Srabi Kasih Sayang

Srabi Putih

Srabi Putih

Mendengar kata srabi Sala, bisa jadi yang muncul di benak Anda hanya Srabi Notosuman. Tak apa. Notosuman memang telah melegenda, menjadi salah satu ikon kuliner Kota Sala. Di sepanjang Jl. Slamet Riyadi, terutama di sebelah kiri jalan, sejak Purwosari hingga Gladag, bertebaran penjaja srabi. Makanan terbuat dari beras bersantan itu diberi aneka variasi demi rasa: nangka, pisang dan coklat. Pernah dengar srabi berbumbu kasih sayang?

Datanglah ke Jl. Brigjen Katamso, tepatnya sebelum kantor TA TV dari arah RS. dr Oen Kandang Sapi. Dia berada di sebelah kanan jalan, mulai buka jam 22.00 setelah apotik tutup pintu. Penjualnya mimi lan mintuna, pasangan kakek-nenek renta, yang tampak rukun damai, mesra bekerja sama.

Ya, beberapa pembeli menjulukinya Srabi Kasih Sayang. Mungkin lantaran pembelinya, kebanyakan umat Kristiani yang mampir seusai berdoa di Goa Maria, tak jauh dari tempat dhasar kakek-nenek Cipto Waluyo. Pasangan berusia 70 dan 64 tahun itu mengaku berjualan sejak belasan tahun silam. “Awit sadèrèngé (sejak sebelum) gègèran Pak Harto (1998),” ujar Mbah (kakung) Cipto.

Srabi rasa coklat

Srabi rasa coklat

Beliau senang bercerita, termasuk tentang perilaku beberapa pembelinya. Katanya, mereka datang dari tempat tinggal yang berjauhan dengan Goa Maria. Sering, beberapa sengaja datang sekeluarga dari rumah mereka, hanya untuk membeli srabi bikinannya. Ada yang sebagian dimakan di tempat, selebihnya dibawa pulang. Namun, yang memborong untuk dibawa pulang, pun tak jarang.

Rupanya, pembeli yang datang bersama anak-cucu sudah memberi kegembiraan tersendiri. Sebagai wong cilik, Mbah Cipto merasa berarti, sebab yang datang kerap turun dari mobil beramai-ramai. Padahal, dia cuma menjual dua jenis saja: srabi putih (murni) dan satu lagi srabi bertabur coklat.

Beliau kapok menambahkan nangka atau pisang. “Masaknya lebih lama, kasihan yang nunggu,” ujar Mbah Cip, demikian kerap disapa.

Mbah Cipto tidak ngaya, tak pernah memaksa diri. Dia menjajakan srabi hanya untuk memenuhi kebutuhan eksistensi. Anak-anaknya melarang, namun mereka abaikan. Untuk kegiatan pengisi waktu, katanya, “Juga untuk jaga-jaga, karena cucu suka minta duit jajan kalau hendak berangkat sekolah.”

Tak banyak memang. Sekali jualan –biasanya hingga pukul 3 pagi, paling hanya menghabiskan enam kilogram beras. “Dulu pernah sampai sembilan kilo. Tapi jaman kian susah, pembeli masih datang, tapi jumlah belanjaan jauh berkurang,” ujarnya.

Tak ada nada kecewa, apalagi menggerutu. Mbah Cipto sangat maklum, dan memahami perubahan, seperti yang mereka kenali lewat filosofi Jawa, bahwa hidup itu layaknya cakra manggilingan, seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang harus di bawah. Dulu, ketika berjaya hingga sembilan kilogram per hari, memang jaman masih ramah kepada kaum periferi. Beras kurang dari seribu perak, dan gula hanya Rp 1.050 per kilogramnya. “Dulu, kami menjual hanya Rp 50 sebuah,” ujarnya.

Mbah Cipto, bagai mimi lan mintuna

Mbah Cipto, bagai mimi lan mintuna

Kini, ketika harga sudah menjadi 10 kali lipatnya, Mbah Cipto tak sanggup menaikkan lagi. Biarpun gula sudah di atas Rp 10 ribu per kilo, mereka menjalaninya dengan pasrah. Nrima.

“Banyak juga mahasiswa yang datang kemari untuk membeli srabi kami,” ujarnya bangga.

Saya hanya memaklumi, dan pura-pura mengerti, termasuk alasannya tak ingin menaikkan harga jual. “Masih ada yang mau beli saja, saya sudah senang. Masih ada rejeki buat kami,” ujarnya.

Tanpa banyak teori, Mbah Cipto yang mengelana dari Wonogiri itu, rupanya sadar betul dengan apa yang kaum terpelajar menyebutnya sebagai ambang psikologis konsumen. Dinaikkan bisa menyusutkan omzet, meski harga bahan baku terus meroket. Entah sampai kapan pedagang kecil seperti Mbah Cipto sanggup berakselerasi menyesuaikan gerak jaman, juga harga-harga bahan.


11 thoughts on “Srabi Kasih Sayang

  1. kalau ke Jakarta bawa yang beginian dong…

    piye, ta? aku tuh pingin kamu datang ke Solo dulu. kalau sudah pernah mencicipi, tinggal kubawakan kalau ke Jakarta. jadi ada nilai kenangannya, gitu loh…
    /blt/

  2. mbah Cipto… sosok yg lebih puas memenuhi kebutuhan eksistensi
    saya cukup banyak melihat sosok spt mbah Cipto.. di Jogja
    tp tidak untuk di Jakarta… sama skali saya gak menemukannya di Jakarta
    filosofi hidup di Solo n Jogja srasa lebih wise
    n bruntung saya pernah hidup 5 th di Jogja
    moga spirit mbah Cipto itu
    tidak luntuuur

    amin. sampeyan warga Jakarta tulen, ya? mbok pindah saja ke Jogja atau Solo…..
    /blt/

  3. potret keadaan wong cilik, yang survive tanpa menyerah dengan keadaan … tidak seperti penggede, yang rakus berebut kekuasaan

    *komentarku kok terdengar bijak yo? hakakakakaka*

    lho, awakmu kan memang orang bijak. eh, wis bayar pajak?
    /blt/

Leave a Reply