Dua Shalat Ied Berdampingan

Hari ini, Allah sungguh-sungguh menguji kadar keimanan umat-Nya. DIA menyodorkan peristiwa yang sama, dalam waktu yang sama dan di tempat yang boleh juga dikatakan sama. Toleransi dan kedewasaan di satu sisi, dan hipokrisi di sisi yang satunya. Dua shalat Ied digelar nyaris bersandingan, hanya dalam radius kurang dari 100 meter.

Andai itu antara Syiah dan Sunni, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi yang saya saksikan tadi, jauh dari benturan organisasi –entah itu dalam level takmir antarmasjid, atau ormas keagamaan. Dari sisi ‘karakter jama’ah’, saya rasa tak ada beda. Kaum Nahdliyyin shalat tarawih di masjid Muhammadiyah sudah jamak. Begitu sebaliknya.

Pada ‘level’ umat, sejatinya nyaris tak ada fanatisme, sepanjang Tuhannya masih Allah SWT, kitabnya masih Al Qur’an, rasulnya masih Muhammad SAW, dan seterusnya. Fanatik dalam pengertian kalau mesjidnya Al Xxxx maka harus selalu berjamaah di sana, atau kalau imamnya ABCDE, maka di masjid manapun memimpin shalat akan dikejar.

Memang, gesekan kecil menyangkut keyakinan jumlah rakaat shalat tarawih masih terjadi di beberapa tempat, meski tak bisa dibilang banyak. Kedua pemimpin berikut umatnya, pun tak pernah menyoal perbedaan demikian. Tapi, saya rasa, perbedaan itu tak pernah menjadi soal, karena semua mengembalikan mas’alah itu pada niat, nawaitu dan mengembalikan pada prinsip, bahwa Islam itu satu.

Melihat peristiwa tadi, saya jadi teringat cerita seorang pengurus masjid di dusun yang bersebelahan dengan tempat saya berasal. Tiga tahun silam, sang pengurus bertutur kalau ia hendak menyelenggarakan shalat Ied sendiri. Memanfaatkan halaman masjid yang tak seberapa luas dan jalan desa bila jamaah membludak tak tertampung. Ia enggan bergabung shalat Ied yang menggunakan lapangan sepakbola yang sanggup menampung ribuan jamaah sekaligus.

Alasannya sangat sederhana, “Pembagian infaq tak adil, karena dikuasai oleh takmir dari beberapa masjid saja. Banyak-sedikitnya bagian yang diperoleh untuk kas masjid tak punya ukuran. Padahal, bisa diatur melalui musyawarah.”

“Daripada keikhlasan shalat kami terganggu dengan perasaan-perasaan demikian, maka kami memilih memisahkan diri,” ujar si penutur.

Apa yang dituturkan tetangga desa saya itu menggelitik saya. Bersama pengurus masjid, mereka bersepakat membuat ‘venue’ sendiri, padahal jaraknya sekitar 300-an meter dari lapangan yang dulu mempersatukan umat di tiga desa berbeda. Nah, yang terjadi kini, dua ‘venue’ berdekatan, dan afiliasi serta tipologi jama’ahnya tak berhadapan secara diametral. What’s wrong with them?

Meski suudzon itu tidak baik, kali ini saya terpaksa memberanikan diri ‘berprasangka’. Sebab saya yakin, Tuhan tidak sedang membuat lelucon untuk umatnya, yang semua mengaku bersujud kepada-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya. Sepertinya, mereka lupa akan firman Dia yang menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (yang berbeda) untuk saling kenal-mengenal.

Mereka lupa, bahwa mengingkari kenikmatan yang ditebar oleh-Nya adalah perbuatan sia-sia, oleh karena itu karena dosa. Begitu pula, mereka lupa bahwa tolong-menolong sesama muslim itu wajib hukumnya.

Prinsip toleransi sebagaimana difirmankan oleh Dia: bagiku agamaku, bagimu agamamu adalah bentuk kelenturan bergaul, bermasyarakat dan hal-hal yang lebih bersangkut paut dengan sosial kemasyarakatan, termasuk di dalamnya soal-soal terkait dengan budaya, politik, dan ekonomi.

Sementara untuk urusan ibadah, sebagai bentuk pengakuan atas keberadaan Allah Yang Maha Pencipta, mestinya menghindarkan hal-hal yang mengarah pada perpecahan. Sebab membiarkan perpecahan, apapun bentuknya, berarti pengingkaran atas perintah-Nya. Alangkah nistanya, membiarkan perpecahan hanya lantaran besar-kecilnya hasil bagi uang yang dikeluarkan dengan niat suci para jamaah. Lebih dari itu, bukankah itu sangat duniawi sifatnya, sementara persoalan lebih pada keengganan bermusyawarah semata?

Semoga, apa yang saya lihat dan rasakan tadi, juga dirasakan oleh para pimpinan takmir masjid-masjid yang berhimpun dalam panitia shalat Ied bersama. Sehingga, tahun depan bisa bersatu kembali, bertemu dan saling bermaaf-maafan sambil merayakan kemenangan bersama, di lapangan sepakbola tempat saya olahraga semasa SD dulu.

Rasanya, sedih kalau saya harus membandingkan dengan masuknya beberapa pesan ucapan Selamat Idul Fitri seraya permintaan maaf yang masuk ke inbox email, Facebook dan telepon genggam saya. Sebab pengirimnya beragam: ada pendeta, aktivis gereja, juga umat beragama lain.

Andai mereka mau menjadikan peristiwa demikian sebagai cermin tempat berkaca…..

12 thoughts on “Dua Shalat Ied Berdampingan

  1. pecah amarga bagi hasil harta gono gini shalat id kuwi biasa akhir misah,
    sak jane menurutku ora salah nanging kurang bener lan pener.
    sing genah salah tur ra bener lan ra pener kuwi sing ra shalat id.
    *seolah2 win-win solution ben kethok bijaksana*

  2. Tahun depan aku mau usul gereja yg membuat buka bersama di solo pada waktu puasa, juga menggelar sholat ied di gerejanya….
    kurasa ini lebih baik karena pasti pihak gereja nggak akan mengutip untuk kas masjid :)
    Wong kok sing dipikir bagaimana memperkaya diri atau golongan, lha kapan majune?

    hahahahaa….. lucu juga usulnya….
    /blt/
    ___________________
    Koment nang ndhuwur iki tak wenehi jempol sanga wis pakdhe…!!

  3. Memang lebih mudah menghindar dibanding menyelesaikan masalahnya secara gentleman.. Semoga saja tidak malah memecah belah ukhuwah di sana.. Amin

    Salam kenal, Pak ^^

    salam kenal kembali. saya juga rindu kebersamaan itu terajut kembali tahun depan. syukur hari raya kurban besuk malah sudah menyatu. amin.
    /blt/

  4. a

    Tahun depan aku mau usul gereja yg membuat buka bersama di solo pada waktu puasa, juga menggelar sholat ied di gerejanya….
    kurasa ini lebih baik karena pasti pihak gereja nggak akan mengutip untuk kas masjid :)
    Wong kok sing dipikir bagaimana memperkaya diri atau golongan, lha kapan majune?

    hahahahaa….. lucu juga usulnya….
    /blt/

  5. alhamdulilllah…… di daerah ku tidak terjadi….
    satu kelurahan bisa ngumpul dalam satu lapangan….(klo g muat baru ke jalan”…)

    minal aidin wal faizin pak B

    syukur alhamdulillah, di tempatmu lebih baik dari tempatku. aku minta maaf atas semua salahku juga, ya…
    /blt/

  6. wong koq pingin dho ngerek gendera dhewe dhewe, mbok ana rembug ki ya dirembug ana pangan ya di maem bareng. Juan ra mutu tenan koq, gething aku nek weruh ngono kui (eh tapi nek meksak’ke karepe wong liya jenenge ya wis dudu negar demokrasi maneh ya..?) wis tak melu nyawang wae lah pakdhe…
    nuwun..

    musik bambu! olehku ngenteni komentarmu nganti cengklungen, Dhimas… jebul mung arep nyawang thok, ta?
    /blt/

  7. Terus terang saya termasuk yang mengalami kejadian seperti ini, sejak saya kecil saya terbiasa shalat Ied di lapangan yang biasa diadakan PHBI (Panitia hari Besar Islam) Sektor wilayah sekitar rumah saya, tetapi sejak 8 tahun yang lalu ada jamaah lain mendirikan mesjid yang sangat besar (bahkan lebih besar dari masjid agung kabupaten) di kampung RT saya, kehidupan masjid itu cenderung tertutup, dan mulai 2 tahun lalu jamaah masjid itu mengadakan shalat Ied sendiri di Lapangan yang justru lebih dekat dengan dengan kampung saya, tetapi memang warga kampung saya tetap shalad Ied di lapangan yang diadakan PHBI (termasuk saya), dan terkadang saat berangkat warga kampung kami sering berpapasan dengan umat masjid itu yang juga berangkat shalat Ied (ke lapangan yg dekat kampung saya), dan Alhamdulillah mereka tetap rukun walau saya tidak tahu isi hatinya tetapi saya berbrasangka baik saja. 😀

    karena aku menganggap perbedaan itu rahmat, maka perbedaan sikap kita itu sungguh kunikmati. xixixixxx… btw, yen persoalane beda ‘aliran’ sih wajar. lha kalau gak ada perbedaan ‘aliran’, masak kaya orang kesetrum…. :p maaf lahir batin, ya…
    /blt/

  8. Dilingkungan saya dari dulu sampai sekarang, ada yang shalat dihalaman masjid sisanya shalat dilapangan yang notabene lebih jauh daripada halaman masjid. Alasannya klasik, beda golongan.

    wong-wong Islam iku rukune kapan ya, San? mosok nunggu kiamat… (kamangka, sing wajib nunggu kiamat iku kan nyiamat, ta?)
    /blt/

Leave a Reply