Parkir Ngeri Stasiun Purwosari

Pagi itu, saya mengambil motor dari area parkir Stasiun Purwosari. Segera saja saya melenggang setelah tengok sana-sini sekejap, dan tak menjumpai petugas. Saya mengira bakal bertemu petugas jaga di pintu keluar, ternyata dugaan meleset. Ya sudah, saya melenggang setelah menyimpan secarik kertas yang saya beli seharga Rp 1.500.

ini bukti pembayaran kita boleh menginjakkan roda di kompleks Stasiun Purwosari, Solo

ini bukti pembayaran kita boleh menginjakkan roda di kompleks Stasiun Purwosari, Solo

Sesampai di rumah, saya memperhatikan kertas mahal itu. Rupanya, sayalah yang keliru. Ternyata bukan tanda parkir yang saya terima, melainkan semacam ‘ganti rugi’ karena ban sepeda motor saya telah menginjak kawasan yang menjadi otoritas pengelola Stasiun Purwosari. Ooohh… alangkah tololnya saya!

Pada kertas jenis CD itu terdapat tulisan mencolok dengan tinta berwarna kemerahan: Bea Masuk Halaman Stasiun Purwosari. Jadi, bukan sebagai tanda parkir.

Makanya, ketika menjumpai kalimat Kehilangan barang di kendaraan bukan tanggungan petugas di bagian bawah karcis itu, barulah saya kaget, namun sesaat kemudian mau tidak mau arus acung jempol pada manajemen Stasiun Purwosari. Salut akan kecerdasannya dalam menyusun kata-kata, meski berimplikasi hukum.

Andaikata sepeda motor saya raib dicuri orang pada Minggu (27/9) pagi itu, mungkin ceritanya akan menjadi rumit, dan bisa jadi, saya justru mungkin berada pada posisi pihak yang dipersalahkan. Anggap saja, sepeda motor saya hilang, lalu saya melaporkannya pada polisi (kebetulan, ada sebuah pos polisi di pintu masuk stasiun) dan menggugat penanggung jawab stasiun.

Sebagai tergugat, manajemen akan menunjuk pada teks yang tertera pada secarik kertas berukuran kecil itu. Tak ada bukti bahwa saya menitipkan sepeda motor di sana, apalagi di karcis itu tak ada nomor polisi sepeda motor yang saya kendarai. Kalau saya ngeyel, bisa-bisa saya dianggap mengaku-aku kehilangan sepeda motor, sementara karcis yang saya pegang hanyalah diperoleh tak sengaja di kompleks itu.

Berbeda misalnya dengan manajemen parkir di Stasiun Balapan. Di stasiun utama Kota Solo itu, karcis yang diberikan kepada setiap pengendara serba tercatat. Ada nomor polisi kendaraan bermotor yang dikendarai, juga tanggal dan jam hingga satuan detik saat tiket parkir dicetak. Dengan begitu, andai terjadi kehilangan dan sebagainya, pihak konsumen memiliki bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara legal.

Kalau mau berprasangka baik (siapa tahu ‘paranoid’ pada dosa. hahaha…), bisa saja orang menyebutnya sebagai kelalaian. Mau menyebutnya curang, pun tak bisa disalahkan sebab cara semacam itu sudah berlangsung tahunan. Nah, kalau mau ambil jalan tengah (sok-sokan bergaya win-win solution), saya mengusulkan sebuah istilah, orang yang menjadi penanggung jawab membuat keputusan bikin karcis itu tak bisa berbahasa Indonesia. Jadi, Stasiun Purwosari belum Bebas 3 Buta (B3B)!!!

Bagi alap-alap sepeda motor atau gerombolan sindikat pencuri, Stasiun Purwosari termasuk kategori paling aman untuk aksi para maling. Tukang skets alias orang yang membuat desain pencurian dalam mata rantai sindikat, akan sangat mudah membuat rekomendasi untuk eksekutor. Hanya saja, karena membuat desainnya sangat mudah, bisa jadi dia akan dikadali teman-temannya. Wong bikin skets-nya gampang kok mau minta bagian banyak…..

Begitulah, cerita dan andai-andai saya hari ini…… (eh, kalau saya nyinggung soal ‘tukang nggambar’, jangan menganggap saya kriminal, ya…..)

Melalui tulisan ini, saya berharap PT KAI Daop VI/Yogyakarta sebagai instansi yang membawahi Stasiun Purwosari segera berbenah diri. Meningkatkan standar pengamanan untuk menciptakan kenyamanan bagi pengguna jasa parkir.

Bagi Anda, saya sarankan untuk lebih berhati-hati. Bila Anda terbiasa menggunakan jasa Prameks dan memerlukan parkir kendaraan yang lebih aman, saya sarankan untuk memilih Stasiun Balapan. Dengan bukti surat yang kita miliki, kita bisa memiliki bukti sah dan kuat untuk mengajukan proses hukum, seandainya sial sedang menghampiri.

10 thoughts on “Parkir Ngeri Stasiun Purwosari

  1. wooo juan nggumun karo paningal sampean akun ki jane Pakdhe, dasar mata kulik hihihih, Nesu-Mulihhhh…..

    tak ndonga juga ach, muga-muga petugas yang berwenang menangani perparkiran ya melek matane njur kaya mata kulik kuwi mau.. (aja mung ijo nek pas weruh kertas gambar angka enole ana papat utawa lima)…
    Ningo aja keliwat kereaktip kaya tulisan nang gambar ndhuwur kuwi lho Pakdhe, sampean meh melu ndonga ora..? 🙂

    kulik-mu! manuk bintit! hahaha…
    /blt/

  2. balapan memang lebih nyaman, mas. tapi saya pernah hampir kehilangan helm di sana. untung para petugas mau ikut mencari. ternyata helm saya “nyangkut” di speda motor lain yg cukup jauh jaraknya dg lokasi motor saya. entah knp bs begitu.

    ilang helm masih mending, Ris… apa jadinya bila orang kaya kita ini kehilangan sepeda motor? masa saya harus ke warnet jalan kaki?
    /blt/

  3. fathan

    kekekekekeke, peluang untuk buka jasa penitipan sepeda motor. tapi bagi pengguna motor yg ke stasiun purwosari bakal kena dua kali biaya. Bea masuk kawasan stasiun dan penitipan. Waah jangan2 postingan ini jadi inspirasi sunparking setelah berhasil dapat hak pengelolaan balaikota.

    btw, apa sih dasarnya stasiun ini mengutip bea untuk masuk kawasan stasiun ya?

    sebagai warga negara Indonesia, mestinya pakai dasar Pancasila dan UUD 1945. menurut sampeyan apa?
    /blt/

Leave a Reply