Ingat Aku, Ingat Kesalahanmu

Aku menuliskan ini karena dalam waktu satu jam, menjumpai beberapa kesalahan, yang sebagian besar orang menganggap sepele. Remeh. Padahal, bagiku itu fundamental, sehingga aku menyebutnya sebagai kesalahan fatal! Memang, ke-Indonesia-an seseorang tidak bisa dilihat hanya lewat cara berbahasa semata. Tapi, mengabaikan bahasanya sendiri, menjadi penanda seseorang sedang memasuki sebuah perbuatan dosa terhadap bangsa (menurutku).

Pada status Facebook seorang teman, kalimat yang dia tulis mengandung dua kata yang salah: merubah dan sekedar. Lalu, pada Guideline yang terpampang pada situs resmi Photo Contest Pesta Blogger 2009, juga aku dapati (lagi) kata merubah.

Pada kasus status Facebook, aku kirimkan catatan ke kotak pesan pemilik akun. Itu semata-mata kutempuh agar tidak ‘mempermalukan teman di depan publik (Facebook).

Mungkin Anda akan bertanya, kenapa saya menulis status di Facebook-ku dengan pernyataan:

cerita, ada DUA SEBAB belum memutuskan iku kontes foto pertablogger 2009. PERTAMA, belum punya foto….. KEDUA, ada ketentuan “tidak boleh meRubah obyek gambar”. padahal, aku sangat ingin menjadi RUBAH, lho… (editor bahasane sopo to?)

dan lantas kuteruskan dalam kotak komentar dengan tulisan (berbahasa Jawa):

*ketoke, copywriter-e durung tau entuk order gawe tulisan advertorial, tur pada ora seneng mikir konten. apa maneh mencintai (bahasa) Indonesia….. tapi aku yakin dudu karana sponsore Amerika sing ora ngerti basa Indonesia. xixixixix…..*

Eh, dimana sih letak kesalahannya? Cari sendiri saja. Mau tanya guru semasa SD boleh, mencari di kamus silakan, diabaikan pun sakarep sampeyan. Jangan pusing-pusing, toh kalau kedua kata bentukan itu bisa saja lenyap dari Indonesia karena bisa saja tiba-tiba diklaim sebagai milik Malaysia. Aku gak mau mendikte, sebab sejatinya juga masih tak bernyali, kecuali masih berani (narsis?) dianggap kemaki di sini. Luwèh!

Anda mau menyebut apapun, aku rela. Karena, nyatanya toh tampak tak beradab. Silakan pula bila ingin menanggapi. Targetku cuma satu: dengan kemarahan Anda semua terhadapku, maka kuharap Anda jadi ingat perlunya menghindari kesalahan-kesalahan yang sudah dianggap remeh itu. Salahkah Anda? Tidak!

Sebab, bisa saja orang se-Indonesia menyepakati kata merubah lebih betul dibanding mengubah. Toh, yang namanya bahasa itu dihasilkan dari sebuah konsensus, kesepakatan bersama, yang jelas-jelas tak diharuskan menyepakati melalui sebuah referendum. Ya, kan? Hahahaha…..

Sumangga, terserah Anda menilaiku. Yang penting aku berani teriak di sini, di rumah (eh, blog) saya sendiri…. Salah atau benar, silakan bikin kesepakatan sendiri. Pilih dengan cara voting atau musyawarah mufakat, semuanya sah-sah saja. Uhuyyy……..!!! Dengan ingat aku, (mungkin) itu bisa menjadi pengingat atas kesalahanmu, atau setidaknya akan hati-hati menulis dan berbahasa!

(Untuk panitia PestaBlogger2009, c/q Kang Iman Brotoseno, aku minta maaf, ya… Event-mu kupinjam untuk dijadikan bahan olok-olok, agar orang Indonesia tahu, bahwa empat hari setelah acara puncak PestaBlogger2009, akan diperingati Sumpah Pemuda, yang mengingatkan kita pada peristiwa pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang suku, daerah, bahasa, agama dan sebagainya untuk membuat identitas bersama, sebuah identitas kebangsaan, salah satunya dengan bahasa)

5 thoughts on “Ingat Aku, Ingat Kesalahanmu

  1. rubah = luwak?
    me-luwak
    di-luwak
    ….
    kalo sehari-harinya ngomong dan nulis pake bahasa giul (saking gaulnya, jadi giul), ya susah Kang. Bakal butuh editor yang kejam lagi beringas untuk tetap menjaga selalu berada di jalan yang benar.

    gak harus dengan kekerasan fisik. cukup membangun kesadaran saja. kalau semua sadar berbahasa yang baik, rasanya kita juga bisa belajar tidak mengabaikan sesuatu yang tampak remeh. ya, kan?
    /blt/

  2. pernah saya tempo lalu saya bikin judul ada kata2nya merubah, untung ada polisi eyd lewat dan akirnya bergantilah ke mangubah.

    mangubah apa mengubah, kang? hehe… (piss)
    /blt/

  3. kata “pesta blogger” juga salah gak mas.
    saya pribadi jadi risih mau ikut.
    ada kata pestanya. kaya bukan orang sini 🙂

    bahasa itu soal selera, kang novi. jadi, tak tepat menggunakan istilah ‘salah’ atau ‘benar’. kita tak bisa menyalahkan siapapun soal penentuan diksi itu. tinggal bagaimana spirit mengisi dan memaknai kata ‘pesta’ itu saja, mau seperti apa?

    kita bisa duduk bersila melingkari tumpeng dan aneka makanan lalu menyebutnya pesta juga, bukan? hehehe….. lakum dinukum waliyadin wae, lah.
    /blt/

  4. ngene iki asline sifate wong indonesia
    ora ngerasa nduweni indonesia
    Nasionalisme kang ana mung sak dremo SEMU alias ILUSI tok

    mulane aku ora masalah nek eneng negara liya kang nge-klaim pulau, budaya, uga basa nek perlu presidene sisan, amergo bangsa iki ora tau nggagas alias ngeremake indonesia dewe. diklaim wong liyo malah diopeni kanthi apik horfofo 😀

    ya wis, mari kita perbaiki bersama negeri dan bangsa ini…
    /blt/

Leave a Reply