Sate Jamu

Kalau belum kenal Solo, saya ingatkan agar Anda tidak terkecoh dengan jenis kuliner yang satu ini: Sate Jamu. Jumlah penjajanya cukup banyak, persebarannya pun lumayan. Nyaris bisa dijumpai hampir di seluruh penjuru kota. Varian olahannya, sejatinya cukup banyak. Dari yang ‘arkais’ seperti sayur asem hingga yang populer semacam gule, tongseng, sate, rica-rica, juga model goreng kering yang (konon) crispy!

Bila Anda seorang penyayang binatang, janganlah kaget. Begitu pula bila Anda seorang muslim, jangan buru-buru berharap dengan mengonsumsi sate jamu bakal lenyap jenis penyakit yang Anda derita. Entah siapa penemu istilahnya dan kapan dimulai penyebutannya, kata jamu rupanya tak lebih dari sekadar sandi atau eufemisme dari kata anjing. Ya, sate jamu tak bukan adalah sate anjing!

Seorang teman –sebut saja Donking, penggila kuliner anjing, eh, maaf, maksudnya jamu, bahkan menuliskan di status Facebook-nya dengan kalimat indah: mencintai anjing sejak kecil hingga mateng. Sebagai seorang Kristiani yang saleh, teman saya itu hanya ingin menceritakan bahwa dia seorang penggemar anjing. Di rumah, ia pernah memiara anjing. Sebaliknya, setiap keluar rumah, ia lebih menyukai berburu aneka masakan berbahan baku anjing itu.

Berikut catatan sang teman, yang saya tuliskan untuk Anda:

Di kawasan Gilingan, atau sebelah timur Terminal Tirtonadi, ada warung Pak Gundul, dengan kelebihan pada menu bakar masak. Yakni, daging anjing yang dibakar, lalu dimasak kembali sesuai selera pemesan. Karena larisnya, jangan harap Anda masih kebagian kalau datang selepas jam 12 siang.

Tak jauh dari Pak Gundul, tepatnya di sebelah barat traffic light di seberang terminal travel, terdapat beberapa penjaja. “Cari warung paling timur, dia punya kelebihan pada jenis masakan kering. Tongsengnya juga enak,” ujar Donking.

Waroeng Pemuda (Foto: Mahatma Chrysna)

Waroeng Pemuda (Foto: Mahatma Chrysna)

Asal tahu saja, kebanyakan warung sate jamu di Solo, berwujud layaknya warung tenda khas kakilima. Hanya beberapa yang memanfaatkan rumah sebagai tempat usaha, seperti yang dilakukan Mbah Sudar. Uniknya, ia melayani semua tamunya seperti layaknya keluarga. Ramah kepada yang datang, sambutannya seperti ketika sedang kedatangan sahabat atau saudara dari jauh.

Sekali, saya menemani beberapa sahabat yang sedang bersantap malam di warung Mbah Sudar, di kawasan Pasar Kliwon yang tak lain merupakan kampung yang mayoritas warganya keturunan Arab. Ia menyodorkan ubi goreng dan teh panas-kental yang nikmat setelah tahu saya tidak makan daging anjing. Uniknya, ia hafal selera setiap pelanggan.

Di sini, seluruh menu dan cara penghidangannya sangat beraroma rumahan. “Mau rica-rica, sate, tongseng atau apa saja, semua enak. Kami merasa hommy di sini. Mbah Sudar, bahkan sering menanyakan kabar teman-teman bila lama tak kelihatan,” tutur Donking.

Beda Mbah Sudar, beda pula warung legendaris Solo. Namanya, Sate Komplang. Lokasinya tak jauh dari warung sate kambing Mbok Galak yang juga legendaris itu. “Sate Komplang itu memiliki menu standar dengan kwalitas rasa yahud. Rica-rica, sate, sengsu (tongseng asu) dan sebagainya, semua serba enak. Memesan apapun, tak bakal mengecewakan,” tuturnya.

Karena itu, tak aneh kalau legenda keluarga Komplang lantas membuahkan dua cabang utama, di kawasan ring road Mojosongo di utara, dan Solo Baru di selatan. Mungkin, itu merupakan politik apresiasi bagi pelanggannya yang tersebar di berbagai penjuru kota pula. Konon, meski warungnya tampak sederhana, pemilik Sate Komplang cukup kaya raya. Bahkan, sampai khusus membeli sebuah rumah besar yang digunakan khusus untuk menampung anjing, yang bahkan didatangkan dari luar kota. Mungkin, omzet hariannya sudah menyentuh level puluhan juta rupiah!

Namun, sukses Sate Komplang, kini seperti dibuntuti Waroeng Pemuda, yang berlokasi di Jl. Pemuda, Sambeng. Donking menyebut warung yang menggunakan istilah special masakan Guk-guk itu sebagai warung pop. Performance warung hingga cara penyajian serba ngepop. “Warung itu berhasil mencitrakan layaknya restoran. Pelanggannya kelas menengah dan orang kantoran. Makanya, ia sangat ramai saat jam makan siang,” papar Donking.

Mahatma Chrysna, seorang pengajar yang juga blogger, bahkan menyebut warung bergambar kepala anjing lucu itu sebagai salah satu representasi sifat permisif dan sikap toleran warga Solo yang mayoritas kaum muslim, kepada penggemar masakan khas Solo itu. Ia mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Surakarta, yang konon mewajibkan penjaja masakan ‘jamu’ mencantumkan penunjuk, bahwa menu yang dijual berbahan baku anjing.

Boleh jadi, ketentuan mencantumkan ‘logo’ atau ‘tanda’ anjing itu untuk menghindari salah paham bagi kaum pendatang. Pernah satu ketika, di kawasan Sekarpace, seorang perempuan berjilbab datang memesan satu porsi sate jamu. Begitu tahu si calon pembeli adalah mahasiswi baru asal luar kota, ia bertanya hingga dua kali, untuk memastikan si calon pembeli tidak sedang salah pesan. Akhirnya, si penjaja buru-buru meminta maaf ketika si mahasiswa mengaku tidak tahu menu anjing itu. Si mahasiswi berjilbab itu, pun meminta maaf karena urung berbagi rejeki. Akur!

Akankah sate jamu lenyap dari Solo seiring dengan maraknya kontes radikal-radikalan sebagian warganya yang mengaku paling beragama dan bermoral? Saya tak yakin. Hadirnya ‘logo’ kepala anjing, bahkan menjadi jurus jitu menghindarkan potensi kemarahan sebagian warga, sebab dengan begitu si penjaja pun menjadi tampak lebih jujur dibanding dengan menggunakan istilah sate jamu.

Dan, sebelum saya lupa, saya ingin memberitahukan keunikan sajian menu Mbah Sudar. Jika di atas meja terhidang bungkusan berbahan daun pisang, perhatikan baik-baik. Semuanya jenis goreng-gorengan yang (konon) crispy. Bila bungkusan itu ditusuk dengan satu lidi, itu artinya gurih asin, dan manis bila berlidi dua. Bila dibungkus daun pisang terbalik, itu menunjukkan isinya jerohan seperti ati, ampela dan sebagainya. Khusus kulit goreng ditandai dengan kombinasi daun dan potongan koran, dan untuk yang dibungkus dengan daun pisang seluruhnya, maka itu adalah otak goreng. Sulit dihafal? Rasanya tidak bagi yang sudah terbiasa.

Satu lagi catatan menariknya, bahwa seluruh anjing yang dijual sebagai sengsu, sate dan sebagainya itu, merupakan jenis anjing kampung. Konon, supaya enak, tak satupun anjing-anjing itu disembelih. Kalau tidak dicekik dengan tali, maka kepala anjing terpaksa dipukul agar mati. Itu semua agar darah tak terbuang, sebab darah itu (konon) menjadi penguat rasa dan penggugah selera.

Dan, bagi yang menggemari sayur asem daging guk-guk, sejauh pengamatan Donking, hanya terdapat satu penjaja, yakni di kawasan Kampung Jagalan, yakni Solo bagian timur.

20 thoughts on “Sate Jamu

  1. dhanny

    anjing binatang paling setia , sebelum di masak sudah tersiksa, dibunuh tanpa ampun (dicekik/dipukul/dibakar)
    bagi muslim, semua binatang bertaring adalah haram untuk dimakan.
    semoga..untuk muslim yg senang,suka,gemar makan masakan daging anjing, agar kembali bertobat.

  2. Untuk menjaga cita rasa guk-guk, pantang untuk disembelih, tapi digantung atau diblebek-blebek’e (ditenggelamkan). bar kuwi dibakar. njuk di tongseng! #juh malah dadi ngiler aku.

    (Penikmat Sengsu jaman dulu)

  3. Pertama mendapatkan info dari PakDe yang suruh Gugling “Sate Jamu” tuh tak kira satenya terbuat dari biji-bijian atau makanan vegetarian gitu. eh ternyata kok malah bahan bakunya dari Anjing ya, beruntung kayaknya di Madura belum ada. Semoga kalo ke Solo gak terkecoh ama tuh warung.

  4. segawon lanang

    rica2 jamu khas solo memang mak nyossssss rasane kyo daging surgooo…apa meneh kro produk bekonang….gerrrkung

  5. jongil kim

    tambah sip ae rek rek, …….peyan kok ngerti aku wong wetan??????

    wis tah laa… sampeyan ngaku ae? ditunggu neng nggone emailku. japri ae ya, Sam…
    /blt/

  6. memang RW (rica2 waug) niku panganan sing paling uenak pak. tiap pulang kampung kulo mesti mangan RW dkk. nek kulo dereng sempat menjelajah berbagai warung2 sengsu. paling gur cedak ngomah neng tawangsari.

    paling enak nek bubuk merica-nya banyak. jd bisa panas bgt. selain itu sebenernya ini cocok buat “jamu” bagi penderita tekanan darah rendah dan penderita “kadhemen” nek lagi mongso penghujan. hehehe. sing penderita tekanan darah tinggi tidak disarankan makan terlalu banyak. mengko iso ngelu ora karuan.

    loh, Tawangsari juga ada, to? berarti sudah merakyat, nggih?
    /blt/

  7. Godaan untuk mencoba si wedhus balap terus datang, tapi aku masih mampu menolaknya. Aku isih mengagumi wedhus (ndak pakai balap) kok, hehehe.
    Oya, kalo tengkleng guk2 ada ndak?

    ya jelas, ada… mau nyoba???
    /blt/

  8. ngekek moco unen2e Donking : “mencintai anjing sejak kecil hingga mateng.”

    aku yo ra mangan sate jamu (ngombe jamu ae aras2en), tapi moco tulisan iki kok sajake sedep men, yo 😀

    gak usah melu-melu kalau kodratnya memang bukan pemangsa jamu…
    /blt/

  9. jongil kim

    ternyata di Solo lebih variatif dalam mengolah daging guk -guk.
    disini saia biasa menikmatinya cukup dikukus dan dimakan dengan balutan daun selada,
    atau porsi istimewah dimasak sup dengan campuran ginseng yang berumur 6 tahun.

    wah, kesannya seperti orang Korea betulan. padahal, ada unsur Malang/Suroboyoan. Kera Ngalam sejati tak akan bilang Kim Jong-il, tapi Jongil Kim. ya, to?
    /blt/

  10. pertamaxxxxxxxxx
    jebul yo iso dadi pertamax,

    kajian anjing yang cukup lengkap.
    apakah di dalam KITAB SOLO tercantum ?

    baru buka puasa saja bisa jadi perkara, bagaimana kalau soal wedhus balap masuk Kitab Solo? nanti, kata ‘kitab’ disakralkan karena serapan dari bahasa Arab. repot, kan? namanya juga Solo, Kang… akeh wong aeng-aeng…… sing dawa ususe, sing jembar pangapurane :p
    /blt/

Leave a Reply