Iri Status Teman

Satria tahu, iri merupakan sifat yang dibenci Tuhan, karena itu manusia diperintah-Nya untuk menjauhi. Tak cuma membuat hati cacat lantaran tak pernah ikhlas, iri bisa membimbing seseorang bertindak di luar batas kewajaran. Banyak contoh esktrim. Seperti, suami bunuh diri lantaran merasa gagal tak sanggup melihat sang istri gagal bersaing dengan teman arisannya.

Tapi di Facebook, Satria sungguh iri pada teman-temannya. Bukan lantaran kalah kaya atau kalah banyak proyek. Dia cuma merasa statusnya sungguh jauh berbeda dengan yang dimiliki teman-temannya. Dia ingin tahu keadaan sesungguhnya, tapi tak kunjung kesampaian. Teman-temannya sudah berpindah mukim. Ada yang hijrah Jakarta, Singapura, bahkan Kanada.

Memang, kini ia senang bisa berjumpa teman-temannya melalui Facebook. Semua dicarinya lewat handphone yang teknologinya sudah ramah untuk Facebook-an. Tinggal di desa, membuatnya terasing dari teknologi. Email, misalnya, dibuatnya lewat handphone yang dibawa anaknya saat mudik lebaran, setelah dua tahun tak pulang mengadu nasib di Taiwan.

Sang anak merasa perlu mengajari sang bapak menggunakan email, lantas Facebook, semata-mata untuk melepas rindu atau menanyakan keadaan keluarga setelah ia menjalani hari-hari sebagai TKI sekembalinya di Taiwan lagi, nanti. Lumayan, Satria yang usianya sudah berkepala lima, masih bisa mengoptimalkan fungsi dan memenuhi hasrat  ingin tahunya.

Singkat kata, Satria bisa menggunakan fasilitas search di Facebook, hingga ia menemukan kembali teman-teman lamanya. Maklum, menjalani hari-hari sebagai pembuat tempe di desa, membuatnya tenggelam dalam rutinitas yang luar biasa padat. Satria nyaris tak punya waktu untuk bepergian. Informasi atas perkembangan teman-temannya, pun tak terpantau lagi.

Dullah, misalnya, ditemukannya kembali di Facebook. Teman sebangku saat SD dulu, diketahuinya sukses menjadi ahli minyak selepas kuliah di ITB. Maka, statusnya pun sering berubah seiring pergantian pekan. Pekan pertama ia menuliskan statusnya @Dubai, berikutnya diganti @KL.

Sedang Amir, teman semasa SMA, mengabarkan lewat pesan di Facebook-nya, bahwa ia sudah sukses menjadi pengusaha di Jakarta. Maka, statusnya pun jadi lebih sering berubah dibanding Dullah. Siang hari Amir menuliskan @Marriot, sorenya bisa berubah jadi meeting@office, yang beberapa jam kemudian lantas berubah menjadi @Starbucks atau @mall atau relax@Ancol.

Bagi Satria, yang hanya sekali-dua dalam setahun menginjakkan kakinya di Jakarta saat kangen cucu dari anak pertamanya, kian bingung. Ia tahu, Jakarta sangat padat dan macet, tapi Amir bisa seenak itu hidupnya, seperti terlihat dari status-statusnya di Facebook. Begitu juga Dullah, yang bisa kemana-mana, tanpa sekalipun mengeluh kelelahan.

Sementara Satria, terpaksa mengakrabi Facebook dan email agar mudah bertukar kabar dengan anaknya yang berada di Taiwan, daripada boros telpon-telponan.

Berhubung tinggal di desa, waktunya dirampok habis-habisan oleh proses pembuatan tempe, ia merasa tak leluasa bercerita melalui Facebook-nya. Maka ia hanya mengenal dua jenis saja. Pada pagi hingga sore hari, ia menuliskan statusnya dengan @pabrik dan bila senja tiba, ia menggantinya dengan @yahoo.com.

Rupanya, bukan tanpa maksud ia konsisten menggunakan kedua status tersebut. Ketika berstatus @pabrik, itu berarti isyarat agar teman-temannya tidak menghubungi, karena Satria sedang sibuk bekerja. Giliran malam hari, ia membebaskan teman-temannya menghubungi, atau ingin bertemu dengannya.

Namun, belakangan ia kecewa. Sudah sebulan, tak ada teman yang mau bertandang ke rumahnya, atau bertegur sapa lewat Facebook. Gara-gara memasang status @yahoo.com di luar jam kerja, nyaris semua temannya lebih suka mengirim kabar kepadanya lewat email. Tak banyak yang bertukar cerita lewat emailnya, namun hanya menanyakan kabar, yang bahkan terkesan basa-basi semata. Ada yang cuma menulis: sedang apa, Satria? Ada pula yang hanya memberitahukan kabarnya dengan kalimat: kami sekeluarga sehat-sehat saja. Kamu gimana?

Satria lupa, sikapnya enggan dikontak pada jam kerja berbuah tak baik baginya. Orang seperti Dullah, sering berada di kota, dimana siang dan malamnya berbeda dengan waktu Indonesia. Sedang Amir, yang pengusaha, tak jaran menjadikan siang untuk beristirahat, dan bekerja pada malam harinya.

Handphone, memang sempat membahagiakan Satria, karena berhasil mempertemukan dia dengan teman-teman lamanya. Kini, ia ingin membuang telepon genggam itu, sebab teman-temannya mulai enggan menyapa. Satu alasan yang bisa mengurungkan niatnya hanya ketakutannya, tak bisa berhubungan kembali dengan anaknya, yang bekerja sebagai paramedis di sebuah rumah sakit di Taiwan.

14 thoughts on “Iri Status Teman

  1. 7.00 AM @ TVOne watching Kabar Pagiii
    6.00 PM @ MetroTV watching Breaking News

    12.00 AM @ both of this TV, nonton Bang Ical ama Bang Paloh berbaju kuning, sambil pesbukan ampe jam 4.00AM…
    Njuk kapan micek e dulll…! :))

  2. gunawan raharjo

    maksudku yo ngene iki..simpel..personal…soei aku durung iso nulis akeh…bukane sibuk..raaak..mung nulis wis angil men nggo aku…

Leave a Reply