Maem Tit**

Keluarga Totot sedang berkumpul. Kebetulan, tiga dari lima bersaudara Totot berprofesi yang berkaitan dengan kerja-kerja seni. Ada perupa, videografer dan penari, yang sama-sama gemar mengapresiasi karya-karya seni. Termasuk malam itu, tiga bersaudara yang jarang bertemu itu melanjutkan obrolan kangen-kangenan sembari memutar video.

Di ruang tengah, mereka menghadap sebuah televisi plasma berlayar lebar. Anak-anak mereka, yang sudah kecapekan bermain seharian, terdengar berlarian mengarah ke kamar tidur. Para lelaki penikmat seni itu lantas berdiskusi sambil menyantap roti dan kopi.

“Bagus, penjiwaan si perempuan cukup sempurna!” ujar Didit, orang termuda di antara tiga.

Totot menyergah, membantah sang adik. “Ngakunya jagoan kamera video… Cuma begituan, kok dianggap bagus? Kami perhatikan framing-nya sajalah, tak usah komentar ekspresi!”

Didot, lelaki tertua di situ hanya terkekeh melihat kedua adiknya bertengkar. “Wis, lah! Selera estetis kalian itu berbeda. Kalau Totot jelas jagonya, wong kalau njoget Karonsih *) dibela-belain mbathi (ngelaba) nyium pasangannya. Sukanya memanfaatkan kesempatan!”

Totot tersipu, hendak menyanggah ledekan kakaknya, tapi tiba-tiba dari ruang belakang, istri Totot menyela. “Kalian itu sudah pada tua kok tidak hati-hati! Tuh, ponakanmu rame di kamar!”

“Ada apa, to? Wong kami enak-enak gojegan kok dimarahi…,” ujar Totot.

“Tahu nggak, ponakanmu Adit itu ngomong-omong sama mbakyuné sehabis ngintip dari belakang kaca itu!” ujar istri Totot menunjuk kaca pembatas ruang di belakang mereka duduk. “Dia cerita, Mbak, aku tadi liat ada tante-tante jahat, deh. Dia maem titit. Tuh, lihat, kalau gak percaya. Papa masih nonton di tipi sama pakdhe-pakdhe. Liatin deh, Mbak….”

Totot bersaudara kaget. Bingung dan saling pandang. “Terus gimana ini caranya ngasih tahu anak-anak?” tanya Totot pada kakaknya.

“Makanya, kalau mau nyetel begituan mbok nunggu bocah-bocah sudah pada tidur!” ujar istri Totot sambil ngeloyor pergi, dan menggerutu.

*) Tari Karonsih merupakan tarian romantis, yang dibawakan oleh sepasang lelaki perempuan yang sedang berkasih-kasihan. Tarian ini termasuk sajian favorit dalam pesta-pesta pernikahan masyarakat Jawa.

**) Harap tidak menghubungkan tulisan ini dengan rencana kedatangan Jeng Maria ‘Miyabi’ Ozawa di Indonesia. Tak ada niat porno-pornoan. Tapi kalau mau godain orang-orang pornophobia, kutegaskan di sini, YA!

8 thoughts on “Maem Tit**

  1. Iki ana hubungane karo Miyabi wingi kae ora ta Pakdhe…?
    awas aja basa basi lho, masalahe basabasi bisabisu hihi :))LoL

    hush! iki gak ana hubungane karo Maria ‘Miyabi’ Ozawa. murni crita sak-critan. crit! wis…
    /blt/

  2. maem titit rasa apaan pak
    njrit baru denger kosakata ini setelah sarung titit

    gak tahu, wong aku juga cuma dengar ceritanya. mereka kan gak bisa nanya kepada yang maem…
    /blt/

  3. emange di telan sampe habis, lha… cilaka nu 😆

    memange sampai ditelan? kan belum tentu juga….. kadang kaya anak-anak juga, maem gak seberapa terus dilepeh maneh…
    /blt/

  4. Kalau Didot dan Didit berhubungan saudara masih bisa diterima karena nama mereka cuma beda di huruf vokal.
    Nah, Kalo Totot saudaranya pasti Titit berdasarkan analogi diatas.
    Saya cuma penasaran kenapa Totot tidak komplen saat saudaranya dimakan tante-tante ya???

Leave a Reply