Dewa Tokai

Tokai bukan nama benda asing bagi saya, sebagai perokok aktif. Sejak SMA, atau sekitar 25 tahun lalu, saya mengenal produk Indonesia bermodal Jepang itu. Malah, pada awal 1980-an itulah, saya menjumpai Tokai berfungsi ganda: sebagai korek sekaligus bisa digunakan menulis. Hampir satu boks yang entah isinya berapa, pemberian sepupu saya itu bawa pulang dari Jakarta. Sebagai oleh-oleh yang tak lazim pada masa itu.

Unik memang. Entah kenapa fungsi Tokai sebagai lighter disandingkan dengan ballpoint. Yang jelas, dulu saya suka pamer di kelas, menulis dengan menggunakan korek berwarna hitam doff itu. Eh, jangan-jangan, seperti produsen rokok, kalangan pelajarlah yang dijadikan target pasar Tokai, ya? Sebab ibu-ibu rumah tangga, cenderung lebih memilih korek api batangan bermerek Polar Bear atau bergambar seorang pemikul berkulit hitam sebagai pasangan tungku.

Yang pasti, Tokai lantas bersahabat dengan saya. Kokoh dan tahan panas, sudah terbukti. Pesaingnya hanya satu, kalau tak keliru bermerek Crick(l)et? Korek kompetitor Tokai ini paling mudah dijumpai di supermarket, terutama Hero. Biasanya, bersanding atau berdekatan dengan kasir. Merek lain? Banyak jenis abal-abal, dengan merek yang tak perlu saya sebut di sini.

Dua kali saya mengalami celaka. Pertama, saat mengemudi mobil bersama teman, korek di atas dashboard meledak, casing-nya berkeping-keping. Andai saya atau teman saya sedang merokok ketika itu, entah seperti apa nasib kami. Pengalaman kedua, dada saya tiba-tiba terasa dingin, sesaat setelah terdengan suara dub!. Usut punya usut, korek gas abal-abal itu pecah di saku jaket yang saya kenakan. Kapok!

Di Solo misalnya, saya hampir hafal kios-kios dan warung mana saja yang menjual Tokai. Maklum, persebaran korek ini tak sebanyak kini, yang bahkan kios-kios rokok kelas kakilima pun sudah tersedia. Dulu, beberapa teman, bahkan kaget ketika tiba-tiba saya berhenti di sebuah warung, hanya untuk membeli korek branded itu. Sejak berharga Rp 1.250 hingga kini mendekati Rp 2.000 per buah. Langganan saya, di antaranya warung di Jl. Yosodipuro, Jl. Dr. Supomo, Jl. Ronggowarsito dan Jl. MH Thamrin.

Oh, ya, berani taruhan, orang yang diceritakan dalam blog sebelah itu, pastilah saya. Saya lebih baik kehilangan rokok sebungkus daripada kehilangan korek. Karena itu, saya suka ribut kalau kehilangannya. Sama jengkelnya ketika lupa memasukkan ke dalam bagasi, korek itu disita petugas bandara.

Asal tahu saja, warna hijau atau putih merupakan pilihan favorit saya. Kalau kebetulan tak dijumpai kedua warna itu, barulah saya memilih seadanya. Yang pasti, saya sama sekali tak suka warna biru. Mendingan saya membeli korek lidi daripada warna itu, walau bermerk Tokai. Soal kenapanya, tak perlulah saya jelaskan di sini. Intinya, beraroma ideologis……

Bahkan, ketika awal 1990-an dulu, saya sering mengisikan gas di alun-alun utara Solo atau di sekitar supermarket. Sekali refill, bayar cepek. Anehnya, tradisi refill itu saya dapati di kampung saya juga. Sebab bapak yang dulu perokok, ternyata punya kebiasaan sama dengan anaknya. Tapi, itu cerita masa lalu.

Beda waktu, beda kasus. Sekali waktu, saya menjumpai seorang teman sedang membakar putaw (keluarga sabu-sabu). Dengan korek Tokai juga. Kenapa? Sebab jenis lighter ini bisa diatur hingga nyalanya kecil, warna apinya biru, tanpa unsur kuning sama sekali. Konon, itu menjadi ‘alat kontrol’ sehingga pembakaran putaw jadi ekonomis. Gila!!!

Dari kejadian itu, saya jadi mafhum, sampai dimana ‘varian’ fungsi lighter itu. Sampai-sampai, di kemudian hari (bahkan hingga kini), saya sering menuduh seseorang sebagai pemadat kalau saya menjumpai seseorang itu membawa korek dengan ciri melepas logam pelindung api dari bodinya. Hampir bisa dipastikan, para pemadat menggunakan cara yang demikian seragam. Berani taruhan, deh………..

Singkat kata, Tokai menjadi benda yang sangat berarti. Baik bagi perokok seperti saya, atau beberapa pemadat, drug abuser yang pernah saya kenali. (Tapi, untuk yang saya sebut belakangan, sebaiknya dijauhi dan dihindari. Jangankan menjadi pengguna yang bikin parno alias paranoid dan merusak masa depan, dekat dengan abuser saja, kalau timing-nya tak tepat, bisa celaka. Misalnya, Anda sedang berdekatan dengan seseorang yang jadi target operasi/TO polisi, lalu ikut digerebek atau istilahnya kegèp. Emang enak?) Hehehe…. merokok saja tak baik untuk kesehatan, apalagi jadi pemadat!

Namun, selain bersahabat dan berguna, Tokai bisa menjadi pemicu sakit hati. Kasusnya, bisa jadi sederhana menurut Anda, namun ternyata menjadi kenangan sepanjang masa, bagi saya dan teman-teman.

Pada suatu malam, seorang teman mabuk berat akibat berbotol-botol minuman dia tenggak di sebuah kafe kecil. Karena remang-remang, dan waktunya tak banyak menyodorkan pilihan, maka dua waitress kafe sudah ‘layak’ dijadikan harapan. Kebetulan, seorang teman kami masuk kategori doyan perempuan.

Posisi giting, tak cuma membikin tubuh kepayahan. Nalar dan rasa, pun ikut sempoyongan sehingga menuntunnya kepada imajinasi yang bukan-bukan. Intinya, ia ingin menutup malam bersama salah satu waitress yang diam-diam sudah diincarnya sejak pertama kali memasuki kafe.

Dengan jalan memesan menu tambahan, sang teman memanggil si waitress sekaligus ingin memastikan. Tubuh sih tampak seksi, apalagi di bawah penerangan yang serba minim. Kalaupun bisa memandang, pastilah hanya siluetnya semata. Ketika sang waitress datang mengantar pesanan, sang teman menyalakan Tokai yang sengaja disetel menyala agak besar agar terang. Puas memandang, datanglah kecewa. Rupanya, wajah si perempuan cukup ‘sederhana’, tak secantik imajinasinya. Bisa ditebak, datanglah kecewa.

Sejak malam itu, sang teman memperkenalkan istilah baru: Dewa Tokai!

Kini, ia tak lagi sembarangan berfantasi setiap memasuki kawasan remang-remang. Dengan korek, eh Dewa Tokai, ia akan selalu menguji sebelum menjelajahi dunia fantasi yang penuh imajinasi……….

5 thoughts on “Dewa Tokai

  1. ronaldo

    saya juga pengguna tokai, bisa habis sehari 2 :p tapi bukan dipakai untuk merokok dan sebagainya :p

    saya pakai tokai untuk sulap hehehe, buat api yang besar ngak masalah pake tokai…

    cuman harapan saya bisa dapet lighter yg bisa di refill, biar ngak harus beli terus…. 2 hari minimal 1 pasti abis……

  2. TOKAI! aha…
    yang menemani saya di setiap malam sabtu bersama teman-teman setelah seminggu bekerja keras bagaikan kuda!
    btw, memang ini korek the most wanted, termasuk di kampus saya!

    most wanted? kaya penjahat wae, ya… heheheheh
    /blt/

  3. Mas Blontank yang terhormat di ujung sana….

    Terharu kami membaca ulasan uniknya mengenai produk kami..kami yakin banyak juga teman2 yang punya pengalaman seru macam punya mas itu.
    Kami sangat sayang kepada para pelanggan, makanya sampai saat ini Tokai masih terus memberikan yang terbaik untuk para penggunanya, kalau melihat dari lamanya memakai Tokai, mas blontank pasti seneng pake yang persegi M4L..namun kami juga punya varian lain yaitu M12 yang juga sama baiknya dan mantapnya. Sedangkan untuk pengguna yang senang dengan Tokai bergambar pada bodinya juga bisa beli di supermarket2.
    Sebagai apresiasi kami untuk mas blontank…kami sangat berterima kasih telah menggunakan Tokai sebagai teman sehari2, untuk itu mohon dapat memberikan informasi alamat untuk dapat kami kirimkan berupa suvenir..
    sekali lagi..thanks for using Tokai…

Leave a Reply