Polantas itu Anomali

Seseorang menanggapi posting saya tentang curhat soal polisi. Posting berbahasa Jawa, itu ditanggapi dengan bahasa yang sama. Terjemahannya kira-kira begini: tidak semua polisi jelek. Tapi stigma polisi jelek sudah telanjur ada. Tapi memang kenyataannya masih banyak polisi yang bertindak sewenang-wenang, apalagi Polantas.

Saya pun tergelitik menanggapi. Pemilihan kata Polantas sebagai akronim dari Polisi Lalulintas, memang menunjukkan gejala bahasa yang aneh, menurut saya. Kalau menggunakan pendekatan ilmu othak-athik gathuk, maka kata polantas bisa disebut sasmita, perlambang. Perlambang akan munculnya dua perilaku yang bertolakbelakang.

Ia seharusnya menjadi penanggung jawab terciptanya kelancaran lalulintas, namun pada saat yang lain, bisa menjadi penyebab terganggunya kelancaran lalulintas, bahkan membahayakan pengguna jalan. Contohnya, seringnya mereka melakukan razia di tikungan yang memakan bahu jalan, seperti pada sejumlah lokasi ‘favorit’ di Solo: belakang Mangkunegaran, traffic light Sumber dan tikungan Pedaringan.

Menilik asal katanya saja, sudah tak wajar. Pol itu bahasa Jawa, padanan dalam bahasa Indonesianya mentok. Sedang lantas merupakan kata penghubung yang menunjukkan sesuatu sedang berlangsung, dan akan berlanjut. Katanya mentok, berakhir, kok terus?!?

Bagaimana kata pol dan lantas yang nyata-nyata ‘contradictio in terminis’ itu bisa menyatu, bersenyawa, bahkan enak didengar ketika dilafalkan? Kenapa pula ketika akronim itu diucapkan lantas yang muncul asosiasi yang bukan-bukan? Itulah yang disebut  a.n.o.m.a.l.i. Tak lazim, sebuah perkecualian, tapi harus ada. xixixixixix…..

(Sekali-sekali, jangan tanya betapa strategisnya institusi bersandi Zebra itu, ya……? Ora Ilok!)

12 thoughts on “Polantas itu Anomali

  1. ayu

    menurut ku sih masyarakat kita yg selalu buat kesalahan,,,,udah nyata dilarang kok tetap dilanggar…. contohnya tempatku…. udah pernah ditangkap tpi masih melanggar terus…..
    banyak betul yg melanggar….tapi kalo ditangkap slalu bilang polantas yg salah,kalo g ngelanggar kan g ditangkap…dasar manusianya az yg g tertib n disiplin….cobalah bercermin sendiri…jgn mengambing hitamkan org lain…..masyarakat kita memang susah utk disiplin..

  2. entah mengapa, menurut saya polantas itu harus ada.
    biar istilah TILANG itu tetap ada,
    biar mereka yang menganggap keren jika mampu melanggar lampu merah itu tetap bangga dengan dirinya, termasuk knalpot superbising lolos operasi.
    biar ada yang bisa kita bicarakan di blog2.. dan dihujat sama2..

    dan yang pasti biar tetap bisa dinamakan Indonesia.

    hahaha….. kok begitu, ya?
    /blt/

  3. apakah artinya eyd ndak begitu penting ?
    buktinya polantas yg menurut bahasa jauh dr arti sesungguhnya namun manusia tetep ngerti polantas itu polisi lalu lintas 🙂

    weleh, Kang. sampeyan kok serius banget, ta? padahal, aku menulis ini untuk lucu-lucuan, lho, gak ada hubungannya dengan EYD segala. terlalu jauh…
    /blt/

  4. diruntut dari manapun…
    bagi saya masalah utamanya cuma DUIT…

    so, tinggal ada dua cara:
    1. bagi rata semua DUIT yang ada, jadi semua orang BERKECUKUPAN (gak ada yg lebih, gak ada yang kurang)

    2. hapus sistem per DUIT an….

    bahwa itu satu soal, iya. tapi kita juga tak boleh menggeneralisir, semua memiliki perilaku menyimpang demikian. jauh lebih banyak yang baik, cuma mereka tak pernah tampak saja…
    /blt/

  5. Hahaha oprasi polantas di indonesia ya kaya gitu maz…(it jg cermin dari rakyat kita jg yg bangga bila melanggar aturan) coba kl tertib, disiplin, sadar hukum pasti jg tdk ad pos lantas diper3an, per4an, razia polantas yg nganeh2i (bg yg suka tidak tertib) suka cr2 ksalahan (kl cr2 kbenaran kynya tdk ad ya! memang yg ad cr2 kslahan) ad pepatah kuno yg berbunyi, berani berbuat berani bertanggung jwb. Ya..itu td dah th aturannya sedemikian rupa tp (sengaja) dilanggar….mari kt tanamkan disiplin dismua sgala bntuk khidupan agar indah..buat negeriku tercinta ini INDONESIA. Peace! prit prit prit prit….

    sepakat 200 persen. mari kita ciptakan Indonesia yang lebih baik…..
    /blt/

  6. sudah tertanam di masyarakat indonesia sejak dulu kala, kalau citra Pol_LantAs agak miring…. Iwan Fals pun bikin lagu…

    kewajiban kita turut menghapus citra miring itu… caranya: jangan damai, jangan nyogok, jangan jadi pelanggar aturan…..
    /blt/

  7. blendong

    kang, spengetahuan jenengn, di luar negri ada Operasi POlantas model INdonesia?

    wah, ndak tahu, je… yang kudengar, temanku di Belanda sana ujian SIM berulang-ulang karena gak gampang lulusnya. administrasi kependudukannya juga bagus (tidak seperti di sini orang bisa ber-KTP dobel). lampu merah dijaga CCTV, siapa yang melanggar tinggal ngecek nomor mobil, lalu dikirim ke alamat berisi denda/konsekwensi hukum atas kesalahannya. bila berulang-ulang melanggar, sanksinya banyak, termasuk SIM-nya dicabut, dll.

    dengan sistem begitu, orang tak mudah mengambil keputusan melanggar aturan. dengan tertib dan tak ada kengawuran, polisi bisa mengurus pekerjaan yang lain, dan tak ada lagi ide melihat ‘potensi ekonomi’ atas ketidaktertiban masyarakat. di sini, orang masih mau melanggar aturan (tanpa SIM, STNK dan sebagainya) karena menganggap semua bisa diselesaikan secara ‘kekeluargaan’ alias lapan-anem.

    so, kita nyogok polisi itu salah. polisi nerima sogokan juga salah. kalau mau menekan peluang penyalahgunaan oleh oknum Polantas, tunggu sidang saja, jangan ngasih uang damai atau yang sekarang diperhalus dengan istilah ‘titip sidang’. atau, usahakan jangan sampai melanggar aturan.

    banyak teman lebih suka mengeluarkan ID Card wartawan ketika ketemu razia. kalau aku, salah ya salah. maaf saja kalau harus ‘sok-sokan’ pamer identitas, sebab wartawan bukan warga negara kelas satu yang mesti dapat hak-hak khusus/istimewa…
    /blt/

  8. ada asap pasti ada api,

    saya mash percaya peribahasa kuno itu deh 😀

    saya juga percaya hal pepatah lama itu. tak usah kita berdebat siapa penyulut api, asapnya saja kita bersihkan, supaya tak lagi polutif…..
    /blt/

  9. Udah pernah lihat iklan polantas pas lebaran kemarin? Dalam iklan itu polantas ‘disetting’ penuh pengabdian. Kira2 stigmanya bakal berubah ndak ya

    belum pernah lihat, sih. tapi kita harus optimis, semoga ke depan citra itu terkikis dan menjadi lebih baik lagi. apapun, tanpa kerja keras Polantas, arus mudik lebih parah dari yang kita saksikan sekarang…..
    /blt/

Leave a Reply