Teroris dan Pengalihan Isu

Noordin M Top tewas diberondong timah panas dalam penyergapan di Solo. Dalam tiga pekan kemudian, Saefudin Zuhri juga menemui ajal, ketika di Ciputat, berhadapan dengan anggota Dentasemen Khusus (Densus) 88/Markas Besar Polri, yang memburunya. Seorang demi seorang anggota jaringan teroris berhasil ditumpas.

Namun, di balik kesuksesan polisi untuk menciptakan ketentraman itu, selalu saja muncul sinisme dari berbagai kalangan, tak terkecuali saya. Saat penggerebekan Noordin yang gagal di Temanggung, misalnya, spekulasi mengarah pada tuduhan oleh banyak orang akan adanya upaya pengalihan isu.

Pernyataan dalam konferensi pers Presiden SBY beberapa saat usai peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, yang semula diniatkan sebagai bukti betapa responsifnya aparat negara dalam mengindentifikasi teroris, justru menjadi bumerang. Foto SBY sebagai sasaran tembak dalam latihan kemiliteran para teroris yang ditunjukkan saat jumpa pers, ternyata temuan usang.

Spekulasi, yang boleh jadi dilancarkan lawan-lawan politik SBY, secara kebetulan memperoleh momentum yang pas. Apalagi, sengketa mengenai perolehan suara tiga pasangan calon presiden/wakil presiden sedang berada pada saat-saat kritis. Dua pecundang mengeroyok pemenang, menggunakan isu-isu kecurangan penghitungan suara untuk menyerang.

Lagi-lagi, terdapat kebetulan yang sama. Saat penggerebekan tersangka teroris di Solo, pertengahan September lalu, juga sedang terjadi banyak kasus besar yang menuntut transparansi penyelesaian. Soal cicak lawan buaya, tarik-menarik elit politik memperebutkan posisi kunci dalam jabatan-jabatan kenegaraan, hampir pasti menarik perhatian media untuk menempatkannya sebagai isu-isu utama.

Pengalihan isu? Begitulah sebutan serampangan dalam rangka memuaskan nafsu menjatuhkan lawan (poitik) bagi yang berkepentingan.

Termasuk penggerebekan Safudin Zuhri atau yang populer dengan sebutan inisial SJ, misalnya, spekulasi lantas diarahkan sebagai upaya meredam isu pemeriksaan Komjen Susno Duaji dalam kaitan kisruh skandal bail out Bank Century. Kita tahu, banyak pihak masih menganggap pemeriksaan internal oleh Mabes Polri tak memuaskan prasangka atau dugaan banyak orang. Apalagi, penonaktifan dua petinggi KPK dianggap berlebihan, bahkan memunculkan sinyalemen tindakan itu sebagai upaya sistematis usaha-usaha pemberantasan korupsi.

Tentu, tak bijak pula kalau sebagian dari bangsa ini masih terus-menerus menyebut usaha polisi mencokok para anggota jaringan teroris sebagai upaya pengalihan isu semata.

Mengapa selalu muncul tuduhan-tuduhan miring demikian, saya rasa akan lebih menarik kalau para elit politik dan pemimpin negeri ini becermin, apakah selama ini mereka sudah bersaing secara sehat, fair dan gentle. Tarik-ulur posisi politik yang bermuara pada pembagian kekuasaan dan potensi ekonomi yang mengikuti kelompok yang bersengketa, hanya berakibat munculnya apatisme dalam masyarakat.

Prestasi pemberantasan korupsi oleh KPK, misalnya, sudah memberi efek bagi sebagian pelaku usaha (negara dan swasta) dan pejabat negara/daerah menjadi lebih hati-hati bertindak. Namun, untuk soal-soal yang melibatkan politisi, nyatanya masih terasa jauh panggang dari api.

Sering saya bermimpi, kapan para penjarah uang rakyat, para politisi dengan perilaku menyimpang karena menggunakan power-nya untuk keuntungan diri dan kelompoknya, serta para koruptor itu juga dicap sebagai teroris, ya?

Ingin sekali-sekali bisa liputan Densus 88/Antiteror menggerebek rumah kontrakan seorang koruptor yang telah menyengsarakan rakyat. Apalagi, kalau sang koruptor itu militan, lalu menantang tembak-tembakan, tapi berakhir menggembirakan: para koruptor dibungkus kantong kuning, dimasukkan ke mobil ambulans untuk dicocokkan sidik jari dan DNA-nya untuk memastikan kebenarannya.

11 thoughts on “Teroris dan Pengalihan Isu

  1. raden mas jemblung

    Mohon re-check, IMHO: yang Syaifudin Zuhri (menggarap pengantin Marriot2, ex. Telaga Kahuripan, adik Syahrir) sudah is dead kemarin,
    yang Syaifudin Jaelani (Ex Cilacap, mertua NMT) masih DPO. Betul demikian bro??

    PS: pancen aku jemblung, bobotku 105 kg

    soal nama, agak membingungkan, memang. tapi untuk sementara aku menulis SJ dengan Syaifudin Zuhri, kakak Syahrir yang kemarin mati dalam penyergapan di Ciputat. Ada yang menyebutnya Syaifudin Jaelani. untuk sementara, saya menyamakan penyebutan dengan versi Tempointeraktif saja dululah…

    orang Cilacap yang masih DPO, seingatku namanya bukan itu… segera ku-update kalau sudah kutemukan. hehehe…….
    /blt/

  2. wah, mungkin asik juga ya kalo ada team khusus dari polri untuk menangani khasus korupsi di negeri ini. jadi gag hanya tertangkap, disidang, penjara, masa tahanan habis, trus korupsi lagi. melainkan tertangkap, sidang, tembak mati. biar menjadi shock terapi buat para tikus2 got ..

    hehe ..

  3. Mengutip kata-kata seorang teman, “Pengkhianatan Elit” selalu terjadi hampir di setiap sektor, bidang dan kelompok. Dan ini terjadi di negara, kelompok manapun. Pun halnya dengan negeri ini. Dan selalu saja rakyat, bawahan, ataupun anggotanya yang jadi korban. Harus menanggung sengsara atas perbuatan segelintir orang. Apakah kita harus selalu ‘ngemong’ para elit tersebut? Atau kita harus berbuat sesuatu? Pastinya mari kita bertindak untuk membersihkan pengkhianat-pengkhianat tersebut sesuai dengan profesi kita masing-masing. Yang seneng menulis ya dengan menulis, yang seneng pentas ya dengan pentas, yang seneng motret ya dengan foto-fotonya, yang senang menyebar isu ya dengan isu-isunya, yang senang merampok yang dengan merampoknya, dan lain sebagainya. Yang penting tujuan kita samalah. Membersihkan pengkhianat-pengkhianat bangsa. Oh iya kang…. Apakah kedatangan Maria Ozawa juga pengalihan isu ya kang? hehehehe…

  4. hemm lagi lagi saya teringat akan cerita keledai, anak kecil, dan bapak dalam perjalan yg jauh 🙂
    saat anak kecil naik keledai terus bapak jalan, orang2 teriak dasar anak gak tau diri orang tua suruh jalan kaki
    berlanjutlah perjalanannya dg sibapak naik keledai dan si anak jalan kaki, orang2 teriak dasar bapak gak tau diri anak kecil suruh jalan kaki
    kemudia demi keadilan, mereka berdua naik keledai semua, orang2 itu masih teriak, dasar kalian ini tak berkrimanusian, udah tau keledai itu kecil dinaikin 2 orang.
    kemudian berlanjutlah mereka berdua si bapak dan sianak jalan kaki dan keledai jalan di sampingnya, orang2 itu juga masih teriak dasar kalian bodoh, ada keledai kenapa gak di manfaatin.

    ahhh begitulah negeri ini, sedikit sedikit selalu berprasangka, pengalihan isu kek, ini itu kek. yuk ah di patenkan tradisi berprasangka sebelum di patenkan oleh negara tetangga. 🙂

  5. kalo korupsi mah masih bs ketawa-ketiwi, mas waktu ditangkap. kayak artis lagaknya.

    maklum, Ris. mimpinya memang jadi artis. jangan-jangan, yang ada di benak mereka adalah dapat kontrak jadi pemeran utama sinetron yang mengangkat tema kisah nyata mereka. hahaha….. namanya juga wong keblinger, sulit dimengerti.
    /blt/

  6. paling apik alinea terakhir kuwi… tapi, kaya-kayane kuwi hil yang mustahal kang!

    lha ya, itu… kenapa tidak dicoba? wong memburu, memenjarakan atau membunuh teroris, baik yang tukang meledakkan gedung, membunuh orang tak berdosa dan menjarah duit rakyat, bakal memperoleh pahala dan bisa masuk surga kok. hehe…
    /blt/

  7. semoga SBY juga membaca tulisan ini.. :mrgreen:

    setiap saya baca tulisan pak blontank ini saya lebih cenderung pak blontak ini saya ajukan sebagia pengawas atau dewan pertimbangan kebijakan pemerintah… andai saja banyak orang spt pak blontank di indonesia pastilah indonesia bisa jadi negara…..

    Pak SBY gak punya waktu… lagi sibuk tawar-menawar calon menteri dengan para elit politik. hehehe….. doakan aku sampai istana, saya sudah siap kok jadi tukang ngepel di sana.
    /blt/

  8. sejak dulu, di negara manapun, termasuk indonesia, sudah sering dibuat issue2 lain untuk distract masyarakat. berharap rakyatnya lupa akan apa yg sebenarnya menjadi prioritas utama masalah yg harus diselesaikan.

    semoga kasus yg laen jg tetep dituntaskan pak. kalau engga, ya mbebayani rakyat.

    semoga para pejabat dan elit politik kita segera kulakan goodwill. memang agak mahal, makanya tak terjangkau, walau oleh presiden sekalipun…..
    /blt/

Leave a Reply