Jangan Bilang Kami Monyet!

Sebuah pesan pendek masuk di telepon saya. Isinya, undangan diskusi jurnalistik oleh para pekerja media dengan bahasan yang menurutku menarik: Martabat Wartawan! Rupanya, teman-teman jurnalis di Solo itu tersinggung saat liputan diteriaki sebagai ‘monyet-monyet’ oleh anggota laskar (yang merasa paling) Islam pada sebuah peristiwa.

Materi pembicaraan pada pertemuan malam itu lantas melebar ke banyak hal. Semula membahas sikap laskar yang overacting hingga menduga-duga anatomi kelompok mereka, lalu mencoba menelisik siapa saja jaringan mereka, apa kepentingannya, siapa yang dibuat untung dan pihak mana dirugikan oleh aktivitas mereka, dan banyak lagi.

Saya mengajukan pernyataan sederhana kepada mereka: siapa yang membesarkan laskar-laskar itu?

Hampir seluruh peserta obrolan mengamini, bahwa media massa pun punya peran. Tak ada pula yang membantah, itu semua lantaran si jurnalis tidak awas, sebagian disebabkan karena kurangnya kehati-hatian sebab terjerumus matematika honor. Perkalian jumlah berita ditayangkan atau disiarkan dengan besaran honor, turut memicu lahirnya produk jurnalistik yang amburadul.

Tuntutan perut, kerap menjadikan seorang jurnalis tak obyektif dalam memproduksi sebuah berita, apapaun jenis medianya. Banyaknya fresh graduated yang terjun ke lapangan tanpa bekal pengetahuan jurnalistik, turut membuat produk jurnalisme dari daerah kian parah. Anehnya, sikap redaksi tak pernah berubah, bahkan seolah-olah tutup mata.

Budaya adu cepat tayang ditambah pengagungan rating seperti televisi, juga bisa diajukan sebagai salah satu contoh, betapa akurasi dan kredibilitas content menjadi terabaikan. Dalam situasi demikian, sudah jelas siapa pihak yang dirugikan: p.u.b.l.i.k! Hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang bermanfaat tak dipenuhi oleh media massa sementara pengelola media sudah memanipulasi statistik pembaca, penonton, dan pendengarnya sebagai aset dalam penentuan harga iklan.

Sadis? Memang!

Di lapangan, kadang malu kalau ditanya profesi saya. Apalagi, sering orang berkata –yang karena ketidaktahuannya, lantas membuat luka.

Enak ya jadi wartawan. Temannya pejabat, duitnya banyak, mau ngapa-ngapain pasti bisa. Apalagi kalau lagi banyak kasus….

Persepsi publik yang demikian bukan tanpa sebab. Banyak jurnalis, lantaran digaji sedikit oleh media yang mempekerjakannya (bahkan tanpa kontrak, hubungan kerja tak terlindungi hukum), lantas melahirkan budaya amplop. Pemberian (berupa uang, barang, fasilitas) dari narasumber dianggap sah, padahal dampak psikologisnya bisa diprediksi: jurnalis akan sungkan bila si pemberi terkena persoalan sementara media punya tanggung jawab moral untuk memberitakan.

Oke, kita serahkan saja soal amplop pada nurani masing-masing, walau saya tak setuju ada bujet untuk pers di APBD/APBN, juga di badan-badan usaha negara/swasta dan sebagainya, dengan asumsi seorang pekerja sudah dibayar oleh perusahaan media yang mempekerjakannya.

Kembali pada urusan laskar overacting, rasanya perlu pula kalau sekali-sekali media memberi ‘pelajaran’ kepada mereka. Bukan sebagai bentuk balas dendam, namun mencoba obyektif dan proporsional. Juga, mempertimbangkan aktor urgensi dan bobot sebuah peristiwa untuk dikemas menjadi produk berita.

Harus diakui, banyak pimpinan laskar itu sadar media. Dengan segala cara, mereka berusaha agar kegiatan mereka diliput dan diberitakan. Motifnya bermacam-macam: ada yang ingin membuat bargaining dengan pihak-pihak tertentu, dan sebagainya.

Pernah suatu ketika, ada sekelompok orang yang membuat tulisan-tulisan provokatif yang dipasang di seantero kota, dengan pesan menolak pemakaman orang-orang yang tewas terkait kasus terorisme. Sementara, ada pihak lain yang juga menebar tulisan dengan memposisikan orang-orang yang tewas dalam penggrebekan oleh polisi dengan sebutan mujahid, atau orang suci yang dibunuh.

Sejatinya, semua teman media bisa mencium gelagat pihak mana saja yang berkepentingan, bahkan memainkan isu itu sebagai ‘bahan jualan’. Dalam situasi demikianlah, kredibiltias seorang jurnalis diuji.

Jurnalis pasti akan surut martabatnya di mata narasumber dan publik manakala memproduksi berita tanpa mengikutkan value yang berguna sebagai pertimbangan utama. Bahkan, martabat itu akan hilang sama sekali ketika seorang jurnalis tahu dan secara sadar menyediakan diri untuk bisa ‘dibeli dan dipermainkan’ narasumber atau pihak-pihak yang berkepentingan.

Silakan baca pula beberapa tulisan saya tentang jurnalisme berikut:

Menipu dengan Foto, Kisah Jurnalis Main Pukul, Teroris dan Pengalihan Isu, Ngruki, Ba’asyir dan Sikap Media

10 thoughts on “Jangan Bilang Kami Monyet!

  1. inilah cerita negeri indonesia raya ini. semua berawal dari uang 🙂
    eh itu laskar yg siap mati kalau miyabi datang ?
    ahhh padahal saya sudah gembira kalau miyabi datang, kan mereka siap mati. artinya gak ada laskar jagoan lagi toh hihihi

    tanpa laskar sok-sokan, hidup lebih tentram. tapi gak ada tantangan. piye, jal? serba susah ya….?
    /blt/

  2. gaji besar memang tak serta merta memberantas atauymenghentikan amplok. Namun tetep saja saya setuju gaji wartawan gede, hehehe
    [muga muga pabrik koran tempatku bekerja ga bangkrut dan terus untung, sehingga buruh tulisnya bergaji segede gunung]

    memang tak sepenuhnya menjamin. setidaknya, ora tidak nggragas dan berdalih macem-macem. banyak wartawan di media besar, bergaji besar, masih senang ngamplop dengan cara ngerjain proyek-proyek BUMN atau perusahaan-perusahaan. di Jakarta, banyak yang kukenal demikian…

    larangan dari kantornya lumayan ketat, bahkan pemberian berupa barang, pun ditimbang: berapa harga wajarnya, dan seterusnya. tapi, karyawannya banyak yang lebih pinter bersiasat…
    /blt/

  3. abufathan

    Pertanyaan saya adalah benarkah mereka wartawan? Kalau wartawan pasti memiliki martabat. Martabat wartawan bukan ditentukan oleh seberapa banyak beritanya ditayangkan. Agak ragu juga kalau mereka itu wartawan hanya karena memiliki kamera, punya id card dan atribut artifisial lainnya bukan melaksanakan tugas jurnalistik. Atau jangan2 tidak tahu tugas jurnalistik yang salah satunya adalah mencerdaskan publik. Seringkali mereka sok merasa heroik, padahal publik senyatanya tidak membutuhkan informasi yang mereka suguhkan. payah deh

  4. Sejak kapan pekerjaan wartawan itu jadi semacam aib?

    ya sejak wartawan senang berkolaborasi dengan narasumber, lantas publik menganggap semua wartawan sama saja kelakuannya…
    /blt/

  5. Jangan Bilang Kami Monyet!
    Kalo dibilangnya “sama sekali bukan manusia dan sangat susah jadi manusia!” boleh enggak pakdhe…?

    boleh. buatmu, apa sing tak kuebrikan?
    /blt/

  6. itulah, kenapa saya semalam tidak hadir … ini alasan pribadi saya saja. bahwa ketika “martabat” itu didiskusikan, tapi besok2 ketika ada lagi isu yang dilontarkan oleh pihak yang menyebabkan diskusi itu digelar, tentu teman2 yang merasa resah dengan sikap pihak penyebab diskusi itu akan berbondong2 datang …

    terus ngapain didiskusikan? lha wong sikap mereka juga tidak tegas. pernah muncul wacana boikot, tapi kalau tidak semua mengamini, ya gak bakal terealisasikan to?

    saya kadang dilema, ketika berhadapan dengan pihak penyebab diskusi itu. diliput, yo piye, ra diliput, iso diseneni kantor … dilematis …

    oh ya, pakdhe, kira2, siapa to yang dikatain monyet itu? soalnya selama saya liputan peristiwa di mana kata2 monyet itu katanya dilontarkan, saya tidak mendengarnya sama sekali. bahkan tidak tahu, kalau tidak ada acara diskusi itu … mohon pencerahan …….

    (kangen wedangan mode on)

    semalam sudah menemukan caranya, kok. tinggal direalisir. jadi, jangan ragu untuk wedangan….
    /blt/

  7. kebobrokan negeri ini adalah salah satu sumbangan dari para jurnalis .. 😀

    aku tak hendak membela. tapi, begitulah yang terjadi pada sebagiannya. kasus Bank Century, misalnya, kita tak bisa berharap pada media akan cerita-cerita di baliknya, bahkan oleh sebuah media terkemuka yang selama ini kita andalkan sebagai benteng terakhirnya…
    /blt/

  8. ang

    pak blontank, kira2 pelajaran yang pas buat mereka opo??

    wah, soal kuwi aku ora mudheng. setahuku, pelajaran yang tepat buat mereka itu adalah soal budi pekerti, agar menjadi orang yang bisa baik dan ramah kepada semua orang. hehehe…

    lagi ngopow iki, Ang?
    /blt/

Leave a Reply