Pak Suyatna Mana?!?

Awal 2000-an, sekeluar gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, saya, seorang teman menemani Kang Butet Kartaredjasa yang sedang asyik ngobrol dengan Mas Slamet Rahardjo Djarot. Kami sama-sama usai menghadiri sejumlah pementasan teater, pembacaan puisi dan testimoni, mengenang dua tokoh teater Indonesia yang belum lama berpulang. Karenanya, acara malam itu diberi judul Mengenang Teguh Karya dan Suyatna Anirun.

Di tengah perbincangan kami, dua lelaki mendekat. Ingin nimbrung pembicaraan namun diurungkan. Bahasa tubuhnya menunjukkan keraguan. Berulang kali ingin terlibat, namun kembali diurungkan, hingga akhirnya kami berjalan mengarah keluar kompleks TIM, meninggalkan kedua orang itu.

Dengan bisik-bisik, Kang Butet bertanya padaku. “Kowe kenal orang itu, Le?” Aku menggeleng. “Jangan-jangan (wartawan) bodrex, ya?” Kang Butet melanjutkan pembicaraan.

Salah seorang, rupanya terus mengikuti di belakang kami, hingga akhirnya berhenti memberanikan diri menghentikan langkah kami. “Mas Butet, saya anu dari xxxxxx,” ujar lelaki itu seraya menunjukkan kartu pengenal sebuah surat kabar nasional. Seperti halnya saya, Kang Butet kaget, seperti merasa bersalah telah menuduh lelaki itu sebagai wartawan pemburu duit dari narasumber.

“Ooo… ya wis. Ayo, sampeyan ikut kami saja, sekalian ngobrol-ngobrol di sana,” ujar Kang Butet.

Mas Wartawan mengangguk setuju, bersama kami berjalan kaki makan nasi di warung Sunda, di bawah rel kereta api Gondangdia. Asyik kami berbincang kesana-kemari, tentang kesenian dan juga tentang kesibukan Kang Butet yang banyak ditanyakan sang wartawan. Menurut naluri jurnalistik saya, muncul dugaan Mas Wartawan itu sedang menggali cerita untuk bahan rubrik singkat tentang aktivitas seorang tokoh (termasuk selebritis) di medianya.

Di tengah enak-enaknya kami melahap nasi dengan lalapan segar dan sambal setengah pedas itu, tiba-tiba kami dikejutkan dengan pertanyaan Mas Wartawan. “Mas…Mas Butet. Pak Suyatna itu yang mana, kok tadi gak kelihatan?”

Kang Butet tersedak. Mulutnya yang penuh makanan seperti hendak disemburkan, namun urung lantaran tak enak dengan pengunjung warung kakilima yang malam itu cukup ramai. Selain, tentu saja tak enak dengan sang wartawan, yang notabene adalah anak buah teman-teman Kang Butet.

Sambil menahan tertawa, dengan sangat hati-hati dan disopan-sopankan, teman saya menjawab, “Kan judul acaranya mengenang…..”

Mas Wartawan sadar. Sejenak terdiam, lalu tampak salah tingkah. Wajahnya menatap piring yang nasi, lauk dan lalapannya tinggal setengah. Gerak pipinya melamba, tampak enggan mengunyah.

6 thoughts on “Pak Suyatna Mana?!?

  1. fajar

    hehehehe….kurang wawasan kali kang, terlalu fokus ngejar berita, sampai-sampai judul acaranya dia gak baca. thank’s atas pencerahannya kang….

    terlalu fokus, gak fokus, atau…..
    /blt/

Leave a Reply