Menolak Berjilbab, Dipukuli

Sebagian kecil orang Solo sudah menganggap ini sebagai cerita basi. Tapi, baiklah ini cara ceritakan kepada Anda sekalian. Yang penting, jangan buru-buru menyebut ini sebagai bentuk rasisme. Ini murni lelucon, yang sering saya dengar dari seorang teman, berprofesi sebagai dosen sekolah negeri, dan kini sedang menempuh program pascasarjana di Yogyakarta.

Di Solo, nama Pasar Kliwon identik dengan kampung yang mayoritas penduduknya keturunan Arab. Dan, pemahaman awam selalu menghubungkan kata Arab dengan segala hal yang berkaitan dengan simbol-simbol ke-Islam-an, termasuk di antaranya kopiah dan jilbab sebagai penutup kepala yang termasuk kategori aurat bagi perempuan yang tak boleh diumbar.

Tersebutlah seorang abah yang masih totok meminta anaknya mengenakan jilbab. Sang anak, yang sudah berpendidikan tinggi dan berpikiran terbuka, menolak permintaan sang ayah. Berulangkali disuruh dan terus menolak, akhirnya si anak dihukum tak boleh keluar rumah selama beberapa hari.

Melihat anaknya yang tampak murung akibat dihukum larangan keluar rumah, sang ayah mencoba membujuk kembali. Dengan bahasa yang lebih halus dari biasanya, sang anak tetap menggeleng. Kembali sang ayah bertindak lebih keras. Sang anak tetap bergeming. Tak mau menuruti perintah orang tua.

Ente berdosa kalau melawan orang tua, tahu ndak?” hardik sang abah.

Sang istri, yang memang tunduk pada kaum lelaki karena diposisikan sebagai imam dalam rumah tangga, pun tak berani menghentikan kemarahan suaminya. Ia hanya menasihati sang anak ketika tak diketahui sang ayah. Dan, sang istri pun paham dengan alasan sang anak untuk menolak perintah sang ayah.

Umi, ana yakin tidak akan berdosa hanya karena tidak mau menuruti perintah Abah. Mestinya, Abah lebih tahu dari ana sehingga tidak memaksakan kehendaknya seperti itu. Tapi ana akan selalu mendoakan Abah agar diampuni dosa dan kekeliruannya oleh Allah,” ujar sang anak.

Sang ibu yang iba pada sang anak, lantas mengusulkan agar ia lari dari rumah selama beberapa hari. Dimintanya sang tak pergi jauh-jauh, namun cukup bersembunyi di rumah pamannya di luar pasar Kliwon, yang kebetulan berpikiran lebih moderat. “Pergilah ke rumah ami­ saja. Biar nanti umi telpon dan menjelaskan kepada ami,” ujar sang ibu.

Mengetahui sang anak lari, si ayah marah-marah kepada istrinya. Dan, sang istri beralasan tidak tahu kapan perginya si anak lantaran ia banyak menghabiskan waktu di kamar selama suaminya pergi.

Setelah sepekan uring-uringan lantaran anaknya tak kunjung pulang, sang ayah terlihat murung. Semua keluarga sudah dihubungi dan semua mengaku tak tahu-menahu soal keberadaan sang anak. Hingga pada suatu ketika, sang adik yang turut menyembunyikan keberadaan keponakan itu datang.

Melihat kakaknya murung, sang adik bertanya. “Kenapa ente sedih seperti itu. Wajarlah kalau anak yang sudah dewasa seperti dia memilih melarikan diri kalau di rumah cuma dipukuli!”

“Ya, tapi dia ndak nurut sama ana. Itu kan berdosa karena ndak mau nurut sama orang tua,” jawab sang kakak.

“Lho, ndak nurut juga wajar. Ndak dosa menurut ana. Permintaanmu juga ndak wajar, kok minta dituruti. Mana ada anak laki-laki wajib pakai jilbab. Ndak ada hukumnya, itu!”

8 thoughts on “Menolak Berjilbab, Dipukuli

  1. Ini kebalikan dari lelucon tentang anak yang dilarang berjilbab oleh orang tuanya. Dengan berbagai cara anak meminta, orang tua tetap tidak mengijinkan sampai akhirnya si anak ngambek.

    Dengan halus ibu berbicara: Ibu senang kalau anak-anak ibu menjalankan perintah agama, termasuk mengenakan jilbab. Ning eling yo le, kowe ki lanang. Mosok arep nganggo jilbab? Apa kata dunia…..

    Kagem Pak Blontang, salam kenal.
    sumedi.net, warga BP

    salam kenal kembali, Mas Medz. kapan kalau ke Solo, mampir nggih… kosong wangsulipun, saya mampir kalau lewat Pwr
    /blt/

Leave a Reply