Senthun Dianiaya Pengamen

Seperti biasanya, terminal Wonosobo tak terlalu ramai siang itu. Bergegas naik bus Sumeh yang akan membawanya ke Solo, lewat pintu belakang, Senthun mengarahkan mata ke seluruh deretan bangku. “Wah, itu dia,” ujarnya dalam hati.

Ia pun menuju ke bangku kosong, di sebelah perempuan berambut lurus sebahu. “Boleh saya duduk, Mbak?” sapa Senthun, memulai aksinya. Jurus jadul, basa-basi klise sok akrab itu kembali dipakainya. Dan, manjur!

Mangga,” jawab si perempuan muda berwajah manis itu.

“Mau ke mana, Mbak?”

“Ke Semarang, Mas…”

“Sendirian? Kok, tidak minta diantar Masnya, ta? Semarang itu jauh, lho.”

Wagu, gak mutu. Tapi, itulah jurus yang masuk kategori ‘selalu’ dan diyakini Senthun masih jitu. Dan setiap ada respon, meski itu hanya jawaban basa-basi untuk menunjukkan keramahan lawan bicara, Senthun selalu merasa mendapat angin. Lalu, asyiklah percakapan mereka, diselingi canda tawa. Dan untuk urusan memancing gelak dan perhatian, Senthun memang ahlinya.

Ia pun merasa semakin pede, apalagi si perempuan hanyalah tamatan SMA, dan di Semarang untuk memenuhi panggilan masuk kerja. Ia lebih terhormat karena posisinya kini adalah sarjana yang diterjunkan ke lapangan oleh negara, untuk membantu mengentaskan kemiskinan di wilayah Kabupaten Wonosobo.

Bus berhenti, ngetem mencari penumpang di Kertek. Pengamen naik, mendendangkan dua lagu hiburan, disusul berjalan meminta recehan dari penumpang, dengan topi yang ditengadahkan. Menjelang sampai giliran Senthun, lelaki sarjana penggerak pedesaan itu melambaikan tangan, tanda menolak memberi sumbangan.

Mungkin kesal karena Senthun tak menunjukkan ekspresi wajah bersahabat, si pengamen berhenti dan menghardik. Ia mengulang permintaan dengan menyodorkan topi ke arah Senthun. Kembali Senthun menggeleng, tanpa melihat.

“Buk!” Ayunan tinju mendarat di wajah Senthun.

“Sik… sik…! Tunggu, Mas! Apa salah saya?” ujar Senthun, meminta pengertian sang pengamen.

Yang diajak bicara kembali melayangkan tinju. Dua..tiga..empat kali Senthun dipukul. Ia berteriak, namun seluruh penumpang hanya diam menyaksikan.

Si pengamen lalu melenggang, meninggalkan Senthun setelah puas meninju. “Kalau gak mau ngasih, bilang saja tak punya uang….,” ujar pengamen, menggerutu.

Pada sisa perjalanan, Senthun banyak diam. Si perempuan berambut sebahu juga diam. Mungkin dia juga bingung, mesti menghibur dengan cara bagaimana, kepada lelaki yang baru saja menggoda, berjuang memikat perhatiannya.


3 thoughts on “Senthun Dianiaya Pengamen

  1. mesakno…
    mending kasih seribu trus minta kembalian 8oo.Kalo pengamen ndak terima…bilang : “lha, kembalian buat yg ngamen lainnya, mas/mbak. Mosok mbok (Anda) ambil semua…gak adil, kon (kowe!)”

    baru,
    abis itu gelut 😆

Leave a Reply