Nisan Jangan Jadi Beban

Tanpa angin pada siang yang terik membuat pengunjung warung Ngisor Pelem kegerahan. Obrolan serius menjadi tak menarik, apalagi sebagiannya adalah para seniman bertubuh kegemukan. Maka, canda yang memancing tawa dan gojèg kéré atau lelucon garing menjadi keisengan yang sanggup mengalihkan konsentrasi akan gerah. Setelah mencari-cari, ditemukanlah sebuah topik: makam seniman!

“Kita sudah pada tua, mbok ayo mikir masa depan kita. Guyub itu akan baik kalau bisa sampai akherat,” ujar Mas Plukis, seorang perupa.

Ho’oh…. Aku setuju. Aku usul sekalian, kita patungan lalu nyari tanah sehektar atau berapa di dekat Candi Sukuh,” sergah Pak Birok, “Di dekat Candi Sukuh itu enak, dingin dan pepohonan masih rindang. Kita tak akan kepanasan.”

“Mati kok masih merasakan kepanasan. Mati ya mati saja. Mana ada orang mati masih merasakan sumuk?”

Kontan, kalimat Mas Yoyok yang menyanggah dua pembicara sebelumnya itu berbuah amarah, kemarahan yang tak serius khas seniman. Maka, Mas Yoyok jadi bulan-bulanan kemudian.

“Kamu itu, lho… Kita ini seniman, biasa menggunakan perasaan, jadi akan peka terhadap apa saja. Itu, kan anugerah Tuhan yang memang hanya diperuntukkan bagi seniman. Kalau yang lain, gak bakalan bisa merasakan. Kamu saja belum tentu, kok,” tukas Mas Plukis.

“Belum tentu!” Mas Yoyok memotong.

“Ya jelas iya, to….. Kamu, kan belum bisa disebut seniman. Rasamu pasti belum sampai, durung gaduk!” ujar Mas Plukis, sengit.

Wis, biarkan saja Yoyok ngoceh dhéwé. Toh dia tak akan masuk dalam daftar calon penghuni astana yang akan kita bangun,” Pak Birok menimpali.

Dengan pembaringan kekal seperti di pegunungan dimana Candi Sukuh berada, maka itu akan memudahkan ruh seseorang segera mencapai surga. Kerindangan pepohonan dan sejuknya hawa pegunungan, akan membuat jasad seniman merasa nyaman, tak risau menunggu hari penantian, kelak bila kiamat tiba.

“Kata kitab suci, Tuhan baru akan memanggil ruh-ruh kita setelah kiamat tiba. Nah, kalau kita masih kumpul, maka tak bakalan terasa jenuh menanti. Apalagi, kita tak tahu secepat apa hari kiamat itu tiba… Coba bayangkan kalau kita tak bersama, siapa yang memberi penghibur para arwah-arwah yang kesepian? Di dunia, kita sudah menggugah rasa dan mengajak banyak orang mengoptimalkan fungsi seluruh indera dan nalar,” ujar Mas Birok. Mimiknya serius.

Pak Jojo, yang sedari tadi kipas-kipas cari angin di pojok Bangsal Mara Klasa mengajak tujuh orang yang meriung di warung segera membuat keputusan. “Wis, konkretnya piyé? Lebih baik kita segera mendata saja, siapa saja teman-teman kita yang mau diajak dan pingin ikut. Luasnya jatah kapling kita sesuaikan saja dengan persentase iurannya.”

“Aku manut iurannya berapa. Pokoknya aku mathuk. Setuju,” tambah Pak Jojo. “Aku usul, Pak Darno ditawari. Walaupun dosen bukan jurusan kesenian, dia sudah kita anggap seperti keluarga juga. Lalu Mas Sabri. Dia pasti mau karena ia dan istrinya sudah sama-sama tua, bakoh, anak-anaknya sudah pada berhasil dan tinggal di luar negeri semua.”

Gelem… Aku melu! Aku mau ikut karena di situlah sebenarnya semangat kebersamaan kita diuji,” Mas Yoyok menyela kembali.

Mas Plukis yang membuka obrolan dan mengajukan ide kompleks makam seniman tak terima. Dia yang sedari awal sudah pasang kuda-kuda ingin menjatuhkan mental Mas Yoyok, langsung mengambil alih pembicaraan. Kali ini, dia menunjukkan mimik sangat serius, dengan kalimat-kalimat datar dan berusaha tampil bijak.

Ngéné Yok. Kowé bolah-boleh saja ikut ngapling di sana. Bahkan, aku rasa kanca-kanca juga akan rela memberimu beberapa meter persegi seperti yang kamu butuhkan. Tapi, apa kamu sudah berpikir panjang soal semua konsekwensi keikutsertaanmu nanti? Tenan, tak usahlah kamu ikut iuran segala,” ujar Mas Plukis.

“Iya, Yok. Aku mau kok membagi jatahku denganmu. Bener omongannya Pakdhe Plukis, apa sudah kamu pikir masak-masak. Abot, lho sanggané?” tukas Pak Jojo.

“Wis.Kebersamaan, guyub­-nya kita sebagai seniman lebih penting dari segalanya…,” sambung Mas Yoyok.

Sik ta, Yok. Pikiren kanthi wening! Dengan jernih dan tenang berpikir, kamu akan tahu bagaimana menentukan sikap. Aku itu tahu betul kamu, dan tak ingin menyulitanmu dalam urusan beginian,” ujar Mas Plukis.

Mas Birok yang sehari-harinya adalah atasan Mas Yoyok tak segan membuka borok. “Kowe itu lho, Yok, mèlu-mèlu waé. Tak usah ikut-ikutan, wong slip gajimu selalu habis buat ngangsur utangan gitu, kok!”

“Apa ora mesakaké anak-cucumu kelak, rekasa kalau mau nyekar tiap malem Jum’at. Ziarah nyadranan saja, belum tentu bisa datang membersihkan nisanmu, lho,” ujar Mas Birok.

Mas Yoyok terdiam. Dia merasa sudah di-skaak mat oleh para koleganya sendiri. Berpikir ia untuk menyerang balik, menyelamatkan muka sekaligus balik mempermalukan. “Wah, kok jadi buka-bukaan gaji? Ini tak fair,” ujarnya. Mas Yoyok hanya membatin, lalu berhitung ulang. Mau menyanggah, takut semakin banyak boroknya diuarkan. Dari kesukaannya mabuk yang menggerogoti uang belanja, hingga dimana SK PNS-nya diagunkan.

Ngéné, lho Yok… Pikiren! Kita mati dan nyaman di sana. Kita bisa membuat pentas ketoprak atau kolaborasi wayang orang lalu manggung di pelataran Candi Sukuh. Bahkan, bila saatnya tiba, kita bisa ancik-ancik puncak candi lalu melompat ke surga. Tapi apa kita tega?

Dari dunia kita, yang bisa melihat ke dunia dengan terang benderang, lalu kita saksikan anak-cucumu pontang-panting nyari pinjaman kendaraan hanya untuk sekadar menengok kita di sini, apa saya tak ikut nggrantes, prihatin kepada mereka?” imbuh Mas Plukis.

Ho’oh Yok. Mendingan kamu tak usah ikut program ini. Siapa tahu anak-cucumu tak berani bilang kepada anak-anak kami untuk nunut, nebeng nyekar kemari. Kalau anak-anak kami menghampiri, mungkin tak bakal keberatan. Tapi kalau terlalu sering dan itu membuat anak-cucumu sungkan, gimana? Apa kamu tidak kasihan kepada mereka.” Mas Birok terus nyerocos, sampai akhirnya sebuah tawa meledak, ditujukan untuk mengolok-olok Mas Yoyok.

Merasa kalah dan tak punya bahan berkilah, Mas Yoyok berusaha mengusir galau. Diraihnya cerutu bawaan Mas Plukis yang sengaja digeletakkan di atas meja warung. Ingin sekali ia mencicipi cerutu seharga Rp 125 ribu per batang itu, apalagi bungkus rokok kretek kesayangannya sudah dibuangnya sejak setengah jam lalu.

Ééé….!” ujar Mas Plukis.

Halahhh! Aku nyoba satu saja, mosok nggak boleh?!?” jawab Mas Yoyok.

“Aku nggak tanggung lho, ya….. Itu mahal! Kalau sampai ketagihan, aku gak tanggung jawab,” kata Mas Plukis.

Mas Yoyok mencoba membakar cerutu berwarna coklat tua itu. Baru sekali menghisap, ia terbatuk.

“Bu, minta teh. Jangan terlalu panas…,” ujar Mas Yoyok kepada pemilik warung.

Wis, minumlah, biar aku yang bayar. Duitmu buat ke dokter saja. Bu, semua yang dimakan Yoyok masukkan ke tagihanku saja,” tukas Mas Plukis.

5 thoughts on “Nisan Jangan Jadi Beban

  1. Wakakakakak, gojeg kere tenan kih!
    Semoga komplek pemakaman para seniman itu ndak dijadikan tempat untuk nyari pesugihan, xixixixixi

    santai wae, durung ana sejarahe makam seniman kanggo golek pesugihan. kalau untuk nyari wangsit bikin puisi sudah banyak, terutama untuk bikin pu*isi tidur…
    /blt/

Leave a Reply