Mendokumentasi Peristiwa Panggung

Goethe Institut Jakarta, sebuah lembaga kebudayaan yang dibiayai Pemerintah Jerman mengundang saya untuk memamerkan foto-foto pentas tari yang telah saya buat. Dua repertoar dicetak ukuran besar dalam jumlah cukup banyak. Keduanya, tari Opera Diponegoro karya Sardono W Kusumo dan Dirada Meta, sebuah hasil penggalian sebab telah 100 tahun lebih tak pernah dipentaskan.

Keduanya menjadi subyek bahasan menarik bagi puluhan koreografer, kritikus tari dan para staf bagian program Goethe Institut dari berbagai negara se-ASEAN plus Australia dan New Zealand. Pembicaranya adalah budayawan Goenawan Mohamad, dedengkot Komunitas Salihara serta Sardono W Kusumo, koreografer papan atas yang juga Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Presentasi, eh membual. Sok tahu dunia soal dunia seni pertunjukan

Presentasi, eh membual. Sok tahu dunia soal dunia seni pertunjukan

Itulah diskusi puncak dalam Regional Dance Summit bertema Transforming Tradition yang diselenggarakan Goethe Institut Jakarta. Selain diskusi itu, juga dipertunjukkan sejumlah koreografi dari Philipina, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Indonesia, serta pemutaran video tari dari berbagai negara peserta, yang diikuti sesi diskusi sesudahnya.

Sungguh saya merasa terhormat diundang dalam event itu, bahkan diberi sesi khusus untuk presentasi tentang apa saja, terkait dengan kerja pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan, yang bahkan tak terbatas pada lingkup tari. Ya, ratusan peristiwa teater, musik, dan tari di kota-kota utama seperti Jakarta, Bandung, Solo dan Yogyakarta telah saya saksikan dan saya buat dokumentasinya, sejak 1993.

Semua bermula dari kesukaan saya menonton seni pertunjukan dan hobi fotografi yang saya pelajari secara otodidak. Tak lebih dan tak ada maksud lain kecuali niat sok-sokan, mimpi punya koleksi foto hasil bidikan sendiri. Bahwa semula ada niat membantu teman-teman yang (maaf) tak sanggup mengeluarkan bujet untuk mendokumentasi karya-karya mereka sendiri, itu terjadi pada awal-awal saya memotret, ketika saya belum ‘berjarak’ dengan mereka.

Sejak akhir 1990-an hingga kini, saya merasa masih ada ‘jarak’ dengan para seniman. Entah dimulai dari mana dan oleh siapa, namun saya menduga itu semua disebabkan oleh ‘citra’ yang dibangun oleh kalangan mereka sendiri. Mungkin, karena foto-foto yang saya buat atas pertunjukan karya-karya mereka, sebagian dipublikasikan (tepatnya saya jual) oleh Pikiran Rakyat semasa Pak Suyatna Anirun menjabat redaktur budaya di koran Bandung itu. Dari sana, lalu muncul kesan, seolah-olah saya menjadi profesional.

Dari kesan dan ‘profesional’ itu, lalu mereka –terutama generasi akhir 1990-an hingga sekarang, sungkan meminta, baik hasil cetak maupun file foto. Padahal, bagi teman-teman yang biasa bergaul pada awal 1990-an, mereka sudah cukup tahu dan mengerti. Karena mereka butuh ‘bukti pementasan’ karya, maka foto-lah bukti satu-satunya, sebab rekaman video jauh lebih mahal biaya produksinya.

Masih membual, tapi dimoderatori oleh pejabat setingkat direktur program. Bikin grogi...

Masih membual, tapi dimoderatori oleh pejabat setingkat direktur program. Bikin grogi...

Asal tahu saja, satu roll film berikut proses cuci, pada awal 1990-an berkisar pada angka Rp 20 ribu. Kalau dicetak semua, maka akan memakan biaya hingga Rp 50 ribu. Sebuah angka yang tinggi, ketika uang sebesar itu senilai dengan biaya hidup sepekan seorang mahasiswa, atau bisa untuk biaya konsumsi dua hari bagi sebuah grup kecil. Perlu dipahami juga, tak cuma kini, dulu pun tak mudah mencari donatur apalagi sponsor untuk sebuah proses atau proyek kesenian. Entah musik, tari atau teater.

Maka, ketika Goethe Institut Jakarta memastikan akan memajang karya-karya saya dalam forum sebagus itu, giranglah hati saya. Karena itu, kalau saya boleh menyebut, Goethe Jakarta-lah institusi kedua setelah Ford Foundation yang sepuluh tahun silam memberikan hibah dana kepada saya lewat Taman Budaya Surakarta, untuk memamerkan koleksi foto-foto yang dibuat pada ‘era film’ atau analog di tiga kota: Jakarta, Bandung dan Solo.

Untuk itu, Noviami (Goethe) menjadi orang kedua setelah Mbak Jennifer Lindsay (dulu Direktur bidang Kebudayaan Ford Foundation, Jakarta) yang sungguh-sungguh mengapresiasi atas apa saja yang telah saya lakukan hingga kini. Tentu, saya tak bisa melupakan Pak Suyatna Anirun (almarhum), yang ternyata suka dengan foto-foto yang saya buat. Otoritasnya mengelola halaman budaya di Pikiran Rakyat dan kepeduliannya pada seni pertunjukan, memungkinkan foto-foto saya yang nyaris tak pernah absen di koran itu, setiap edisi Minggu atau rubrik Khazanah yang terbit setiap Kamis.

Dari sanalah saya memperoleh berkah. Tak hanya akses yang memudahkan saya kenal dengan banyak seniman performing arts dari berbagai kota, namun juga menjadi dikenali para petugas gedung-gedung kesenian, baik di Bandung maupun Jakarta, yang lantas memungkinkan saya keluar-masuk gedung tanpa tiket.

Hingga akhir 1990-an, saya bisa menjalani gaya hidup ‘mewah’. Dalam sebulan, saya bisa tiga-empat kali bolak-balik ke Bandung, Jakarta, Solo naik kereta api bisnis atau eksekutif, hanya dari memotret peristiwa performing arts, lalu menjualnya ke Pikiran Rakyat, sebelum kemudian melebar hingga sesekali ke majalah DR dan Forum.

Seorang peserta Regional Dance Summit sedang mengamati foto Opera Diponegoro

Seorang peserta Regional Dance Summit sedang mengamati foto Opera Diponegoro


Dan, sungguh besar jasa Pak Suyatna pada saya. Satu foto yang dimuat dihargai Rp 40 ribu, sementara pernah sembilan foto tari dari Indonesian Dance Festival (IDF) pertama pada 1996, dimuat bersamaan, satu di antaranya dicetak warna dengan ukuran cukup besar. Terutama bila beliau memergoki saya sedang memotret pertunjukan di Bandung, maka keesokan harinya saya ‘diwajibkan’ datang ke kantornya.

Dengan membawa beberapa hasil cetakan, Pak Suyatna memilih satu dua untuk dimuat di edisi kemudian, sebagian dimintanya (dengan bahasa yang sangat halus) untuk disimpan, sebagai koleksi pribadi. Biasanya, ritual selanjutnya adalah secarik kertas disposisi, sebuah perintah kepada bagian keuangan agar membayar tunai kepada saya, bahkan sebelum diterbitkan. Mungkin, Pak Suyatna tahu, saya butuh uang untuk beli film, cuci-cetak dan ongkos makan dan tiket kereta.

Bahwa kemudian saya jatuh cinta dan peduli pada seni pertunjukan, itu hanyalah soal kebetulan semata. Dan niat mendokumentasi, tak lebih hanya untuk menyalurkan hobi bidang fotografi. Bila saya lantas menampilkan di blog, juga semata-mata sebagai penghargaan kepada pemilik karya (tari, musik, teater), sebab karya-karya mereka layak diapresiasi publik yang lebih luas.

Dan, dengan semangat meneladani apa yang sudah dilakukan Pak Suyatna kepada saya, sejatinya saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, untuk menyukai dan peduli pada masa depan seni pertunjukan Indonesia. Kepada merekalah, saya kira, foto-foto yang saya buat ingin saya persembahkan. Sehebat apapun seorang fotografer, ia tak akan punya karya foto yang bagus andai kerja para seniman itu juga tak bagus dan layak apresiasi.

Seperti yang sudah saya saksikan sendiri ketika koreografer dari berbagai negara di mempresentasikan karyanya di Goethe Institut Jakarta itu, nyatanya hasil koreografi seniman-seniman kita tak bisa dibilang kalah bagus dibanding karya-karya mereka. Pada forum itulah, saya bangga dengan pemanggungan karya seniman-seniman kita. Kenyataan itu, rasanya lebih dari cukup untuk menyemangati saya, untuk terus membuat dokumentasi atas karya-karya seniman Indonesia. Semoga Anda suka.

Foto-foto: Bodi Ch

16 thoughts on “Mendokumentasi Peristiwa Panggung

  1. paling suka bagian : Dari sanalah saya memperoleh berkah. Tak hanya akses yang memudahkan saya kenal dengan banyak seniman performing arts dari berbagai kota, namun juga menjadi dikenali para petugas gedung-gedung kesenian, baik di Bandung maupun Jakarta, yang lantas memungkinkan saya keluar-masuk gedung tanpa tiket. :))
    Tunggu aku di Solo, kan kutagih janjimu mengajakku keliling keliling tempat seni sampe muntah :))
    keren Mas Poer :) dua jempol!!!

  2. arikrist

    nek aku kok luwih tertarik nggawe dokumentasi tentang riwayatmu ya …

    aku ngerti motivasimu. yen wis digawe buku, best seller njur awakmu entuk imbas positip. ya, ta? hehehe….
    /blt/

  3. Jiahahahaha, nggaya tenan lungguh jejer bule, mudheng basane po? 😆
    Maap saya, saya belum bisa menilai hasil karya sampeyan itu, lha saya belum dikasih katalog lengkapnya, hehe kutunggu janjimu :mrgreen:

    pssstt…. tak boleh menggunakan kata b***. itu rasis dalam tata pergaulan modern, intelek, dan beradab. jangan pernah gunakan kata itu lagi ya, dik…
    /blt/

  4. Nuwun sewu, boten saged tuwi. Ananging manawai potret pertunjukan, kula pitados Pak Poer punika panci ahlinipun. :)

    matur nuwun sampun dipunpangestoni. namung, sampun dipunwangsuli anggenipun nglulu :p
    /blt/

  5. sodik gun

    Apik kuwi ora perlu dijlentrehake, “Iki lo, apik!”. Wong-wong sajatine wis mangerteni, endi wingka-endi kencana. Mula makarya apa bae kudu sing tumemen. Perkara asile gawe mareming ngakeh utawa ora, ora perlu dipikir. Pambiji bakal tuwuh saka tumemen-orane apa kang kita tindakake. (Mangkono piwulange Mandhor Kloengsoe Ki Sosrokartono).

    siyap, Dik… njaluk panyengkuyungmu, kapan-kapan
    /blt/

  6. Dian Indar

    Lha nek ngene ki kok lali ro aku ya. Xixixi. Btw, maju terus n sukses mas.

    pingine ya ajak-ajak, Di. tapi gimana, ya? sajake bakale angel sing arep andum, wong ora ana sing bisa didum :p
    /blt/

  7. selamat pakde … semoga makin sukses ..

    dengan pengabadian moment tersebut semoga juga abadi serta lestari budaya indonesia .. iyach tho ??

    indonesia … i love you full .. ha. ha

    suwun. i love you fool (rada pekok, maksude)
    /blt/

Leave a Reply