Marinir bukan TNI?

Andai tak punya akun di Facebook, mungkin saya jadi gila, hari ini. Maunya ingin tahu perkembangan terkini dampak gempa di Padang dan sekitarnya, namun yang saya dapat justru ‘insert-insert’ tak berguna. Ya, insert yang saya maksud tak lain adalah sajian tak penting, namun kerap hadir. Kebetulan, semua itu saya jumpai di MetroTV.

Saya tak keluar rumah seharian, Minggu (4/10). Setengah harinya, saya menyimak perkembangan penanganan korban gempa Sumatera Barat melalui MetroTV. Jangan ditanya kenapa saya memilih saluran milik Surya Paloh itu, karena saya akan berdalih TV One tak ada di saluran Indovision (padahal, kalaupun ada, saya juga belum tentu menontonnya, kecuali sedang butuh ‘hiburan spesial’ seperti ketika tersangka teroris disebut wafat, bukan tewas, tempo hari).

Kelucuan-kelucuan jenis demikianlah yang memang saya sukai. Dan, hari Minggu ini, saya benar-benar dipuaskan oleh MetroTV. Dari kemarin hingga siang tadi, misalnya, saya saksikan tayangan menggemaskan, yang ikut mengisi jeda untuk iklan dari rangkaian pemberitaan gempa.

Iklan unik itu tak lain adalah pernyataan Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Barat yang meneriakkan dukungannya kepada Surya Paloh untuk memimpin partai. Kalaupun tak ada etika yang dilanggar, yang masih menggelitik saya adalah bagaimana perasaan sanak-saudara sang Ketua DPD, seandainya mereka juga tinggal di tenda pengungsian karena rumahnya diratakan oleh gempa, dan menyaksikan kerabatnya berkampanye di televisi.

Hiburan spesial lain yang saya dapat dari MetroTV adalah ketika menjelang pukul 17, sebuah breaking news menampilkan proses evakuasi seorang warga Singapura dari reruntuhan bangunan. Dari narasi yang saya dengar, ada yang ganjil disebutkan, bahwa upaya penyelamatan itu dilakukan oleh TNI dan Marinir.

Coba jelaskan kepada saya, sejak kapan Marinir bukan lagi bagian dari TNI, Tentara Nasional Indonesia?

Sebelum TNI dan Marinir, juga ada tayangan yang tak kalah menggelikan. Sungguh, saya sangat suka itu, meski harus menangisi, betapa abainya bangsa ini terhadap bahasanya sendiri. Coba Anda ingat-ingat, mungkin saat itu sedang menyaksikan tayangan yang sama.

Dalam tayangan upaya evakuasi Sari dari reruntuhan gedung kampus yang menimbun dia dan teman-temannya, ada narasi bagus sekali. Sari, dikabarkan sudah 40 jam tertimbun reruntuhan, namun selamat. Di layar televisi juga gamblang terlihat, Sari masih bisa menggerakkan anggauta badan. Dinyatakan,

….Sari adalah seorang korban perempuan berusia dua puluh satu tahun…

Kita, sebagai bangsa yang punya ‘stok’ maklum tebanyak di dunia, mungkin akan berkilah, “Ah, itu salah ucap saja. Mungkin karena reportelnya capek, sudah berhari-hari liputan. Jadi, tak ada unsur kesengajaan.” Well, OK kalau itu kekeliruan tanpa disengaja. Tapi, kira-kira bagaimana bila narasi tersebut ditayangkan dalam siaran bahasa Inggrisnya MetroTV: apakah Sari juga akan disebut sebagai a victim dari 21 years old woman? Kalau iya, kenapa perempuan berusia 21 tahun itu menjadikan Sari sebagai korban, dengan cara apa dia mengorbankan Sari? Dengan menggoyang-goyangkan gedung hingga runtuh menimbun mereka?

(Sari, rasanya ‘pantas’ jadi victim kalau si 21 years old woman itu berbuat sesuatu atas dia. Sementara dalam konteks gempa, Sari merupakan seorang survivor. updated: Oct 4, 2009 10:31 pm)

Sebagai penonton luar biasa, saya hanya berharap manajemen stasiun televisi kita berbenah. Lebih baik meng-grounded reporter-presenter yang (maaf) RAM-nya dan storage-nya terbatas. Dalam istilah blogger seperti saya, kalau perlu buang saja semua reporter-presenter yang http://404, yang lemot, atau dalam klasifikasi maybe disk full.

Seorang teman menyodorkan komentar sangat bagus di Facebook saya. Dia menyebut, mungkin kesalahan itu berawal dari proses penerimaan karyawan yang lebih mengedepankan bahasa Inggris dan dibuktikan dengan TOEFL. Bahasa Indonesia diabaikan, bahkan dianiaya secara semena-mena. Sesat nalar, sudah biasa. Maklum, kita kan bangsa penuh maklum…….

Di luar tayangan dodol, dimana orang terbaring kesakitan akibat tertimpa reruntuhan  masih juga ditanya “Sakit nggak, Pak? Apakah Bapak tahu bagian mana yang retak atau patah” dan sebagainya, satu yang mencemaskan hanyalah ketidaktahuan mereka akan banyak hal dalam jurnalisme.

Sekali sempat saya perhatikan, sebuah laporan dari Lanud Halim Perdanakusumah, sang reporter menyebut Mayor (Pnb) Ginting dengan pelafalan Mayor Penerbangan Ginting.

Hmmm… Saya jadi maklum (maaf, akhirnya saya harus menyatakan maklum juga). Mungkin, para reporter, presenter dan narator MetroTV tak pernah dibekali pengetahuan akan bahasa jurnalistik, apalagi diajarkan mengenai logika bahasa.

Semoga, para pengelola memanfaatkan Oktober sebagai bulan bahasa untuk melakukan inhose training tentang jurnalisme, dengan penekanan pada diksi dan logika bahasa untuk para jurnalisnya….. Sungguh saya malu, kalau sampai terjadi lagi penyebutan ngawur seperti pada narasi TNI dan Marinir itu.

Sebaiknya pula dikasih tahu, tuh reporter, bahwa TNI Angkatan Laut itu punya pasukan elit yang bernama Marinir, TNI Angkatan Darat punya Kopassus dan TNI Angkatan Udara punya Paskhas.

20 thoughts on “Marinir bukan TNI?

  1. Marinir buat saya memang bukan TNI, karena perilaku, kenetralan dan reputasi mereka beda dengan satuan-satuan TNI kebanyakan. Memang ini hiperbola, seperti Fakultas berdiri diluar Universitas karena memang beda atau fanatisme kelompok
    .-= Teddy Bara Iskandar´s last blog ..NO RE TOUCH =-.

  2. saya pernah denger di tayangan spesial mudik seorang reporter sebuah stasiun TV salahsebut nama stasiun KA. Blablabla.. Stasiun Pasar Senen. Bla.. blaa.. Stasiun Pasar Gambir(lho?)… Blablabla.. Stasiun Pasar Gubeng(lho?).. dikiranya semua nama stasiun berawalan “Pasar”..

    nah, kalo dia meliput dari stasiun semut surabaya, masa mau bilang Stasiun Pasar Semut?
    hehe..
    :mrgreen:

    yang kukenal akrab cuma dua: Stasiun Pasar Balapan dan Stasiun Pasar Purwosari. keduanya di Solo. hehehe…
    /blt/

  3. Padang Jambi dan sekitarnya memang lagi sedih,
    namun jangan perlebar kesedihan ini kepada kita yang paham akan Bahasa Indonesia beserta ornamen2 nya dari kekeliruan pihak person yang berprofesi sebagai penyebar berita itu sendiri gara-gara bahasa…

    Padang n sumatera butuh bantuan, namun para crew media pun juga musti sadar akan bantuan pengetahuan yang di tunjang oleh sarana kebutuhan training Product knowledge (termasuk juga wartawan photography lho…!, hihi)

    dan semoga cukup hanya dengan menekan tombol refreshing, ato separah parahnya ya recovery dari data yang telah ada…… Jangan sampai harus di FORMAT ULANG apalagi di install..!!!

    makasih

    hehehe… sakarep sampeyan lah, Kang Trie…
    /blt/

  4. Innez Adams

    Assa,
    saya salut dengan bapak yang sangat teliti, paham dan jelas mengingat setiap kata-kata, ucapan dan tayangan khusus tentang pemberitaan gempa bumi di Padang Sumbar dan ..tetapi menurut hemat dan pendapat saya mungkin itu hanya kesalahan manusia (human error) yang mungkin juga mereka lakukan secara tidak sadar atau tanpa unsur kesengajaan apaupun/niat apapun kecuali ingin berbagi berita keseluruh penjuru negara ataupun lainnya..jadi rasanya saat ini tidaklah perlu kita terlalu membesarkan hal-hal seperti ini berlama-lama karena kemungkinan dapat menambah suasana hati kita masyarakat Indonesia Panas atapun beseteru hanya karena perbedaan pendapat. Bagaimana kalau sebaiknay kita saat ini lebih fokuskan kepada kejadian alam ini/derita ini dan berusaha membantu sebisa kita dan berupaya bersama-sama agar kita bersama-sama masyarakat dan Pemerintah dapat melakukan pemulihan dan perbaikan sesegera mungkin dan berusaha membantu sebisanya dan seikhlasnya untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang dalam kemalangan dan kita dapat bahas mengenai hal-hal ini berikutnya setelah negara kita tenang dan bencana telah teratasi…maaf atas komentar saya dan terimakasih.

    kita doakan, Padang segera pulih kembali, para korban segera sehat, tidak lama tinggal di tenda darurat. semoga rehabilitasi segera dilakukan dan selesai dengan baik untuk semuanya. amin
    /blt/

  5. Wah tiliti bener pak, td kalimat “….Sari adalah seorang korban perempuan berusia dua puluh satu tahun…”
    mpe saya baca 2 kali lho, baru bisa ngeh. iya kalimat itu diutak-atik make penjedaan gimanapun juga ga bisa pener.

    Wah kata2ku diatas bener gak ya Pak, wedi aku…wkwk…

    takutlah hanya pada Gusti Allah. hehehe…
    /blt/

  6. zam

    kalo gitu bikin stasiun TV sendiri saja, Ki.. BlontankTV.. hihihihi..

    reporternya harus bisa bahasa Jawa krama inggil yang baik dan benar.. 😀

    dongakna aku nembus buntutan, ben bisa gawe tipi dhewe….
    /blt/

  7. wah hebat anda bang…sangat menyimak setiap kata yg diucapkan para reporternya…saya salut sekali…he..he

    walah, cuma kebetulan kok. kebetulan dengar, kebetulan lagi mood untuk jengkel dan marah…
    /blt/

  8. Salah sebut atau salah ucap memang terlihat sepele, tapi sebenarnya amat penting.
    Bagi penyebut, hal tersebut untuk menyampaikan respek, dan bisa juga menandakan keluasan wawasan, serta menyimbolkan kedalaman penggunaan logika.

    Tapi ketika Anda sedang berada di sana, di tengah bencana yang sedang terjadi, itu semua sirna. Hal terpenting adalah menjadi pihak terdepan yang mengulurkan tangan.

    “Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”

  9. Haha, saya juga dengar narasi ‘tni dan marinir’ ini. Bahkan diucapkan 2x. Ini berarti, bukan hanya jurnalis di lapangan yang ceroboh, tapi redakturnya pun goblok kuadrat. Virus E**p ternyata telah menyebar lintas televisi rupanya.

    Don, hati-hati ya… kena pasal karetnya UU ITE plus KUHP, remuk bubuk, lho!
    /blt/

  10. Gak bisa bayangin kalo itu di zaman orba, apalagi kalau salah sebut Sat 81 Gultor atau Tontaipur yang dari AD ;P
    Ah, aku gak mau jadi jurnalis ah, dipantau Mas Blontank nantinya ;P

    jangan jadi jurnalis. kamu cukup pintar, cerdas dan berhati baik. itu tiga sifat yang dihindari kebanyakan industriawan media di Indonesia. cari profesi yang lain saja ya, Dik…
    /blt/

  11. Kalo ada berita bencana, paling sebel kalo ada yang tanya, “Bagaimana perasaan Anda?”

    kalau itu sih masih mendingan dibanding perntanyaan reporter terhadap narasumber, seseorang yang menunjuk sebuah tempat dimana anaknya tertimbun reruntuhan. dengan enteng, reporter menanyakan, apakah orang tersebut yakin bahwa yang tertimbun benar-benar anaknya.

    sulit bagi saya untuk menemukan kata yang cocok untuk orang semacam itu…
    /blt/

  12. freelancer

    Saya sepakat dengan kang blontank, reporternya perlu diupdate hardware ataupun softwarenya. Marai mules ndelok tayangan berita spt itu.

    Lain hal, saya juga heran dengan di tv-tv negeri ini sering menampilkan berita diiringi soundtrack layaknya tayangan videoklip, terutama berita tentang bencana atau duka.
    aku wes raiso nulis maneh, uakeh sing arep diomongke., mengko ndak akeh misuhe.

    Saran wae selain yg di atas td, mbok ya klo liputan bencana alam itu ada berita yang mendidik masyarakat, misal bagaimana cara bertahan hidup pasca bencana sebelum bantuan datang, bukan sebaliknya, televisi mendidik masyarakat untuk menggantungkan hidupnya dengan bantuan. Ini sangat penting terutama jika ada bencana lg, masyarakat tahu apa yang harus mereka lakukan.

    yang terlewat justru nalar kritis teman-teman di lapangan, sebab nyaris tak banyak yang menyoroti banyaknya atribut/logo dan sejenisnya, entah itu mewakili produk/perusahaan atau partai-partai…
    /blt/

  13. bahasa indonesia memang sulit, makanya lebih banyak yang suka bahasa inggris sekarang, lebih gamblang dan mudah, dan nggak ada yang ngejek 😀

    intinya, yang ngejek tak bisa berbahasa Inggris. ya, kan?
    /blt/

  14. wah….edyan…
    pak blontank teliti tenan ig……
    kudu ngati-ati ki yen jagongan karo pak blontank….

    ngati-ati iku kudu dadi prinsip urip. ora mung yen pas jagongan karo aku. hehehe…
    /blt/

  15. kj

    hahahah….. pengamatan yang mantap. ini akan saya gunakan sebagai bahan untuk buku saya ya mas? salamku

    silakan saja, Mas Kur. betapa kehormatan bagi saya… hehehe
    /blt/

Leave a Reply