Rahman Sabur Sudah Datang?

Pada suatu siang, pertengahan 1990-an, di pendapa Taman Budaya Surakarta, saya tengah ngobrol, kangen-kangenan dengan seorang sahabat yang baru datang dari Bandung. Hampir setengah tahun tak bertemu dan jarang telepon, meski setiap saya ke Bandung, sering diminta menginap di rumahnya.

Tiba-tiba, seorang wartawan datang, nimbrung pembicaraan. Saya, yang kebetulan kurang respek pada lelaki tambun, itu memilih menyingkir. Saya pamit meningalkan mereka, dan menyatakan akan menunggu sahabat itu di warung yang terletak tak jauh dari pendapa.

Bukan lantaran punya persoalan apalagi dendam, namun saya kurang suka saja dengan lelaki tambun yang saya nilai sok tahu itu. Datang sebagai wartawan budaya sebuah koran lokal, ia tampil arogan, seperti biasanya. Apalagi, ia juga kerap bercerita mampu mencipta puisi, meski kadar kepenyairannya belum diterima komunitas penyair di Surakarta. Kebetulan, ia berstatus pendatang dari Surabaya.

Ahaa… Siang itu, rupanya menjadi hari sial baginya. Sepanjang berbincang dengan sahabat saya itu, ia memperlakukannya seperti menghadapi pendatang luar kota yang belum banyak kenal dengan komunitas Taman Budaya. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, meninggalkan mereka adalah pilihan terbaik bagi saya.

Ketika networker kebudayaan Halim HD melintas tak jauh dari tempat duduknya, si wartawan itu bertanya dengan setengah berteriak. “Hai, Lim… Rahman Sabur dimana, katanya sudah datang pagi ini?” ujarnya, tanpa mendahuluinya dengan kata Kang, Mas atau Pak.

Yang ditanya hanya menukas pendek. “Lha itu!” jawab Halim, seraya menunjuk ke arah lelaki paruh baya berkumis tebal, berbadan gempal dengan warna kulit kehitaman, yang duduk di sebelah sang penanya.

“Oalah… Kok saya bisa pangling, ya?” ujar si wartawan. Intonasinya menurun, wajahnya setengah menunduk.

Kang Rahman Sabur, pendiri dan sutradara Kelompok Payung Hitam (KPH) itu hanya diam. Dia tahu, sebagai sutradara teater harus mampu bermain watak, kuat dalam spontanitas dan cerdas membangun bahasa tubuh serta memilih ekspresi wajah yang tepat, agar orang di sebelahnya tidak tambah jatuh malu.

3 thoughts on “Rahman Sabur Sudah Datang?

Leave a Reply