Jangan Nyopet, Ya…

Kedua tangan kanan kami masih berjabatan ketika NdoroKangkung membisikkan kalimat pendek nan bijak kepadaku, “Aja nyopèt, ya….” Aku menggeleng, berusaha tangkas menukas, “Sepi , Ndor..!” Dia tertawa, aku pun sama. Lalu, aku dan Dony berlalu, meninggalkan keriuhan Pesta Blogger di bekas kampus ASRI Yogyakarta lalu pulang ke Solo.

Wakil dari Kedubes Amerika Serikat berpidato usai menyerahkan bantuan buku secara simbolis kepada Komunitas Cahandong

Wakil dari Kedubes Amerika Serikat berpidato usai menyerahkan bantuan buku secara simbolis kepada Komunitas Cahandong

Kasar lantaran menuduhku sebagai copet? Jelas bukan! Justru kalimat-kalimat demikian yang bisa menjadi bukti sebuah kedekatan, penanda keakraban. Dalam konteks hubungan antara aku dan NdoroKangkung, seperti kutulis di sini, bolehlah Anda menyebutnya sebagai ikhtiar seorang newbie dalam mendongkrak peringkat, nebeng popularitas seleb-blog. *nglirik Ndoro, teman sekolah KRMT Roy Suryo*

Kenapa aku menjawabnya dengan kata sepi? Sebab aku tahu, pukul 22-an merupakan jam tanggung. Bus-bus yang melayani trayek Yogya-Solo hampir pasti tak ramai, karena itu tak tepat untuk aktivitas memaksa barang –bisa berupa dompet atau barang berharga lainnya, bermigrasi dari saku atau tas pemilik sah ke penjarah, ya si copet.

Walau masyarakat sepanjang jalur Yogya-Solo masih memercayai malam Jumat sebagai malam keramat, namun jam segitu memang bukan waktu yang tepat untuk pulang bagi orang-orang yang gemar tirakat. Para peziarah dan penggemar tirakat di makam Imogiri, Parangtritis, makam Sunan Tembayat serta Ki Ageng Ranggawarsita biasanya pada pulang pagi-pagi. So, bis-bis yang lewat pada jam-jam itu dianggap kurang seksi, tidak menawarkan potensi. (Cerita hubungan populasi copet dengan perilaku klenikpada masyarakat Jawa bisa dibaca pada tulisan Waspada Marang Cop <!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> èt)

Justru tempat pesta, ya kampus ASRI itulah yang menurutku keramat, sebab telah melahirkan banyak pelukis hebat, bahkan tak sedikit yang populer seantero jagat. Dan, sejak akademi seni rupa itu diintegrasikan menjadi satu dalam wadah baru bernama Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menurutku, tak banyak mencetak perupa-perupa dengan kaliber setara pada masa-masa sebelumnya.

Di kampus Gampingan, itulah lahir banyak tokoh perupa yang turut memengaruhi perjalanan sejarah senirupa Indonesia, sehingga menjadi poros penting dengan munculnya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada 1975.

Lalu, apa hubungan antara aku dengan NdoroKangkung, perupa dan pencopet? Entahlah. Aku tak sedang atau bahkan hendak menguraikan hubungan-hubungan semacam itu.

Gambyong, tarian untuk menyambut kedatangan tamu atau pengganti ucapan selamat datang

Gambyong, tarian untuk menyambut kedatangan tamu atau pengganti ucapan selamat datang

Aku cuma ingin bercerita, bahwa para mahasiswa ASRI jaman itu sangat erat bergaul dengan seniman dari berbagai disiplin yang berbeda. Di Yogya, ada Sanggar Bambu yang monumental, juga terdapat Bengkel Teater, selain Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) juga komunitas Malioboro. Di antara mereka, terdapat seorang seniman berbakat, dengan kemampuan mencopet yang tak tertandingi.

Memang, tak etis menyebut namanya. Dia eksentrik, dan aku masih menyapanya menjelang pergelaran festival tari, sepekan silam. Lelaki lebih dari setengah baya yang masih ceria dan penuh canda, yang beberapa bulan silam masih kudengar cerita dia ngerjain teman-temannya dengan ketrampilannya memindah dompet tanpa si empunya merasa.

Di sana pula, telah dilahirkan seniman-seniman yang bengal namun sukses sejak masa mudanya. Ada cerita bagaimana satu dengan yang lain saling memerdaya: ada yang mengajak pesta minuman keras di Prambanan dengan membawa pula perempuan jalanan sebagai (maaf) ‘kudapan’, sehingga orang yang teperdaya tak bisa ujian pendadaran (skripsi) lantaran bangun kesiangan.

Cerita yang paling banyak kudengar dari sana adalah mahasiswa-mahasiswa yang suka mencari perempuan untuk dijadikan model, sekaligus dijadikan sebagai teman kencan bergiliran. Cerita yang lain (dan sadis) yang pernah kudengar dari salah satu pelakunya, adalah dengan mengerjakan (baca: ngerjain) pelacur-pelacur murahan di pantai Parangtritis dengan mengoleskan balsam di kemaluan mereka.

Atau, cerita kenakalan sebagiannya, yang karena kelucuannya sebagai efek konsumsi dabyud (atau mushroom dalam bahasa prokem Yogya) lantas menyembunyikan pakaian pelacur sehingga telanjang semalaman, dan banyak lagi.

Aneh, memang. Terlalu banyak kudengar cerita-cerita ganjil demikian, namun terlalu banyak juga cerita-cerita sukses para alumninya, lulusan STSRI/ASRI Yogyakarta.

Bila kini bekas kampus itu telah berubah menjadi sebuah museum, apa yang bisa kita dapat dari sana? Entah, aku tak bisa berandai-andai. Datang kelewat malam, aku tak sempat mengintip seperti apa sebenarnya isi dan bentuk museum itu. Yang kutahu dan kurasakan, malam itu terdapat kemeriahan. Para blogger dan pengguna internet yang tergabung dalam berbagai komunitas (dari berbagai kota) sedang kumpul, pesta, bersenang-senang.

Dan, beberapa peristiwa yang terjadi malam itu dan masih terngiang-ngiang di benakku hanyalah masih terasanya kesan artifisial pada keramaian malam itu. Ada pementasan tari-tarian (Jawa, Bali, Aceh dan Nusa Tenggara Timur), musik lesung Jawa, juga pembagian satu bibit pohon mangga untuk sejumlah komunitas online, sebagai bentuk kepedulian kaum netter terhadap lingkungan.

Tarinya bergaya Bali, tapi lengannya gedhi-gedhi. hihihi..... (tapi asyik, kok)

Tarinya bergaya Bali, tapi lengannya gedhi-gedhi. hihihi..... (tapi asyik, kok)

Apa yang bisa didapat dari seremoni demikian?

Kalau yang kudapat sudah sangat jelas: kenang-kenangan berupa sebuah pulpen, bros atau pin Pesta Blogger, sepincuk nasi brongkos, dan bibit pohon mangga. Saya lupa bertanya, apakah teman-teman netter itu sudah ada yang melakukan gerakan penghijauan yang massif, atau punya komitmen akan mewujudkannya.

Karena aku, yang mewakili Komunitas Bengawan disodori surat kontrak yang harus ditandatangani, maka yang bisa aku janjikan adalah akan menanamnya. Dimana dan kapannya, masih perlu dicarikan permufakatan. Termasuk, siapa yang nantinya akan membuat catatan atas perkembangan pohon itu tiap empat bulan sekali, dan melaporkannya ke… (mana ya? kok aku lupa, sih?)

Oh, iya, ada yang hampir lupa. Aku akan ingat terus nasihat NdoroKangkung agar aku menjadi orang baik sepulang dari Yogya. “Aja nyopèt, ya….”

Sendika dhawuh, Ndoro…

Btw, selamat kepada Cahandong, Iman Brotoseno dan seluruh panitia PestaBlogger atas kesuksesan acara di Yogya. Semoga sukses pula yang di Jakarta. Aku harap teman-teman turut mendukung gerakan menuntut revisi UU ITE oleh parlemen baru nanti.

Ngrembakané copèt, dakkira ana gandhèng-cenèngé karo laku tirakat. Wong-wong sing seneng kungkum, semèdi lan sapnunggalané klebu targèt operasiné para copèt.

24 thoughts on “Jangan Nyopet, Ya…

  1. emang rame tenan kayaknya ya.. bagaimana dengan puncaknyaaa!! jeng jeng jeng!! 😀

    puncaknya pasti lebih rame! wong registrasinya saja 50 ribu, mosok panitia tidak berusaha menjadikan pestanya lebih meriah… berani taruhan, pasti rame!
    /blt/

  2. gadis kecil itu juga blogger, sekaligus penyiar dan MC hihi..
    btw, makasih pakde blonty sudah datang, dan makasih juga telah menampilkan foto saya 😀

    sama-sama ya, Alle…
    /blt/

  3. lha sampeyan yg di jakarta rawuh ga? 😛

    kalau berangkat bayar sendiri, sepertinya tidak bisa. tanggalnya serem. hehehe… tapi kalau pakai fasilitas 5 free ticket dari panitia PB, tergantung keputusan anggota komunitas.

    semoga sukses saja, deh… kudoakan dari jauh.
    /blt/

  4. Lha sidane mulihe numpak apa jam wayah semono? Nek mbengi sisan ana bis kang menyang jawa timuran, to? Sukmben Prameks-e muga2 ana sing wayah wengi, kaya KRL jabotabek, jam 22.00-an. 🙂

    sidane numpak bis Surabaya-nan, Kang. muga-muga, besok-besok ada kereta malam yang melayani rute Solo-Yogya
    /blt/

  5. waw waw waw acaranya rame sekali…
    berhubung driiu wong ndeso, katrok gak tau event kaya gini
    jadi gak bisa gabung, hehehe

    salam kenal

    aku juga ndeso, tapi datang. agak canggung, tapi lumayan asyik. salam kembali Kang Slams… sampeyan ini yang tampil di RotiFresh kemarin, kan?
    /blt/

  6. itu yg di foto saat kedubes nyerahin buku yg cewek kecil disebelah kirinya itu blogger juga pak 🙂

    karena acaranya Pesta Blogger, maka kita mesti yakin kalau dia juga blogger, dong…
    /blt/

  7. zam

    cerita sejarahnya MUANTAB!

    jadi inget hiburan “pesulap” yg suka ngerjai penonton karena lihai mengambil barang penonton tanpa diketaui oleh si korban.. he he he..

    pas nonton, awakmu ora kelangan to, Kang?
    /blt/

  8. Soal pohon, memang kudu jelas pemantauan dan pelaporannya.
    Soal jangan nyopet, itu kan nasihat bijak dari orang insyaf.
    Soal seniman, ada lho yang dulunya tukang bongkar kuburan Cina (mengambili perhiasan).
    Bagaimana kalau kita mementaskan pantomim “Blogger Nyopet Blogger”, Ki Patih?

    Soal pohon, aku jadi ingat Instalasi Tumbuh-nya Kang Tisna Sanjaya. Emang, Ndoro itu pensiunan yang insyaf?

    Seniman penggali kuburan Cina? aha… jangan-jangan sama orangnya :p Wah, sasmita penjan emang hebat… Kangen aku, sampai gela begitu tahu penjan gak jadi rawuh di acara semalam.
    /blt/

  9. wah pakde rajin sekali, subuh2 dah bikin laporan Pesta Blogger kemaren 😀
    (masih ngucek2 mata krn banyak minum kopi darat habis pesta)

    rajin gimana, wong gak bisa tidur, kok…
    /blt/

  10. aku blm foto sm pakde blonty, gara2 musti mlayu2 sepjg acara T_T

    Kok ga liat pulangnya tho? Pdhl arep disanguni ns jenggo.

    piye ta, Memeth-nya dimana? orang abis pada jogetan gak kelihatan, kok. tapi aku nitip pesen dipamitin via To-Bil, kok
    /blt/

  11. Yang jelas, duit 10ribu tadi bukan hasil nyopet, tapi nemu.
    Oya, duit tadi terpaksa saya pinjam untuk bayar nasi soto, hehe. Tolong diingatkan, siapa tahu saya lupa dan khilaf

    lha mbok tadi dikasihkan tukang becake wae…
    /blt/

Leave a Reply