Pengalaman Dicegat Gali (2)

Selasa, 14 April sekitar jam 10.20 pagi, kembali saya diberhentikan seorang gali, tepatnya di Makamhaji. Naik motor sendirian, dia meminta saya berhenti lalu menanyakan asal-usul motor saya. Berlogat Madura, usianya di atas 40 tahun, yang belakangan aku ketahui dia bernama serapan dari bahasa Arab…….., dan panggilannya hanya empat huruf: U**n!

“Ini motor siapa, Mas?” tanya si gali setelah kami berhenti.

“Punya saya sendiri. Sampeyan DC**), ya?” tanya saya. Di bawah stang motornya, saya lihat ada tiga atau empat buku kecil persegi panjang, mirip punya tukang kredit alias mindring seperti sering saya jumpai di pasar-pasar.

Lelaki menjelang separuh baya itu belum sempat menanyakan atau melihat STNK saya ketika tiga motor berhenti tepat di depan saya. Yang dua berboncengan, satu lagi sendirian. Total, berarti enam orang ‘menghadang’. Wajahnya tampak diramah-ramahkan, walau tetap kotor dan seram.

“Sampeyan mau apa? Sana tanya He** di AD***!” saya setengah membentak.

“Oo… barusan dapat lelang ya dari Pak He**, ya?” dia menyergah, berusaha tersenyum sambil berusaha mengalihkan pembicaraan.

Benci dengan gaya premannya, saya menyebut satu organisasi pemuda yang banyak anggotanya bekerja sebagai debt collector. “Kalau mau tahu, silakan tanya He** atau A*y yang mencegat saya tempo hari!” hardik saya.

“Kerja yang bener, Mas. Untung waktu dicegat A*y tidak saya teriakin rampok. Kalau saya teriakin, dia bisa mati dikeroyok orang di depan PKU sebab dia mencegat dan meminta motor saya begitu saja, tak menyebutkan identitasnya,” ujarku.

Ternyata, si preman berlogat Madura itu ngeper. Dia meminta maaf, tapi lantas mengumpat nama He** yang dianggap kelewatan, tidak menghapus nama saya sebagai debitor di AD***, padahal sudah melunasi kewajiban.

Tapi, dunia preman tetaplah begitu rupa. Mungkin dia iseng-iseng berhadiah, siapa tahu dapat hasil buruan. Setidaknya, upah Rp 500 ribu segera di tangan kalau berhasil mendapatkan buruan.

Seandainya di preman, eh, gali itu tak menyurutkan niat, entah apa jadinya. Bisa saja saya kalah, atau sebaliknya justru memancing datangnya orang-orang di tengah keramaian jalan raya. Di motor saya, kebetulan tergantung sebuah tas berisi aneka kunci dengan beragam ukuran. Tangan sudah saya arahkan mencabut kunci kalau mereka turun dari motor dan mendekati saya yang kebetulan hari itu sedang akan memeriksa mobil tamu teman yang mogok.

*) Saya tetap mengidentifikasi orang begini sebagai gali sebab tetap bekerja tanpa etika.
**) DC, debt collector atau tukang tagih yang biasanya bekerja atas suruhan seseorang atau lembaga.

Cerita terkait, baca di sini: Pengalaman Dicegat Gali

Tulisan ini pernah diposting di Facebook, pada Jumat, 17 April 2009 pukul 14.59 WIB

9 thoughts on “Pengalaman Dicegat Gali (2)

Leave a Reply