Kartu Nama untuk Yeyen

Tersebutlah nama Yeyen di keremangan jagad Kota Surakarta. Ya, konon Yeyen merupakan idaman semua orang. Ada yang menjulukinya gemati alias penyayang, ada yang menjulukinya perempuan trampil trengginas. Usianya, konon kelewat muda dibanding teman-teman seasramanya, sebuah motel kuno yang terletak di tengah sebuah perkampungan.

Banyak orang datang kepadanya, bahkan pelanggan setianya datang dari luar kota. Ada yang harus menyediakan waktu semalam berkereta eksekutif, ada pula yang rela menempuh satu setengah jam perjalanan dengan mengendarai mobil pribadi. Tak mahal untuk ukuran beberapa pelanggan setia, yang berpendapatan bulanan layaknya kontraktor bangunan kelas C di Surakarta.

Tarif yang kudengar dari bisik-bisik mereka, hanya sepertiga dari sejawat Yeyen yang bekerja dalam sebuah sindikasi akuarium berlampu terang.

Si A dari Kota Z, misalnya, menyebut Yeyen punya totalitas berbeda dengan kebanyakan perempuan yang pernah dikencaninya. “Dia akan memanggilmu Den bila memberi lebih, dan akan takzim menyebutmu Ndoro bila engkau melebihi lima puluh ribu saja dari tarifnya,” ujar A.

Si B lain lagi menjuluki Yeyen. Katanya, dia jagoan (eh, betinaan) mandi kucing. “Ia sanggup dan rela menjadi kucing, memandikan kamu dengan lidahnya,” ujar Si B.

Si D dan Si E pasti punya impresi lain lagi. Subyektifitas selalu melekat dalam diri mereka, yang kebetulan berprofesi nyari sama: s.e.n.i.m.a.n! Maka, idiom yang dilekatkan untuk Yeyen pun tak bakal jauh menyimpang dari istilah-istilah seni.

Di kalangan mereka, malah ada julukan atau sandi khusus yang diambil dari tokoh dalam novel Romo YB Mangunwijaya. Lusi Lindri dilekatkan pada perempuan berusia lebih dari 35 tahun, yang entah apa nama sebenarnya.

Pernah, suau ketika, Yeyen tertimpa musibah. Seorang pelanggannya tewas di dalam mobil pribadinya, tak lama seusai berkencan dengannya. Yeyen masih di kamar saat ditinggalkan lelaki setengah baya itu. Polisi lantas memeriksa Yeyen, sebab nomor teleponnya belum hilang dari call lists di telepon genggam lelaki bejat nan malang itu.

Akibat kasus itu, kabarnya Yeyen sempat menghilang dari asrama. Kabarnya, ia ngengleng, menjadi tidak waras lantaran diperas hingga belasan juta rupiah, lalu ia pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur sana. Anehnya, mungkin juga karena seniman suka bermain-main dengan mood dan rasa, ada saja gagasan mewujudkan keprihatinan yang diwujudkan dalam semangat solidaritas.

Seorang dari komunitas pelanggan, mencari alamat dan mendatangi rumahnya dan menyerahkan sejumlah uang patungan sebagai tali asih dan bentuk perhatian. Mungkin saja tulus, meski juga tak mustahil hal itu didorong oleh semangat kehilangan. Kehilangan seseorang yang bisa dengan rela dan ringan memanggil Ndoro atau Den di depan nama-nama lelaki yang ndilalah tak pernah menyamarkan namanya.

Di antara para pelanggan, kata si empunya cerita, ada seniman kondang hingga mancanegara, yang karena kelewat terpesona oleh kegematian Yeyen, ia sampai menyerahkan secarik kartu nama seusai ‘olah rasa’.

Teman-temannya menduga, cara meninggalkan kartu nama itu dimaksudkan, agar Yeyen bisa menjadikannya sebagai bekal bercerita kepada para tetangganya di kampung halamannya. Agar tak ketahuan menjalani profesi purba (dan nista bagi sebagian orang) di Kota Surakarta, karenanya bisa ia berteman dengan seniman besar Indonesia. Entah, kepada tetangganya, Yeyen mengaku berprofesi sebagai apa di kota.

Dunia seniman memang aneh. Kadang sulit dipahami, kalau kita tak pandai-pandai memaklumi.

16 thoughts on “Kartu Nama untuk Yeyen

  1. Ajaib. Menyentuh. Mampukah kita memilah privasi dan hipokrisi dalam urusan tertentu bersama guyub komunal. Mmmm kartu nama blogger ada di Yeyen jugakah? 😉

    semoga ada blogger yang menyerahkannya langsung, Man… :p
    /blt/

  2. “Di antara para pelanggan, kata si empunya cerita, ada seniman kondang hingga mancanegara, yang karena kelewat terpesona oleh kegematian Yeyen, ia sampai menyerahkan secarik kartu nama seusai ‘olah rasa’.”

    ehhhmmmm, kira-kira ada kartu nama juru photo be’el’te sing kondhang kaloka ampe mBandung kae ora ya..?!!!

    hmmm, jelas bukan, deh…
    /blt/

  3. Saya baca posting ini sembari membayangkan Yeyen yang sering muncul di tv, memang hot sekali. Kabarnya dia juga dari Sala, hehe

    TV cap apa, acara apa, jam pira? aku malah ora ngerti, je…
    /blt/

Leave a Reply