Pengalaman Dicegat Gali

Tengah hari pada 19 Maret, aku dicegat gali di Jl. Ronggowarsito, tepatnya di depan PKU Muhammadiyah, Surakarta. Dua orang yang semula saya kira polisi itu mengendarai sepeda motor. Yang membocengkan lelaki berambut gondrong dengan tas diselempangkan di badan, satu lagi berbadan gempal. Tampangnya mirip intel polisi, yang gayanya ‘standar’ dan bagi orang berprofesi seperti saya akan mudah mengenali.

Cara memberhentikannya pun mirip polisi. “Mas, tolong berhenti sebentar,” kata si pengemudi. Dia pun menanyakan darimana saya pergi, yang saya jawab baru jalan-jalan dari balaikota. Saya masih terus menjalankan sepeda motor ketika orang itu meminta saya, yang berboncengan dengan seorang teman, menepi dan berhenti.

Saya masih yakin keduanya intel polisi, yang saya kira sahabat dari teman yang saya boncengkan. Akhirnya, saya pun menepi. Begitu berhenti, orang itu menanyakan STNK saya. Saya tanya untuk apa dan atas kesalahan apa, dia tak menjawab. Saya berbaik sangka, mungkin mereka intel yang sedang mencari buruan. Apalagi, sepeda motor saya termasuk salah satu primadona buruan pencuri motor.

Rupanya, teman saya mengira kedua lelaki itu intel kenalan saya. Lalu, teman saya pun berseloroh, “Kami bukan maling, lho!” Orang itu merasa agak tersinggung, lalu mengucap dengan intonasi marah. “Kalau ngomong hati-hati, Mas!”

Orang itu lalu membuka buku. Mungkin berisi catatan tentang ciri-ciri fisik kendaraan. Lalu, dia meminta SIM saya. Mengira untuk pencocokan kepemilikan, saya menyerahkan SIM kepada si lelaki kurus itu. Tanpa ba-bi-bu, SIM dan STNK dimasukkan ke dalam buku kecilnya.

“Mari ikut saya ke kantor,” hardiknya. “Motor Anda saya bawa, Anda membonceng teman saya,” masih dengan cara ketus.

Saya sempat berpikir untuk menanyakan surat tugas dan kartu identitas keduanya, tapi urung karena saya pikir itu merupakan model guyon gaya intel. Kebetulan, saya masih yakin, salah satu dari keduanya adalah teman sahabat saya tadi.

Sambil jalan, saya tanya si gemuk yang memoncengkan saya. Saya tanya kantornya dimana, orang itu tak mau jawab. Insting saya dituntun untuk menuduh mereka sebagai preman yang bekerja legal, sebagai debt collector. Melalui tattoo pada lengan kirinya yang tidak ‘nyeni’, hampir bisa dipastikan dia lelaki jalanan, yang ditato oleh teman ‘senasib-sepenanggungan’.

Saya banyak kenal lelaki bertato, padahal mereka lelaki atau perempuan terhormat. Cirinya hampir sama, tato adalah bagian dari seni yang bisa menambah bobot keindahan pada tubuh. Karena permanen menempel pada tubuh, mereka pasti tak main-main, sehingga tato pun dibuat berdasar konsep dan dengan pertimbangan estetika senirupa. Sebaliknya bagi preman, tato umumnya sebagai penanda: sebuah gank atau pengingat pernah sekolah di balik tembok penjara.

“Dari AD*** ya, Mas?” tanya saya yang akhirnya diiyakannya. “Lha njenengan merasa punya masalah nggak?” dia balik bertanya. Saya iyakan, lalu diam. Kebetulan saya ingat, masih punya kekurangan satu bulan angsuran di AD***. Memang sudah lama, tapi saya berpikir sembrono: tinggal sebulan, ngapain dikejar-kejar? Toh mereka bisa memperoleh bunga tunggakan, dan masih ‘menyita’ BPKB saya.

Sesampai di kantor AD*** Solo Baru, saya diminta masuk ke sebuah ruangan. Tak lama, seorang pegawainya keluar, lalu menyodorkan selembar print out untuk saya tanda tangani. Saya menolak, karena ingin membacanya terlebih dahulu.

“Sudah, silakan tanda tangan dulu, nanti saya jelaskan!” katanya. Nada bicara dan intonasinya persis sama dengan sang preman pencegat tadi. “Ee…. tunggu dulu. Saya harus membacanya,” sergah saya. Lelaki yang berinisial H itu menyerah.

Rupanya, surat tadi berisi berita acara serah terima barang alias penyitaan. Bajingan! Saya mengumpat dalam hati. Begini rupanya bisnis leasing. Apalagi, orang dalam posisi seperti saya, akan merasa bersalah karena telah bertindak wanprestasi. Membodohkan orang/nasabah, dengan pola intimidasi. Mungkin itu sebuah pola psy war untuk dijalankan.

Lelaki berinisial H itu lantas menjelaskan, tunggakan saya sembilan bulan, dengan total bunga Rp 10 juta. Sebuah angka yang sama dengan harga pokok sepeda motor saya, bila dibeli secara tunai.

Saya kaget lalu saya jelaskan kalau hutang saya cuma satu bulan plus denda. Dia menyodorkan bukti rekaman angsuran. Dan benar, di sana tertulis saya kurang sembilan bulan angsuran. Saya sodorkan bukti angsuran delapan bulan sekaligus, yang kebetulan ada di dompet. Dia pun kaget. Lalu, ia meminjam kwitansi saya itu untuk dicocokkan ke salah satu bagian keuangan di kantor itu.

Baru setelah itu, sikap H melunak, lantas ramah terhadap kami. Lalu, saya pun bercerita pengalaman sebelumnya. Pernah saya dianggap tidak membayar tiga bulan angsuran dan seorang debt collector sudah berada di rumah saya dengan membawa sebuah surat perintah penyitaan. Dia menyerah, mengaku salah setelah saya tunjukkan bukti pembayaran.

Lalu, si debt collector telepon pejabat AD*** sambil marah-marah, merasa dipermalukan. Si DC (sebutan untuk tukang tagih) lalu mengaku, pengalamannya dengan saya itu merupakan kejadian yang kesekian kalinya di AD***. Katanya, sering tagihan demikian tak masuk ke catatan pembukuan.

Yang pasti, saya kapok berurusan dengan perusahaanleasing. Beberapa teman saya yang bekerja sebagai DC bercerita, banyak perusahaan leasing mempekerjakan para preman demikian. Praktis, sebab mereka hanya dibayar kalau berhasil. Tarifnya, minimal sekitar Rp 500 ribu, tergantung jauh-dekatnya jangkauan.

Untung, sepekan setelah pertemuan (dan pembayaran angsuran plus tawar-menawar denda), BPKB diserahkan. Andai tidak, pasti sudah saya buat perhitungan dengan mengadukan mereka ke polisi. Ada perampasan dan tindakan di luar kewenangan, serta praktek ‘penggelapan’. Apalagi, meski menunggak, saya merasa dipermalukan. (Dan ini ada pasalnya pula di KUHP).

Asal tahu saja, bahwa saya BERHAK mengadukan gali (DC yang ‘baik, pasti punya etika, dan yang suka merampas hanya gali) dari sebuah organisasi kepemudaan di Surakarta itu justru saya peroleh setelah berkonsultasi dengan seorang anggota Polwil Surakarta.

Saran saya untuk Anda yang baru mampu kredit untuk memiliki sesuatu, jangan ragu memperkarakan DC nakal, yang bekerja tanpa etika. Beberapa di antaranya adalah:

1. Laporkan ke polisi, jangan lupa siapkan bukti dan saksi
2. Usahakan jangan sendirian ketika berhadapan dengan debt collector
3. Jangan mau diajak bertemu di jalan atau di luar rumah Anda
4. Kalau sampai merampas seperti kasus saya, usahakan jangan berteriak minta pertolongan, meski kita berhak. Salah-salah, mereka dihakimi massa. Kirim saja ke penjara sebab ada undang-undang yang menyebutkan hanya polisi yang berhak melakukan pemeriksaan apalagi penyitaan surat-surat, seperti SIM dan STNK

*) saya menyebutnya gali, sebab bertindak di luar kewenangan, tanpa etika: tak menunjukkan identitas diri dan sebagainya

Cerita ini sudah di-posting di Facebook, pada Senin, 6 April 2009 pukul 14.25 WIB

Baca juga Pengalaman Dicegat Gali (2)

5 thoughts on “Pengalaman Dicegat Gali

Leave a Reply