Teroris Bersepeda Motor

Ini adalah malam minggu yang kesekian, dimana saya –juga banyak warga Kota Solo, merasa diteror dengan suara. Belasan sepeda motor RX King berkeliling kota, berjalan kencang dengan suara knalpot memekakkan telinga. Berharap ada penertiban, rasanya sia-sia belaka sebab berbenturan dengan hak yang juga melekat pada mereka.

Walau pada tengah malam, para pengendara itu tak pernah hirau atau peduli pada orang-orang yang ingin tidur nyaman. Mereka bahkan suka menggeber-geber sehingga menggangu kenyamanan mereka yang asyik ngobrol sambil menikmati suasana malam di warung-warung lesehan, atau kedai kakilima yang populer dengan sebutan angkringan atau wedangan.

Siapa mereka? Saya lebih senang menyebutnya teroris. Label yang sama saya berikan untuk para pelaku peledakan bom di berbagai tempat itu, juga orang-orang yang merasa dirinya sebagai polisi moral lalu mengobrak-abrik kafe.

Kalau mau menelisik lebih jauh siapa orang-orang yang gemar menggeber motor RX King sehingga membuat jantung banyak orang berdebar, terkaget-kaget, atau menjadi terbangun pada tengah malam itu, warga Solo bisa melihat pada sebagian identitas yang tampak jelas pada kaos atau jaket yang dikenakannya. Polisi pun paham siapa mereka, maka perlu menyusupkan intel pada kelompok ini.

Bisa jadi, mereka dipantau karena dirasa memiliki potensi munculnya kerawanan. Kita mafhum, RX King termasuk jenis sepeda motor yang bisa segera dipacu dengan sangat kencang karena memiliki tingkat akselerasi tinggi. Para jambret termasuk yang menjadikan sepeda motor jenis ini dan jenis Force 1 ZR atau F1ZR sebagai pilihan favorit untuk mendukung operasi kriminal mereka.

Di sini, saya tak hendak menyebut para penunggang RX King atau F1ZR sebagai sosok kriminal. Banyak penggemar RX King yang mengemudikan secara sopan, hati-hati, karena memang menyukai jenis ini. Tapi bagi mereka yang suka berkeliling kota secara konvoi belasan hingga duapuluhan sepeda motor sekaligus, berjalan sangat kencang dengan bunyi knalpot memekakkan telinga di malam hari, saya lebih suka menyebutnya teroris.

Saya kira, masyarakat punya hak untuk menuntut mereka dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Dan tuntutan tak terbatas kepada gerombolan penunggang RX King saja, namun juga kepada pengendara lainnya yang bisa dikategorikan dengan sengaja memodifikasi sehingga menghasilkan suara yang mengganggu karena frekwensi suaranya jauh melebihi batas-batas toleransi, baik dari perspektif psikologis maupun pendengaran.

Boleh jadi, mereka melakukan konvoi di tengah malam itu sebagai ungkapan protes atas terjadinya ketidakadilan perlakuan polisi di masyarakat. Pengendara motor besar, termasuk yang tergabung dalam klub Harley Davidson, misalnya, suka berkonvoi di jalan raya layaknya rombongan presiden.

Dengan sirene meraung-raung, mereka menghabiskan seluruh lajur dan memaksa kendaraan yang berlawanan arah menyingkir memberi jalan. Privilese bahkan tampak diberikan secara kasat mata, dimana mobil polisi atau sepeda motor polisi bertindak sebagai vorijder konvoi. Memang, para polisi lalu lintas berada dalam posisi sulit ketika berhadapan dengan pemilik atau anggota klub motor besar demikian.

Banyak pengusaha, pejabat sipil, polisi dan militer yang menyukai ‘olah raga’ jenis ini. Menolak memberi ‘pengamanan’ konvoi mereka bisa berbuah petaka, dalam kenaikan pangkat misalnya.

Sungguh ironis, para penunggang motor besar memperoleh perlakuan istimewa lantaran suka mengajak atau dilibatkan polisi dalam aksi-aksi kampanye tertib berlalu lintas atau berkendara di jalan raya. Namun pada prakteknya, mereka seperti penguasa jalan raya di luar masa ‘kampanye’.

Kalau kemudian ada reaksi pengguna RX King, juga klub-klub pemakai sepeda motor beraneka jenis dan merek, lewat cara konvoi keliling kota seenak perut mereka, kadang kita dipaksa memaklumi. Bila polisi, juga para pengendara motor-motor mahal itu patuh pada hukum, rasanya tak akan muncul aksi gagah-gagahan berupa konvoi-konvoi dengan suara knalpot yang memekakkan telinga.

Baiklah, di sini saya ingin menyebut para penunggang sepeda motor dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, dan para pengendara sepeda motor berkapasitas mesin besar yang suka menghabiskan lajur jalan raya, sama-sama sebagai teroris. Sebab, perilaku mereka merugikan dan melanggar hak-hak orang lain, yang mestinya sama saja kedudukannya di muka hukum.

Wahai teroris, kapan kalian akan memperbaiki diri? Bukankah kalian terlihat cengeng, penakut sehingga tampak sopan ketika berjalan sendiri, tanpa gerombolan?!? Saya yakin, kalian masih punya hati dan perasaan. Eh, punya kuping juga…..

17 thoughts on “Teroris Bersepeda Motor

  1. raden mas jemblung

    Memang, segala tingkah laku di jalanan saat ini, sudah sangat meneror batin kita… Mungkin ini dampak dari tak adanya lagi mata pelajaran Budi Pekerti dalam kurikulum sekolah-sekolah di abad 21 ini.
    BTW, numpang tanya ya pak, apakah “Harley Davidson” itu masih bersaudara dengan “David Harleyson” yang tinggal di dekat Pasar Njongke, Pajang?! Mohon info…

    Supertinya bugitu, mereka masi basudara…
    /blt/

  2. geblek

    ditambah dengan lampu rem belakang dengan warna putih yg harusnya merah. kalau di rem cukup membuat mata silau itu juga menyebalkan

    yang begitu punya dampak sama membahayakannya bagi pengendara di belakangnya dengan stoplamp tanpa penutup…
    /blt/

  3. Berkunjung ….
    membahyakan diri sendiri itu …
    Pengemudi yg tak tau aturan …

    salam hagat Blogger Kalsel

    salam hangat, salam kenal kembali. jadi datang di seminar Bengawan, kan?
    /blt/

  4. lha kalau di pinggiran jakarta jalan raya berubah jadi sirkuit, dan RX King menjadi tunggangan andalan, sarana abege trek-trekan, kalau dibubarkan, kantor polisi jadi sasaran amukan…

    kalau sampai bertindak brutal model begituan, kalau aku tak peduli dengan HAM. tembak ndase, biarin modar sekalian….
    /blt/

  5. wkwkwk.. rego rx king dadi anjlok.. yen akeh sing moco postingan iki :mrgreen:

    kalau sampai seneng baca blog, apalagi nge-blog, mereka akan malu biyayakan di jalanan. setidaknya, noraknya akan berkurang… :p
    /blt/

  6. Kabare, klub rx king itu isinya kebanyakan para anggota pulisi juga, apa bener begitu?
    Kalau dibiarkan ugal2an seperti itu, lama2 stigma rx king jd mangkin buruk

    lha kalau kamu saja tahu anatomi kelompok itu, berarti mereka juga ngerti teman-temannya juga polisi. kalau begitu, yang kalah polisinya atau kelompok pengendara motornya?
    /blt/

  7. wehhh…
    labele dipasang tanpa tedheng aling-aling ta Pakdhe..? hihihi…
    ora semelang nek di banned pa..? aku tak tiru tiru achhhh…
    🙂

    kalau ada yang nge-banned, yang dituntut saja. simpel, kan?
    /blt/

  8. jongil kim

    luwih kurange wes sewindu ora nate numpak pit montor………jalaran ra duwe.
    dadi sedina dina mung numpak pit onthel, murah, meriah n nyehatke.

    alhamdulillah….. kangen aku karo celathune pak presiden korea iki. lama gak nongol, kemana saja, pak?
    /blt/

  9. Waduh, kalo bgini aku juga agak “rumangsa”.
    Motorku walopuntua, tak kasih knalpot “plong-plongan”.
    Manstab tulisane. Bisa jadi refleksi.

    gak usahlah merasa gimana-gimana. wong aku gak nyerang sampeyan, kok. hihihih…..
    /blt/

  10. Ngueeeeeeeeng……………… Kalo ada orang ngebut dengan suara keras gitu, saya langsung mbatin, “neg jiblok lagi ngrasakke, sokur”, neg suara knalpotnya berisik yo mbatin, “iki mesti dho kopoken”. Yah, nggak tau deh kalo mereka mbatin’e apa.

    hehehe… kamu suka kaget gak, Sha?
    /blt/

Leave a Reply