Mas Willy Telah Pergi…..

Kerabat dan sejumlah seniman mendoakan almarhum WS Rendra di kediaman Clara Sinta

Kerabat dan sejumlah seniman mendoakan almarhum WS Rendra di kediaman Clara Sinta

Kopi Wetiga baru saya minum beberapa teguk ketika seorang teman menanyakan kebenaran kabar meninggalnya Mas Willy. Belum sempat menanyakan kabar itu ke keluarga Mas Willy, Happy datang mengabarkan hal itu. Namun, saya baru yakin ketika Mbak Itut, istri penyair Sitok Srengenge menangis terisak ketika menjawab panggilan telepon saya, bahkan ketika sebelum sepatah kata pun terucap.

Padahal, baru pada malam sebelumnya, Mbak Itut bercerita panjang lebar tentang kondisi kesehatan Mas Willy, penyair dan tokoh teater modern Indonesia kelahiran Solo, 7 November 1935 itu. Diceritakan, Mas Willy sudah kembali sehat. Sebuah kabar yang menggembirakan setelah sepekan sebelumnya, saya dan teman-teman SonoSeni Ensambel batal berkunjung ke Bengkel Teater.

Mas Willy yang saya kenal suka memberi nasihat, tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman dengan seniman-seniman Solo tanpa pandang bulu, ternyata benar-benar pergi, harus menghadap Illahi. Tiga tahun bolak-balik Solo-Depok, Mas Willy benar-benar telah menjadi sahabat banyak orang, sehingga kepergiannya sungguh mengagetkan.

Jumlah seniman besar Indonesia yang hanya sedikit kian berkurang. Mas Willy menyusul kolega-koleganya sesama seniman dan pemikir kebudayaan yang lebih dahulu berpulang, seperti dua sutradara ternama, Suyatna Anirun dan Teguh Karya serta skenograf Roedjito.

Memang, masih beruntung saya masih bisa menyaksikan wajah Mas Willy yang terbaring dengan balutan kain batik di rumah anaknya, Clara Sinta. Masih bisa pula mengucap bela sungkawa kepada Mbak Ida serta keluarga. Namun, tetap saja ada yang kurang. Ada penyesalan, kenapa kemarin-kemarin tak menyempatkan hadir, meski sekadar memancing memori-memori yang indah dan menyenangkan selama tinggal di Wisma Seni, bergaul dengan seniman di kota kelahirannya.

Mengenang jasa-jasanya dalam dunia kesenian dan pemikiran kebudayaan Indonesia, saya sungguh merasa sangat beruntung telah mengenalnya lebih dekat. Maka, ketika diminta membantu mengemas perkakas dan buku-buku di rumah kontrakannya di kompleks Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, untuk dibawa ke Depok, senangnya luar biasa.

Ketika saya bersama istri berkunjung ke Bengkel Teater, lalu dikasih uang saku Rp 500 ribu saat pamit pulang, juga masih terkenang hingga sekarang. Apalagi kalau ingat peristiwa ’serah-terima’ uang, dimana saya berulangkali menolak, sebanyak itu pula Mas Willy menunjukkan mimik marahnya. Bukan upah, namun semacam uang jajan selama perjalanan kami pulang ke Solo, seperti lazimnya paman yang ketemu keponakan.

Mas Willy juga sosok yang menurut saya cukup bisa membahagiakan anak-anak seperti saya. Dengan gembira, beliau menunjukkan dimana foto pentas duet Mas Willy dan istrinya, Mbak Ken Zuraida berjudul Kereta Kencana di Taman Ismail Marzuki, dipajang. Sebuah naskah drama karya Eugene Ionesco yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Mas Willy, yang bertutur tentang pasangan renta berandai-andai dan menyambut datangnya ajal. Sebuah pementasan panjang yang memikat, yang menunjukkan kemampuan keduanya sebagai aktor/aktris berpenghayatan kuat, tanpa terlihat terengah-engah sekejap pun. Atas kekaguman pada pasangan itulah, saya memberikan foto itu, sebagai tanpa penghormatan serta penanda persaudaraan.

Selamat jalan Mas Willy…. Semoga panjenengan berbahagia, di sana bertemu ’teman-teman sepermainan’ seperti Pak Yatna, Pak Teguh, Mbah Djito, dan tentu saja tukang gendong: Mbah Surip yang terlebih dahulu menyiapkan karpet merah untuk menyambut kedatangan panjenengan. Semoga khusnul khotimah, surga menanti. Amin.

7 thoughts on “Mas Willy Telah Pergi…..

Leave a Reply