17 Jam di Temanggung

Dua panggilan telepon masuk nyaris bersamaan. Keduanya berasal dari teman yang bekerja di dua kantor berita asing berbeda yang betugas di Jakarta. Mengira saya sebagai mitra yang tepat, keduanya seolah adu cepat. Pertanyaannya juga sama: Noordin M Top digrebek, ya? Katanya pakai tembak-tembakan segala….. Dan seterusnya.

Kepada keduanya, saya ganti bertanya, darimana diperoleh kabar demikian. Dijawabnya pun sama. Katanya, itu informasi A-Satu alias confirmed. Hanya saja, disertakan teka-teki bahwa lokasinya ada di Jawa. Mampus! Jawa, bagi orang Jakarta adalah sebutan bagi daerah di luar Jakarta, namun cenderung merujuk pada Jawa Tengah. Tapi, Jawa bagian mana???

Lalu, teman itu berandai-andai, mencoba mnghubung-hubungkan dengan Solo dan sekitarnya, yang dalam ranah isu terorisme bisa saja disempitkan menjadi Ngruki dan daerah-daerah yang dianggap masuk dalam jaringannya. Ya, setiap isu terorisme, maka nama Pondok Al Mukmin yang didirikan alm. Abdullah Sungkar bersama Abu Bakar Ba’asyir selalu disebut. Begitu pula daerah-daerah yang dianggap sebagai ‘bagian darinya’.

Tak lama kemudian, redaktur dimana saya bekerja sebagai jurnalis, juga menelpon. Dia menanyakan kebenaran informasi pengenai peristiwa tembak-tembakan itu. Karena diliputi keraguan, saya menjawab sekenanya, janji akan mencari tahu serta mengabarkan bahwa saya sedang di seputar Tugu Tani, Menteng.

Sampai petang hari, belum ada kabar saya peroleh. Tanya kesana-kemari, jawaban teman-teman saya di ‘Jawa’ juga bingung. “Solo aman, tak ada apa-apa, tuh….,” jawab seorang teman. Menjelang malam, terbukalah cerita itu: ada pengepungan oleh polisi di Temanggung! Konon, Noordin M Top berada di dalam sebuah rumah yang terkepung itu.

Menyaksikan lewat siaran televisi, saya justru mulai curiga. Diwartakan, penduduk yang berdiam sekitar 500 meter dari sasaran pengepungan, diungsikan. Alih-alih mengungsi, warga pegunungan itu malah seperti memperoleh hiburan: nonton polisi beraksi. Sebuah tontonan langka, yang bukan saja langka, namun ada keinginan bersama untuk bersaksi, bahwa gembong teroris, yang menjadikan situasi keamanan republik kian tak menentu, bakal disergap di kampung mereka.

Ketika hari berganti dan desa tampak terang-benderang, terkuaklah betapa sia-sianya mengungsikan mereka. Rumah yang dijadikan sasaran pengepungan, ternyata agaknya terpencil, jauh dari padatnya permukiman sehingga nyaris tak ada potensi bahaya bagi warga tak berdosa, seandainya peluru ditembakkan.

Yang lebih menyebalkan dan mengganggu saya, kemudian, adalah adanya pernyataan reporter sebuah stasiun televisi yang embedded pada tim Densus 88/Antiteror, yang bisa memastikan bahwa di dalam rumah yang dikepung polisi bersenjata itu sungguh-sungguh Noordin, sang buron utama.

Tapi, saya ragu. Bukan tabiat Densus 88 melakukan tindakan sedemikian jumawa begitu rupa. Show of force-nya sudah berlebihan. Ketika menyergap DR Azahari, misalnya, mereka sangat rapi bekerja. Jauh lebih singkat dibanding 17 jam waktu yang digunakan untuk mengepung rumah di Beji, Kedu, padahal lokasi persembunyian Azahari berada di permukiman yang jauh lebih padat. Ada apa?

Itulah pertanyaan yang berkecamuk di benak saya. Tak biasanya polisi bertindak seperti ini. Informasi tak pernah bocor sebelum operasi dijalankan. Konfirmasi media pun tak mudah dilakukan, bahkan ketika target sudah ditangkap sekalipun. Bagi jurnalis di sekitar Surakarta, sudah biasa kucing-kucingan dengan aparat sejak kasus Bom Bali I. Kesaksian keluarga atas penangkapan anggota keluarganya yang lain pun, sulit dikonfrontasikan dengan aparat kepolisian. Apalagi, Polres dan Polwil seperti ‘tak berarti apa-apa’ dalam konteks perburuan tersangka kasus terorisme.

Asal tahu saja, bagi jurnalis yang ngepos di Surakarta, kabar penangkapan tersangka yang terkait dengan kasus tindak pidana terorisme merupakan hal yang biasa. Sejak Bom Bali I, Bali II, Kedutaan Australia, Marriot I dan Marriot II serta kasus Ambon hingga Poso, nama Surakarta tak pernah terlewat. Tapi, harus diakui, sebelum Bom Marriot II, kerja polisi sangat rapi. Tak ada gembar-gembor, namun tak terhitung lagi berapa yang sudah ditangkap.

Bahkan, nama Tatag, anak pemilik rumah yang diserbu di Beji itu, pun baru muncul dan dilansir media menyusul peristiwa penggrebekan ‘besar-besaran’ itu. Padahal, ia sudah ditangkap beberapa waktu silam, tak lama berselang setelah polisi mencokok Brekele. Itulah mengapa, saya menganggap ada hal-hal yang mengganjal dengan perilaku polisi yang ngowah-owahi adat akhir-akhir ini.

Maka, saya pun memilih merespon drama penggrebekan Temanggung dengan status-status semau gue di Facebook.

[MARAH] lihat jurnalis asal BACOT! seperti Tuhan saja bisa tahu Noordin M Top sembunyi di wc dan sebagainya. seharusnya, tak bisa menyebut bahwa yang dikepung (lalu jasat yang dibawa ambulans) adalah NMT sebelum dipastikan kebenarannya secara empiris. seolah kata ‘diduga’ itu tabu….. (August 8 at 2:27pm)

Tanggapan atas status itu lumayan ramai, yang intinya sama: menyalahkan jurnalis yang berani memastikan sesuatu, padahal tak mudah membuktikannya secara empiris. Saya pun sampai berolok-olok, begini:

semoga salah tangkap… minimal, DNA-nya gak cocok. hihihih…. (pingin tahu masih punya malu apa kagak) (August 8 at 2:35pm)

Intinya, hari itu saya benar-benar jengkel dan jenuh pada berita-berita tentang penggrebekan teroris di Temanggung itu. Maka, saya pun terus berolok-olok melalui status di Facebook, berangkat dari keyakinan bahwa banyak orang yang memiliki penilaian dan perasaan yang sama dengan saya.

[MENGAJAK] mari kita perhatikan, media apa saja yang alpa menggunakan kata ‘diduga’ untuk sesuatu yang tak betul-betul CLEAR secara empiris… (ini kritik umum, untuk siapapun, terutama jurnalis agar jeli memilih diksi) (August 8 at 3:02pm)

Masih ramai saja tanggapan teman-teman. Hingga kemudian, ketika reporter stasiun televisi embedded itu menceritakan adanya tanya-jawab dengan sang target sehingga yakin yang ada di dalam adalah Noordin M Top, lalu saya pun melanjutkan guyon saya. Lagi-lagi, lewat status di Facebook. Begini:

LELUCON ala BASIYO [TANYA] kowe maling apa kucing? [JAWAB] kuciiiiiing LELUCON TV: [DENSUS 88] hey, yang di dalam rumah. kamu siapa? [UNKNOWN] Noordin Mohd. Top (jawabnya sambil merintih kesakitan) …………………………………… hmm… jurnalisme yang nyinetron (August 8 at 4:19pm)

Jenuh dengan berita-berita yang ada di televisi, dan meyakini insting sendiri (ini karunia Allah yang harus disyukuri), maka pada keesokan harinya saya membuat status baru, mencoba mengakhiri sindiran-sindiran saya atas drama yang saya beri judul bebas 17 Jam di Temanggung itu.

[NGAKAK] mulai banyak yang ragu Noordin M Top terbunuh. memang aneh kalau cuma meringkus satu curut saja mesti buang waktu dan peluru selama 17 jam….. (August 9 at 12:00am)

Kalau ternyata kemudian kecurigaan-kecurigaan saya itu ada benarnya, percayalah, itu karena Allah sedang menguji saya agar tak besar kepala, sekaligus ngecek saya, apakah masih mau bersyukur atas insting yang dikaruniakan oleh-NYA itu. Alhamdulillah… Ya Allah, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu.

Saya harap, pembaca sekalian paham, menjadi wartawan itu tak gampang. Bertanggung jawab pada apa yang dikerjakannya pun perlu perjuangan yang panjang. Tak boleh instan, apalagi dengan mengira-ira. Kata ‘diduga’ tetap harus dijunjung tinggi seperti halnya kita tak boleh menyebut ‘terpidana’ sebelum dinyatakan oleh lembaga peradilan, dan memiliki kekuatan hukum yang tetap.

6 thoughts on “17 Jam di Temanggung

  1. berita terorisme sudah masuk kategori infotainment ya… mungkin semua sekarang sudah masuk ke infotainmen, jadi ya kalo salah ya cuman infotainment kok disalahno 😆

    begitulah jurnalisme kita… lucu, kan?
    /blt/

  2. satu kata yg dijadikan pamungkas, dedlen 🙂
    lapadahal dr awal pihak polisi juga gak bilang itu nordin lamalah media yg bilang sendiri

    itulah… polisi memang membantah. tapi, si jurnalis sendiri yang mengklaim, seolah-olah dapat cerita dari polisi akan adanya dialog demikian. so? ya, kita sebagai penonton, lantas menjadi korbannya.
    mari kita kritisi jurnalisme Indonesia…
    /blt/

  3. Pelajaran pertama dari seorang editor senior ketika baru masuk jadi wartawan. Don’t assume, or you’re going to make an ass out of u and me.

    makasih, Fitri…
    /blt/

  4. dan sayah ngikutin 17 jam (dipotong 5 jam ngiler di kasur) ituh..
    sambil membimbing anggota KELOMPENCAPIR (kelompok pencela dan pencibir) di plurk dan facebook..

    tika emang dahsyat!
    /blt/

  5. suara jurnalis seperti mas blontank harus didengar oleh mereka para kuli tinta.
    apa degradasi ini gara-gara wartawan infotainment ya.
    terhadap kasus temanggung, dlsb saya sampai debat dengan mertua. *** bisa-bisa mertua curiga saya bagian dari mereka (teroris) ***. lha piye mertua infonya cuma dari TV melulu

    hmmm…kok jadi aku? yang jelas, jangan mudah percaya pada media massa. meski, jangan pula mengabaikan. kasihan orang-orang yang bekerja jauh lebih giat dan lebih militan dibanding saya, demi memenuhi hak-hak pembaca.
    /blt/

  6. saya awalnya ga tau loh ada acara itu, cuman pas paginya lihat ada acara tv tentang pengepungan, berasa liat film 😀
    tapi memang aneh kalau hal seperti itu dipublish dengan berlebihan 😀
    agak males dengan acara televisi sekarang ini…
    bahkan metro tv pun mulai sama seperti televisi lain
    saya mungkin ga sepenuhnya paham..tp yang saya tau, kadang pemberitaan televisi terlalu hiperbolik..
    entah tuntutan rating, atau ada yang lain…

    kita memang mesti bersikap terhadap televisi yang bertuhan rating. matikan televisi rame-rame, atau boikot televisi tak bermutu. kabarkan ke kiri-kanan kita, yuk….. semoga daganganmu kian laris, ya. amin.
    /blt/

Leave a Reply