Bilm Forno atawa Bokèp

…Dinihari, pada sebuah perjalanan darat ke Jakarta. Belasan penumpang yang terdiri dari musisi, kru artistik dan tim manajemen tengah lelap tertidur dalam kenyamanan bus berpendingin udara. Hanya sopir dan seorang awak yang berjaga, mengantar sukses pertunjukan esok malamnya…..

Seorang dari belasan penumpang ternyata rela menahan kantuk. Pura-pura tidur, sehingga ia melewatkan keriuhan teman-temannya mendengarkan (lalu tertawa terbahak-bahak) dagelan Basiyo. Begitulah, mereka semua memang penikmat dan pemuja pemain monolog terbaik Indonesia itu. Nyaris hafal semua materi monolognya, termasuk gending dan tembang pengiringnya.

Seorang yang sengaja tak tidur itu mengendap-endap, berjalan mendekati sopir. Lalu, dia memasukkan kaset ke dalam tape recorder dan menyetelnya. Rencana sudah matang: bahkan ia memperhitungkan kapan pita kaset mulai mengeluarkan suara, menyesuaikan waktu tempuhnya dari samping kemudi hingga ke bangku paling belakang yang sengaja diincarnya.

Dari bangku pojok di belakang, di samping toilet, lelaki itu mengamati semua penumpang. Dialog-dialog monoton berbahasa Inggris dari pita kaset itu timbul- tenggelam, sesekali dengan tempo lambat, kadang pula cepat. Hingga lima menit awal, belum ada tanda-tanda kehidupan.

Barulah mendekati menit ke-15, satu-persatu tampak bergerak, ada pula yang beringsut. Selimut yang mereka kenakan, mulai terlihat ada yang disibakkan. Satu, dua…, tiga……, lalu tujuh penumpang menegakkan bangku sandaran. Celingukan, lihat kiri-kanan, lalu tersenyum. Lantas, semua mengarahkan pandangan ke layar televisi 14 inchi di bagian kiri atas sopir. Gelap, posisi off!

Suara-suara lelaki yang baru terbangun dari tidur itu nyaris seragam, meminta awak bus menghidupkan televisi. Mereka tak mau hanya mendengar suara semata, yang baginya dianggap baru.

“Wah, anyar iki…,” teriak seorang.

“Ayo dong, nyalakan tivinya!” teriak seorang yang lain kepada si pembantu sopir.

Beberapa yang lain terlibat diskusi, memperbincangkan dan menebak-nebak adegan. Sudah biasa mereka, setiap perjalanan ke luar kota dengan bus, ada saja di antara mereka yang membawa cakram padat. Malah, perjalanan demikian sudah menjadi forum penanda tingkat kemelekan seseorang di antara mereka, terhadap perkembangan industri film saru.

Dan, malam itu nyaris semua seperti bersepakat, bahwa yang didengarnya saat itu merupakan barang baru. Sebagai orang yang melek musik dan drama, mereka bisa dengan mudah menarik kesimpulan, bahkan hanya dari suara dan dialog-dialog yang sedemikian monoton. Jangankan yang berbahasa Inggris, yang berbahasa Jepang, Perancis, Latin dan India, pun mereka sangat melek.

Klik! Sang pembantu sopir menekan tombol ON pada pojok kiri bawah televisi. Hanya tulisan VIDEO berwarna hijau muda yang tampak di layar, di kanan atas.

Suasana pun gaduh. Sebagian meminta awak bus agar mengecek CD/DVD Player, menganggap ada yang tak beres di sana. Sebagian yang lain mencoba mengajari, agar kabel yang menghubungkan dengan televisi dicek kembali. Semua normal, tak ada soal.

Gaduh, kian bergemuruh. Semua ingin mencocokkan, yang auditif selaras dengan visualisasi adegannya. “Plot-nya bagus. Kayaknya, adegannya oke, nih!” teriak seseorang yang duduk di tengah.

“Mas… Ini bukan video atau tivinya, kok!” teriak awak bus yang sedari tadi menelusuri sumber bunyi. “Ini kaset biasa, kaset audio!”

“Setan!” teriak yang di bangku depan.

Sopo iki yang bawa? Kurang ajar, mengganggu orang tidur saja!” sahut yang lain.

Malam itu, semua penumpang terjaga pada seperempat perjalanan menjelang Jakarta. Sementara si lelaki yang duduk di bangku pojok belakang hanya diam sambil tertawa ditahan. Ia merasa sukses mengecoh, ngerjain teman-temannya, setelah dua hari bersusah payah memilah suara dengan gambar dari BF alias bilm forno, alias bokèp di rumahnya.

Ooh.. no.. Yes..yesss! Ooo……… yes! Hmm… ou..yeaaa…!

Begitulah, dialog berbahasa Inggris yang monoton dengan latar musik sayu-sayup itu telah ‘membangunkan’ sebagiannya dan menjadikan semua terjaga. Dan kecewa…

26 thoughts on “Bilm Forno atawa Bokèp

  1. I leave a leave a response when I appreciate a article on a website or
    if I have something to contribute to the discussion. It’s a result of the passion communicated in the post I looked at.
    And on this post Bilm Forno atawa Bokèp | Blontank
    Poer. I was excited enough to post a leave a
    responsea response 😛 I actually do have 2 questions for you if you do
    not mind. Is it simply me or does it seem like a few of these comments look like they are coming from brain dead folks?

    😛 And, if you are posting on other places, I would like to follow you.
    Would you list the complete urls of your shared sites like your linkedin profile, Facebook
    page or twitter feed?

  2. Promotion of yor application is necessary to redach out every prospect and customers.

    The phone’s video recording capability iss via QVGA
    and at 15 frames per second (fps). IPads are also very user-friendly, and simle to handle.

  3. Its like you read my thoughts! You appear to understand a lot about this, like
    you wrote the book in it or something. I think that you could do with a few % to
    power the message house a little bit, however other than
    that, this is great blog. An excellent read. I will certainly be back.

  4. eh Pak B, tapi kadang suara menimbulkan imajinasi lebih dari pada tampilan visual…huahahahaha

    ya… membaca komentarmu, aku jadi teringat lantai yang jarang disapu. ngeres, gitu loh……. 😀
    /blt/

  5. Ooh.. no.. Yes..yesss! Ooo……… yes! Hmm… ou..yeaaa…!
    hahahaha owhhhh

    wah, ini masuk kategori kolektor kayaknya….. di tulisanku kurang detil, ya? maaf, cuma dengar sekilas, sih, makanya nulisnya gak bisa panjang lagi…..
    /blt/

  6. mungkin saja cerita pengalaman pribadi yang tak dilupakan ya pak.. hehe…

    begitulah hebatnya Tuhan. DIA mengutusku untuk menguji orang-orang sepertimu: masihkah punya rasa ingin tahu. sebab, ‘rasa ingin tahu’ itulah yang menjadi pembeda manusia antara manusia dengan hewan.

    kenapa ada kecurigaan mengenai siapa pelaku sesungguhnya? percayalah, Sid… yakinlah, itu juga sifat manusiawi yang merupakan karunia dari-Nya….. :p tanpa curiga, sulit bagi seseorang mengenali padanan kata khusnudzon
    /blt/

  7. ya ampun, sampe rela bersusah2 demi ngerjain teman2nya ya. he2. lucu tenan. pasti semua penumpang itu konsumen bf kelas berat. ha3.

    itulah, Ris, kenapa muncul anggapan di masyarakat awam, bahwa kesenimanan seseorang selalu diasosiasikan dengan keanehan. padahal, bisa jadi, koleksi bilm forno itu dalam rangka eksplorasi sumber bunyi…..
    /blt/

  8. mudik sambil ditemani pilem fokep atawa borno ya.. ngakak deh.. :mrgreen:

    wekekekeee… kalau mudiknya H-2 atau H-1 sih lumayan. sore-sore menjelang petang, bisa untuk ngabuburit sekaligus membatalkan puasa sekalian. xixixix…
    /blt/

  9. jaman skrg tinggal bawa DVD player portable pakde 😛

    tanggung, Dut… jaman sekarang bukannya lebih enakan bawa aktrisnya sekalian? yang portable juga banyak, katanya, seehh……
    /blt/

Leave a Reply