Perjamuan Terakhir untuk Muslim

Jumat (28/8) rupanya menjadi ‘Perjamuan Terakhir’ bagi umat muslim dan rohaniwan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan. Tukang becak dan kaum miskin yang biasa memperoleh menu buka puasa seharga Rp 500, harus gigit jari sejak aparat Kepolisian Kota Besar Surakarta melarang program buka puasa murah itu.

Adalah Kepala Satuan Intelkam Komisaris Jaka Wibawa dan staf yang mendatangi gereja pada Kamis (27/8). Intinya, kepolisian melarang kegiatan sosial yang sudah berlangsung 13 tahun itu dengan alasan ada sebagian umat Islam yang keberatan. Konon, polisi tak menyebut nama dan organisasi yang mengatasnamakan umat Islam itu.

“Polisi tak bisa diajak dialog,” ujar Pdt. Ratna Ratih. Bahkan, polisi tak meluluskan permintaan gereja agar polisi mengeluarkan surat larangan sebagai pegangan dan dasar penghentian kegiatan mulia itu.

Ratna mengaku sedih. “Indonesia mau dibawa kemana kalau polisi saja tunduk pada tekanan sebagian warganya sendiri dengan mengorbankan sebagian besar yang lain?” ujar Ratna.

Begitulah Surakarta atau Solo. Kota yang masyarakatnya dilabeli ‘bersumbu pendek’ secara politik itu memang menjadi ujian bagi siapapun, terutama penjaga ketertiban umum. Yang jadi masalah, pemahaman pluralitas yang segelintir pejabat kepolisian yang dangkallah yang justru memunculkan masalah.

Kecurigaan pada Kristenisasi? Sebagai muslim, saya sungguh tak percaya. Tak semudah dan semurah itu seseorang mudah berganti akidah. Di sisi lain, para pendeta dan rohaniwan GKJ juga tak akan gegabah bertindak demikian.

Bagi saya, ini menunjukkan wajah polisi yang sebenarnya. Berdalih ingin menjaga ketentraman, justru dengan cara memunculkan persoalan. Sebagai orang yang pernah didaulat pendeta, pastur dan kiai menjadi ketua forum antar-iman (meski kemudian mundur karena merasa tak sanggup), saya merasakan betul bagaimana peristiwa kerusuhan Mei 1998 telah membuka ruang kesadaran perlunya menjada kebersamaan, dialog antarkelompok masyarakat untuk mencapai mutual understanding massal, bagaimana merawat kebhinekaan dan ketentraman bersama.

Pondok pesantren yang tak berwajah keras, bahkan menjadi pusat penyelamatan etnis Tionghoa ketika rumah dan tokonya dibakar dan dijarah. Ketika teror terhadap gereja datang bertubi-tubi pasca 1998, santri dan pemuda gerejalah yang bahu-membahu, dengan berpakain preman menjaga dan mengawasi gereja, terutama pada saat dilangsungkan peribadatan.

Kaum Kristiani paham, mana umat Islam yang membawa agama sebagai pemicu sengketa, dan mana umat Islam lain yang bisa bersama-sama menjaga ketentraman, hidup berdampingan, tanpa membedakan latar belakang agama dan etnisitas.

Hari ini adalah malam penuh duka bagi saya. Yang mengingatkan kembali peristiwa semasa krisis, dimana beras bantuan dari gereja diharamkan, lalu sejumlah kiai berusaha melakukan pendekatan dan memberi penjelasan, bahwa beras itu tidak beragama, dan halal adanya untuk dikonsumsi.

Polisi, sungguh kalian kembali meretas ironi. Ketika kalian gagal memburu teroris dan sedang dipojokkan kekuatan-kekuatan lama yang ingin menggeser peran kalian, justru dengan arogan kalian menghancurkannya kembali. Lihatlah masa depan Indonesia dengan nurani. Bacalah kembali buku Ilusi Negara Islam yang setidaknya memberi petunjuk ke arah mana gerakan-gerakan sebagian umat Islam bermuara.

Polisi, bekerjalah dengan nurani. Kubur itu yang bernama arogansi! Coba ingat, dengan membeli menu buka puasa murah di gereja itu, berapa uang yang bisa disisihkan 500 pengemudi becak dan kaum miskin pada lebaran nanti? Saya tahu, duit segitu sangat tak berarti bagi polisi…..

Updated: Satu hal menarik yang terlewat saya tuliskan, adalah fakta bahwa di GKJ Manahan, biasa menghadirkan ulama untuk memberikan semacam siraman rohani bagi warga yang sedang menikmati buka puasa di sana. Sebuah nyata, dimana kerukunan dan kebersamaan menjadi hal yang tak bisa ditawar-tawar, demi kerukunan dan kemaslahatan sebuah inisiatif mulia rohaniwan gereja.

“Ramadhan kali ini belum sempat kami hadirkan ulama kemari. Entah kenapa, kemarin-kemarin ada perasaan aneh. Dan ternyata, itu seperti menjadi firasat akan datangnya kejadian seperti sekarang,” ujar Pdt. Ratna.

Saya jadi teringat peristiwa 1998, ketika pertama kali saya (tentu atas dukungan banyak pihak, termasuk Masyarakat Dialog Antar Agama/MADIA, serta JARING, komunitas lintas iman dan etnis) dan sejumlah agamawan di Solo menginisiasi masuknya ulama ke gereja. Alhamdulillah, sukses.

Semula (karena ragu dan kuatir ada ekses), seorang kiai muda berceramah di depan anak-anak muda dan remaja gereja. Rupanya, orang tua mereka juga tertarik sehingga selang beberapa hari, sang dai tampil di mimbar, berceramah di depan jemaat gereja seusai kebaktian. Alangkah indahnya suasana ketika itu, dan ternyata bisa sejuk pada waktu-waktu sesudahnya, hingga datangnya MALAPETAKA MANAHAN.

GKJ Manahan dilarang berbagi, bersosialisasi, dan ber-ukhuwah dengan komunitas muslim, oleh ‘penguasa’ : aparat Poltabes Surakarta yang bermarkas di Manahan pula. Hmmm… Pak Polisi, kalau Anda muslim, ingatlah prinsip demokrasi sebagaimana diwahyukan melalui surat Al Kafirun: bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Masing-masing, mengurus kewajiban masing-masing. Seperti polisi yang mengurus ketertiban, jangan masuk ranah tabi’at mereka yang lebih suka berbuat keributan. Polisi adalah organisasi negara, bukan laskar bentukan nafsu menang-menangan.

CATATAN: Kerelaan Anda meninggalkan catatan di bawah tulisan ini, saya yakin akan bermanfaat untuk kebhinekaan di Indonesia. Spirit yang dilakukan gereja itu sama dengan spirit rahmatan lil alamin dalam Islam. Merawat kebersamaan, mewujudkan perdamaian dan keadilan. Jangan pernah takut menyuarakan kebenaran. Intel pasti membaca pernyataan dan aspirasi kita semua. Dan, semakin banyak reaksi, insya Allah jadi doa yang dikabulkan Allah ta’ala. Biarkan Tuhan menggunakan hak prerogatifNYA, menyadarkan polisi atau melaknatnya.

KHUSUS POLISI/INTEL: Sebaiknya baca juga komentar-komentar pembaca atas tulisan yang sama, yang saya crossposting di Politikana. Malah, di sana sudah ada juga karikaturnya

Updated: Setelah ‘libur’ selama empat hari, kegiatan penyediaan menu buka puasa murah ‘diijinkan’ kembali oleh Poltabes Surakarta. selengkapnya, baca di sini

137 thoughts on “Perjamuan Terakhir untuk Muslim

  1. implong

    biasa menekan, e…tiba-tiba ditekan, nah, kehilangan tekanan dech…
    ”salah satu tanda orang baik adalah, tidak pernah menjadi penghalang bagi seseorang berbuat baik”

  2. ichwan

    Ngakunya berbicara atas nama ayat-ayat suci dari Yang Maha Dalang (mengutip Slamet Gundono), tetapi kalau dipikir-pikir tak lebih dari gaya berpikir NEOLIBERAL. Masak orang bagi-bagi makanan gratis dinilai KRISTENISASI. Hanya orang neoliberal yang selalu berpikir bahwa setiap tindakan itu pasti ada maksud-maksud tertentu, transaksional.

  3. joko bodho reload

    Nggak percaya kalo ada organisasi Islam yang menekan polisi. Itu gawe-gawe polisinya sajah! Kalo bisa ditekan, buat apa jadi polisi? Kalopun benar ditekan oleh ormas Islam, ormas yang mana? suruh dia bikin acara serupa baru boleh ngelarang orang? Mana NU? Mana Muhammadiyah? Mana HT? Mana PKS? Mana PKB? Mana MUI? Mana? Mana? Mana? Mana menteri kesejahteraan sosial? Diam saja semua…

  4. hmmm…merawat situasi damai, toleran, peduli itu lebih susah daripada menciptakannya. hmm,pada dasarnya orang itu punya sifat homo homini lupus seperti kata pakde Thomas Hobbes. Ada ketakutan terhadap liyan atau the others yang bukan termasuk dalam kelompoknya. kalau kelompok itu diubah menjadi kelompok manusia yang masih mempunyai sifat kemanusiaan, apakah orang-orang itu masih takut?tidak ada istilah’kelompok tertentu’ dalam melakukan aktivitas humanisme. ah, kenapa aparat kok ya mau2 saja melarang, wong kegiatan itu tidak ada tendensi apa2 kok, selain menumbuhkan toleransi…

  5. dan ardana

    Kinerja kepolisian yang akhir2 ini mendapatkan pujian…akan ternoda dengan sikap kepolisian yang terjadi di Manahan…sebagai aparat ternyata tidak berani mengeluarkan surat pelarangan akan tetapi bertindak melarang tanpa sendi2 hukum…kita sebagai negara berdaulat dan berdasarkan Pancasila tentunya memiliki hak yang sama dengan siapapun warga negara di Indonesia dalam membina kebersamaan, dengan memberikan bantuan pada yang lemah tanpa pamrih apapun…ketakutan pengkristenan terhadap tindakan makan bersama bukan suatu alasan yang masuk akal…kalu memang demikian halnya marilah kita berlomba berbuat kebaikan untuk sesama kita, bukan hanya pandai larang melarang…Hidup Indonesia Raya, Merdeka

  6. Ironis. Mengurusi fakir miskin itu tugas negara. Ketika negara tidak mampu melakukannya dan ada anggota masyarakat yang bersolidaritas malah dihentikan oleh aparatnya sendiri. Kata Iwan Fals dalam sebuah lagunya, kalau negara nggak mampu memberikan kesejahteraan ya dibubarkan saja. Kalau negara nggak mampu menciptakan keamanan bagi warganya ya dibubarkan saja. Apa mesti begitu? Sinting! Solidaritas adalah bahasa kemanusiaan, lintas agama dan keyakinan. Kalian telah membungkamnya!

  7. Geger

    ketika agama diagung-agungkan.. kemanusiwiaan hakiki ditelantarkan bahkan diberangus.. ikut prihatin dan mengajak para saudara semua untuk selalu menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama atau bahkan yang tak beragama. salam damai..! Kang Blontankpoer, mohon ijin untuk link di facebook ya!

  8. sebenarnya ketidaksepakatan sebagian orang Islam itu wajar. merka boleh tak setuju. tapi caranya harusnya bukan dengan meminta polisi melarang acara itu. caranya dg dialog yang wajar. kalo banyak umat Islam cari buka puasa di gereja, bukan berarti mereka telah menggadaikan agama mereka kan? isu ini sangat sensitif di bulan ramadhan. harus ada dialog. jangan sampai polisi, apalagi FPi, yang turun tangan.

  9. uchie

    kaget bgt ada pemberitaan bhwbuka puasa murah di GKJ di tiadakan….secara rumahku di belakang gereja itu….hrsnya umat muslim bangga dan bertrimakasih krn ini namanya toleransi umat beragama.gw ngga akan liat lagi tukang becak,orang yg ekonominya kurang nunggu buka puasa dng wajah sumringah krn hanya dng duit 500 perak bs makan enak.Coba Bayangin wahai aparat POLISI seandainya kalian bernasib sama seperi tukang becak itu….pasti km akan kehilangan moment buka puasa kayak gitu….Katanya orang yg menegakkan keadilan…..mana jiwa sosial km?Kita itu dilahirkan sama..saya mualaf yg taun ini ingin beribadah,kalo kejadianya begini jadi ILFELL!

  10. ncus

    ketika petugas keamanan negara membuat peta konflik antar umat beragama, jalan satu-satunya adalah manusia harus lebih mempunyai tingkat kesadaran yang lebih tinggi dalam menjalani hidup di berbagai aspek. Kembali mengingat sejarah, dengan menjunjung tinggi semboyan negara untuk mempertahankan identitas bangsa, dengan bersama berjuang, tanpa melihat suku, agama.

  11. Mboeik

    Memang Yesus Kristus itu luar biasa…….. bagi sebagian orang dengan menyebut nama Yesus dia mendapat ketenangan/berkat…….. tapi bagi sebagian orang nama Yesus adalah sumber kebencian.
    Kejadian ini sudah sejak awal……. jangan berharap pada negara tapi berharap pada yang punya nama yaitu Yesus Kristus.

    Mari kita uji!
    Saat kita menyebut Allah atau Tuhan YME respons orang lain masih adem ayem, tapi saat kita sebut Yesus Kristus maka reaksi kebencian akan segera muncul………
    Tuhan Yesus Memberkati

  12. Heru Tjatur

    Ini adalah ironi dan saya hanya bisa bertanya kemana logika dan nurani perwira/petinggi kepolisian saat menyampaikan larangan itu. Apakah ini yang dinamakan “rahmatan lil alamin” atau hanya “rahmatan untuk segelintir orang islam”?

  13. Saya yakin dan percaya, kehendak baik itu kayak rumput yang menjalar. Semakin dia dibabat, semakin dia merambat. Saya selaku aktifis di gereja Katolik sangat bangga melihat tindakan Pak Poer yang amat berani, mengingat situasi hukum di negara kita yang kurang jelas. Mengatakan/ berbuat yang benar, kalau tidak punya duit dan kuasa, bisa dipenjara. Sebaliknya, mau melakukan/ berbuat apapun, sepanjang punya kuasa dan pengaruh, serta uang tunai, akan lancar saja bahkan diperlancar. Apalagi situasi sekarang dimana institusi kepolisian yang semakin memprihatinkan.

    Mohon ijin nge-link di blog multiply saya yah pak.
    Saya sudah link disini:
    http://franstheconductor.multiply.com/journal/item/59/Sampai_kapankah_Indonesia_akan_begini

    ahh mudah-mudahan berterima, saya berdoa sama Yesus supaya bapak, saudara-saudara yang menderita dan tertindas diberkati oleh Allah Yang Esa.

  14. Dimas Kris

    Pihak yang menekan polisi menutup kegiatan itu, mendapat angin segar dan legitimasi untuk menekan dan melakukan tindakan ilegal berikutnya demi sebuah tujuan terselubung. Dan akhir dari semua itu adalah terpecahnya Indonesia!! (hik. . . .hik . . . .hiks…)

  15. Cethul Yojo

    Biasa mas,

    Dulu kita kenal WASKAT “wajib setor keatas’ – moment begini, dimanfaatkan para ‘punggawa’ kesasar…cari nama atau sensasi yang tidak populis alias melanggengkan jabartan. Yang dilindungi dan dilayani bukan rakyat tapi “masyarakat sorodadu”. Weelleh–weleh kapan negoroku tentrem!! Wahai pengayom rakyat……ciptakanlah rasa aman bukan ‘mengamankan’ kepentingan anda !!!!!

  16. sari

    Saat kebenaran dan persaudaraan diberangus, apa lagi yang tersisa di negeri ini… nilai-nilai yang mempersatukan diganti dg paksa oleh nilai2 kebencian dan permusuhan…

  17. eko prasetyo

    Pulisi kok jadi centeng… Harusnya yang dilarang tu hal2 yang merugikan orang lain… Lah ini kegiatan yang membantu, menolong, menjunjung tinggi toleransi, kok malah dilarang demi permintaan segelintir orang (yang mungkin nyeseli amplop kandel)….

  18. raden mas gemblung

    aku wis mampir ….

    katanya (saudara muslimku) segala sesuatu itu yang penting “nawaitu”nya…
    namun saat ada (saudara non muslim) yang ber”nawaitu” penghormatan dan berbagi kasih untuk “saudara muslim”nya yang berkekurangan, kok ada juga saudara muslim (”oknum-yang belum sadar”) menolak (—-dan ironisnya “kaum penjaga keamanan” ikut-ikutan menghambat —–) partisipasi dari kaum ahli kitab ini…..
    opo tumon…
    speechless….

    salam TJB

  19. raden mas gemblung

    aku wis mampir ….

    katanya (saudara muslimku) segala sesuatu itu yang penting “nawaitu”nya…
    namun saat ada (saudara non muslim) yang ber”nawaitu” penghormatan dan berbagi kasih untuk “saudara muslim”nya yang berkekurangan, kok ada juga saudara muslim (“oknum-yang belum sadar”) menolak dan ironisnya “kaum penjaga keamanan” partisipasi dari kaum ahli kitab ini…..
    opo tumon…
    speechless….

    salam TJB

  20. Sebaiknya jangan merasa paling benar dengan hanya membagikan nasi bungkus kepada umat yang berlaianan agama.Indonesia butuh adanya rasa pengertian, bukan nasi bungkus atau sembako…*pissssssss*

  21. Pita soloradio

    Jumat sore kemarin sbelum mandi aku terima sms dr wartawan Tempo “Bu the Last Supper di GKJ Manahan” tak balas “maksude opo pak? setauku buka bersama di GKJ Manahan ki sampai akhir ramadhan”..Ompiq wartawan Tempo membalas lagi sms ku “biasa bu ada orang-orang yang ngakunya Islam tersinggung dengan kegiatan tsb” >Mak DEG…jantungku rasane langsung terhenti…dan ga terasa air mata jatuh satu satu…dalam bayanganku hny satu…GKJ Manahan hny ingin memberi bantuan pd kaum duafa…sementara itu ada segelintir oknum yang ingin menghancurkan HAK KAUM DUAFA atau orang miskin (walau saya jg tdk prnah mrs kaya scr materi, tetapi smg sy bisa kaya scr iman)…buka bersama di GKJ Manahan mempunyai 1 makna bagi saya bagaimana orang-orang Solo begitu mesranya menjalin hubungan…koyo konco lawas (dan memang bgt adanya)…saya sampe lupa klo Solo ada peristiwa 98 bila ingat tiap ramadhan GKJ Manahan sll membuka nasi murah…byk indikator utk melihat kondusifnya suatu kota…salah satunya GKJ Manahan sudah melakukannya selama belasan tahun ini.

  22. Liberalis

    Bung Arikrist menulis pada August 29th, 2009 12:15 am: “Barusan berbincang dengan seorang bintara Polri yang menyodorkan alasan klise: nanti kalau gereja diserbu, siapa yang tanggung jawab? Aku jawab: Polisi, sesuai dengan tulisan yang kalian pasang di pintu mobil itu kan MELAYANI dan MELINDUNGI.”
    Pada dasarnya polisi dibentuk untuk menjaga keamanan dan menjaga undang-undang agar tidak dilanggar. Kita negara demokrasi, menjual makanan murah tidak dilarang, gereja yang menyelenggarakan penjualan ini juga tidak melanggar undang-undang. Nah…kalau ada yang menyerang gereja karena itu, maka yang menyerang jelas melanggar undang-undang, itulah tugas polisi. Tindakan preventif bahwa “agar tidak diserang lebih baik dihentikan” tidak tepat. Yang harus dilakukan polisi adalah menjaga gereja itu kalau memang ada yang dicurigai akan menyerang, atau yang dicurigai akan menyerang itu yang diawasi.

  23. Anis Sholeh Ba'asyin

    Saya rasa tindakan polisi sama sekali jauh dari bijaksana. Seharusnya bukan tindakan sepihak yang dilakukan polisi, tapi justru dorongan untuk mempertemukan pihak yang keberatan dengan pihak Gereja dan pihak ‘ulama yang netral yang akan menjamin bahwa isu-isu murahan macam Kristenisasi (atau Islamisasi di daerah-daerah yang mayoritas Nasrani) sudah saatnya ditinggalkan.

  24. Kancane Blontank

    Wah menurutku yang sedang berpuasa ini, larangan untuk berprasangka buruk itu tidak hanya berlaku di saat berpuasa saja, tapi juga saat tidak berpuasa.

    Membubarkan segala sesuatu atas dasar prasangka buruk atau atas permintaan orang yang berprasangka buruk, menampakkan kurang professionalnya si pelaku pembubaran.

    Mengadukan prasangka buruk kepada otoritas penegak hukum, jelas-jelas melakukan fitnah yang keji.

    … dan hendaklah kamu berlaku adil …
    … kendalikan nafsumu dan takutlah hanya pada Allah …

  25. Anis Ardianti

    Ikut sedih Mas Blontank,
    Saya warga baru di Solo dan baru tahu ada tradisi semacam itu di GKL Manahan. Indah sekali.. Indaaaaaaah sekali. Belum sempat saya merasakannya, sudah hilang???
    Sial!!!

  26. Kepada saudara-saudaraku yang seiman (maksudnya adalah iman kepada kebaikan dan kemaslahatan), saya ucapkan terima kasih atas tanggapan-tanggapannya. Mari, jangan pernah berhenti menyuarakan kebenaran.

    Selama dilatari niat tulus demi menciptakan ketenteraman di muka bumi, saya yakin, ini juga bagian dari ibadah kita, menjalahkan perintah Tuhan untuk tidak berbuat kerusakan. Insya Allah, kita juga masuk kategori MUJAHID, sebab kita berjuang, berupaya menciptakan kedamaian di bumi.

    Salam untuk semuanya, simpati dan duka saya untuk sahabat-sahabat di GKJ Manahan, juga umat Kristiani dimana saja, yang telah bersama-sama dengan umat beragama lainnya, mengupayakan kebaikan di dunia. Semoga amal ibadah kita dicatat oleh-NYA, dan menjadi kunci pembuka pintu surga, nantinya. Amin.

  27. Putri

    Keterlaluan ya… saya rasa ini ulah sekelompok oknum yg gak suka ada toleransi keagamaan…
    pikir aja zaman skrg, sapa yg bisa beli nasi bungkus seharga 500 perak!
    emangnya polisi mau membuat dapur umum bagi para tukang beca dan keluarga tidak mampu??? keterlaluan!!!

  28. jenang gula

    1. adalah kerdil, bila orang Kristen berpikir ada umat bukan Kristen mau dibaptis karena nasi murah.
    2. adalah picik, bila ada orang bukan Kristen mau dibaptis hanya karena nasi murah.
    3. adalah gegabah, bila orang berpikir ada kristenisasi pakai nasi dan ada orang jadi Kristen karena nasi itu.
    4. adalah kerdil, picik dan gegabah (juga) apabila menuruti kemauan orang gegabah.

  29. Mas, aku berduka tenan…sudah 11 tahun dan berjalan dengan damai… kenapa tiba2 ada masalah?
    tak link untuk menunjukkan kebodohan aparat ataupun kesombongan sekelompok orang dibalik itu, supaya seluruh dunia mengutuk mereka! *marah*

    minta ijin aku link tulisan ini yaaa

  30. Permasalahan SARA memang akan memicu banyak sekali tanggapan, namun tidaklah bijak bila oleh karena segelintir orang menjadikan aparat secara semena-mena membenarkan apapun alasan segelintir orang tersebut untuk menghentikan kegiatan mulia itu.
    Bagi kaum muslimin dan muslimat, semoga tergugah hatinya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh gereja tersebut.

  31. arikrist

    Barusan berbincang dengan seorang bintara Polri yang menyodorkan alasan klise: nanti kalau gereja diserbu, siapa yang tanggung jawab? Aku jawab: Polisi, sesuai dengan tulisan yang kalian pasang di pintu mobil itu kan MELAYANI dan MELINDUNGI. Esensi dari hukum adalah memagari hak-hak warga negara supaya tidak berbenturan dengan hak warga negara lainnya. Dan kalian adalah PENEGAK HUKUM!! Lalu aku membayangkan pangkat mirip huruf M di bahunya, lah … sudah 20 tahun lebih jadi polisi kok gak tahu itu ya?

  32. sangat di sesalkan sekali tindakan aparat penegak hukum yang terasa gegabah tanpa memperhitungkn aspek aspek kedmaian yang tercipta karena plurlis bukankah sebenarnya itu satu contoh bahwa di bwah solo masih tercipta kedamaian antar umat yang memiliki perbedan yang dialogis .
    Yang lebih menggelikan lagi apakah polisi sudh kekurangan kerjaan hingga menciptakan perpecahan yang tidak masuk akal dan apakah tak pernah membaca proses perjamuan yang sangat panjang yang jikala dengan akal sehat di cerna merupakan sebuah kedamaian dan rasa saling menghormati
    Sungguh bermata sebelah
    salam hormat dari gunungkelir

  33. ipung_cahyojow

    Nderek prihatin dab. Perkawis meniko sampun dados kasungkawaning kula sak rencang lan sakulowargo in Yojow. Mugi sedoyo enggal kaparingan pepadhanging penggalih. Lan kahanan ingkang ndadosaken pinggeting manah meniko saged wangsul kados wingi wuni. Eh, nek empun pingget nopo saged wangsul? Suwun.

  34. Wah, aku baru tau kalo makanan murah itu udah berlangsung lama.. Boleh2 aja menghentikan kegiatan itu, tapi bisa gak aparat dkk itu bikin kegiatan serupa sebagai ganti?? Kalo tidak ya semoga cepat2 mereka ikut merasakan jadi orang susah yang bingung cari makan..

  35. ang

    sungguh mahal harga keberagaman yang harus dibayarkan demi sebuah “kondusivitas”.
    ramadhan masih 21 hari, tak bisa terbayangkan bagaimana nantinya meraka kaum duafa yang selama ini menggantungkan buka puasa dari gereja itu.

  36. ari kristyono

    Sangat memprihatinkan memang. Polisi mestinya lebih mampu bersikap tegas saat ini, karena dari sisi kekuatan, peralatan dan kemampuan sudah jauh berbeda dengan semasa masih di bawah ABRI. Semoga para aktivis GKJ Manahan dapat memahami dan memaafkan kekerdilan itu, dan tidak patah arang berbuat kebaikan terhadap sesama.

Leave a Reply