Larangan Buka Puasa Gereja Dicabut

Alhamdulillah….. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Surakarta mencabut larangan penyelenggaraan buka puasa murah oleh GKJ Manahan. Karena itu, pihak gereja akan kembali menyediakan menu murah untuk masyarakat tak mampu itu mulai Selasa (1/9). Kali ini, tidak di kompleks gereja, namun di trotoar jalan depan gereja. Perjamuan Terakhir untuk Muslim, semoga tinggal kenangan, menjadi pengingat kita semua akan perlunya persaudaraan.

Pelarangan secara lisan oleh Kasat Intelkam Komisaris Jaka Wibawa itu dianulir secara lisan pula oleh Wakapoltabes Ajun Komisaris Besar A. Marhaendra, Senin (31/8) siang, saat Marhaendra menerima belasan anggota delegasi organisasi kemasyarakatan dan wakil GKJ Manahan di kantornya.

Apapun, keputusan itu menarik. Apalagi, dalam pertemuan itu polisi juga mengaku kalau pihaknya melakukan pelarangan berdasar sepucuk surat keberatan dari MUI dan dalam rangka menjaga ketentraman serta ‘mencegah hal-hal yang tak diinginkan’.

Wakapoltabes menyebut peristiwa pelarangan sejak Jumat (28/8) itu sebagai miskomunikasi, sehingga timbul perbedaan persepsi. Prinsipnya, program nasi murah tetap bisa berjalan, namun dilaksanakan di luar kompleks gereja. “Ini kan kegiatan sosial untuk kemanusiaan dan toleransi. Silakan berjalan, namun di tempat umum. Kami anggap, masalah ini selesai, agar jangan sampai dimanfaatkan pihak-pihak lain,” kata Marhaendra.

Yang menarik dari pertemuan itu, hadir Ketua Forum Perdamaian Lintas Agama H Al Munawar, yang memberikan testimoni bawah dirinya pernah diundang GKJ untuk berceramah di hadapan para tukang becak yang sedang menikmati buka puasa di gedung serbaguna GKJ.

“Pengunjung tidak dimasukkan ke dalam gereja, namun di gedung serbaguna. Yang saya beri tausiyah juga umat muslim. Jika dalam program itu sampai ada siraman rohani dari pihak nonmuslim, saya juga tidak mau,” ujar Munawar.

Dan, kata Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani, tak cuma Al Munawar yang pernah diundang berceramah di sana. “Hampir tiap tahun kami menghadirkan ulama-ulama muslim untuk memberikan ceramah agama. Itulah esensinya, bahwa kegiatan ini dalam rangka menjalin kerukunan antarumat beragama,” tuturnya.

Uniknya, tak cuma diurus oleh pengurus atau jemaat gereja, kelanjutan penyediaan menu buka puasa murah itu juga melibatkan perwakilan dari berbagai agama. “Biar lebih menyenangkan, menunjukkan kepada masyakarat bahwa perbedaan keyakinan tak boleh merusak persaudaraan sesama manusia,” ujar Retno.

Alhamdulillah. Mungkin karena doa kita semua, yang merasa teraniaya karena semangat kebersamaannya ternoda, Tuhan mengabulkan dan membuka mata hati polisi. Semoga ke depan, kejadian semacam pelarangan kemarin tidak terjadi lagi. Amin.


Catatan: Posting ini sekaligus menjadi ralat atas kekeliruan penulisan nama Pdt. Ratna Ratih. Yang benar adalah Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani.

23 thoughts on “Larangan Buka Puasa Gereja Dicabut

  1. terkadang para petinggi dan penguasa kita memang terkaget-kaget dengan inisiatif sederhana rakyat di bawah. tetapi syukurlah, hal itu sudah berakhir.

    semoga tak terjadi lagi di masa mendatang. amin.
    /blt/

  2. Yang jadi pertanyaan saya, kenapa tempatnya harus di kompleks gereja? Tidakkah ada tempat lain yg tidak membawa-bawa nama agama? toh penyelenggaranya bukan hanya jemaat gereja. Dengan begitu saya memaklumi kalau ada orang yang khawatir bahwa ini usaha untuk menjauhkan umat muslim dari masjid.

    Saya hanya berharap semoga ini hanya sekedar urusan jual-beli belaka, analogi saya seperti sebuah restoran yg menyediakan diskon khusus untuk buka puasa, disertai fasilitas2 lain seperti taushiyah dsb. Semoga tidak ada maksud-maksud tertentu di balik itu…

    Kalau pendapat saya pribadi sih, daripada terjadi perdebatan dan kemudian dimanfaatkan oleh pihak2 yg tidak bertanggung jawab, lebih baik tidah usah ada acara seperti itu. Menghormati orang yang berpuasa bukan berarti mengundang mereka makan di gereja. Akan lebih baik kalau membiarkan saja mereka ke pergi masjid, karena umat muslim ya tempatnya di masjid. Atau kalau mau memberikan sesuatu, lebih baik kalau diserahkan saja ke pengurus masjid.

    Ini hanya pendapat saya pribadi lho, mohon maaf kalau ada salah2 kata 🙂 Saya cuma merasa aneh saja, orang yg katanya muslim kok malah lebih memilih ngumpul di gereja daripada di masjid…

    Mas Triyan, ketidaktenangan hidup, justru sering diusik dari prasangka dari kita. saya biasa bergaul dengan orang-orang nonmuslim, blusukan ke dalam gereja, masuk klenteng, pura, gak masalah tuh? saya merasa tak terganggu akidah saya. masih ingat surat Al Kafirun, kan?

    saya rasa, tak perlulah sampeyan berprasangka sebegitu jauhnya. sekali-sekali, mainlah ke sana. tahu dari dekat akan menjauhkan sampeyan dari prasangka, juga gambaran keliru karena ‘serba dikarang/direka-reka’. kapan? mari kutemani… aku janji, biarlah aku yang menanggung dosamu kalau sampai itu keliru…

    /blt/

  3. ari kristyono

    Wah lega. Ini tentu tidak lepas dari semua doa dan kepedulian semua pihak yang menginginkan perdamaian dan kerukunan antarumat beragama di Solo. Pelajaran untuk Pak Polisi, agar tidak gegabah mengayunkan tongkat kewenangan begitu saja.

    mari, kita doakan bersama agar institusi kepolisian kita kian kuat, aparaturnya kian cerdas dan bijak bersikap dan mengambil keputusan. tak ada negara demokrasi yang hebat tanpa hukum yang kuat dan aparat penegak hukumnya yang juga kuat. jangan biarkan polisi sendirian, kecuali kita ingin negeri ini mundur lagi ke belakang. kesalahan sekali dua, anggap saja sebagai harga yang harus dibayar untuk perbaikan. jangan benci institusi kepolisian.
    /blt/

  4. Mas Blonthank, tankqyu yo, lewat tulisanmu yang bagus, menjadikan persaudaraan dirajut. Puji Syukur pelayanan kepada yang miskin dapat diteruskan, bravo solo;. All the best!!

  5. belibis

    Mas Blonthank, tankqyu yo, lewat tulisanmu yang bagus, menjadikan persaudaraan dirajut. Puji Syukur pelayanan kepada yang miskin dapat diteruskan, bravo solo

  6. fathan

    permainan bahasa kah?
    saya kok merasa tetap aja “dilarang” kalau menyimak kalimat berikut; “Prinsipnya, program nasi murah tetap bisa berjalan, namun dilaksanakan di luar kompleks gereja”

Leave a Reply