya mati rasa.

8 thoughts on “Mengatur Adegan Foto

  1. Wekekekek, mantap lah gayanya mas Dony motret. Tapi mungkin seandainya pakai SLR yg ada Live-View nya gayanya bakal beda lagi 😀

    wah, kalau kamera yang begitu berarti berseri agak baru. Dony baru mau membelinya awal bulan depan tuh…
    /blt/

  2. (lmao) (lmao) (lmao)

    ha ha ha, dingaren komentare mas don koyok ngono
    kemekelen aku moco cerito awale pak B (haha)

    Kurnia kok bisa kemekelen kenapa? wong sing motret wae malah mecucu ngono, lho…
    /blt/

  3. Saya memotret dengan jurus seperti itu kan karena terpaksa, tak bawa tripod besar, cuman bawa tripod kecil yang minimalis itu, saya menyebutnya tripod kethek.
    Terima kasih sudah membuat posting ini, karena sedikit banyak sudah mengembalikan ‘nama baik’ saya 😛
    Ini adalah hasil foto dengan jurus ndlosor dan ngesot itu: Gereja Blendhug

    Btw, nada komentarku kok serius ya, xixixixixi

    Don, tumindakmu jauh lebih baik daripada membuat setting dan menyesatkan. orang yang terikat pada etika mestinya bekerja lebih bagus dan profesional, kan?
    /blt/

Leave a Reply