Secarik Catatan dari Lereng Dieng

Menikmati pergantian hari

Menikmati pergantian hari

Meski bisa disebut sering ke Wonosobo, namun baru tiga tahun silam saya menginjakkan kaki di kawasan Dieng, tepatnya di kompleks Candi Dieng. Hari yang benar-benar indah pada pagi itu. Beberapa jam sebelumnya, saya bersama rombongan teman-teman dari Yogya juga beruntung bisa menjumpai suasana sunrise yang benar-benar menakjubkan. Matahari memang masih bersembunyi di balik perbukitan, tapi sinarnya sudah menghadirkan gradasi warna yang benar-benar memikat, dari yang keemasan hingga biru.

Langit yang benar-benar bersih sungguh menghadirkan keindahan yang luar biasa. Bagi awam, mungkin akan berkeyakinan bahwa hal demikian bisa dijumpai tiap hari. Padahal tidak. Gunung, juga lokasi-lokasi di ketinggian tertentu lainnya, memiliki karakter yang berbeda dengan dataran rendah. Pada ketinggian, kabut seperti datang dan pergi seenaknya sendiri.

Oh, pemandangan indah itulah yang bisa saya rekam dari kejauhan, dari gardu pandang. Lalu lalang petani kentang yang membawa peralatan bertani, menjadi pemandangan unik bagi kami, orang-orang yang terbiasa dengan gaya hidup kota. Penutup kepala dan sarung tersampir, yang semula saya kira tak berguna, ternyata bukan asesoris belaka. Pada suhu di bawah 10 derajad Celcius –bahkan bisa mencapai 0 derajad pada Juli-Agustus, tubuh memang harus terlindung.

Tapi, itu cerita tiga tahun lalu, ketika keberuntungan masih berpihak. Tidak seperti pekan terakhir Juli ini, ketika saya yang datang bersama puluhan blogger dari berbagai kota, harus menelan kekecewaan. Langit berkabut, bahkan ketika sinar mentari memancarkan panasnya pun, butiran-butiran air nan halus itu tak kunjung sirna. Seolah selalu menyatu dengan udara. Tentu saja, penggemar fotografi seperti saya akan merasa perjuangan bangun paginya kian sia-sia.

Andy MSE ingin berenang di Telaga Warna

Andy MSE ingin berenang di Telaga Warna

Tapi, begitulah risiko perjalanan ke sebuah pegunungan seperti Dieng. Harus sadar dari awal, mencari keindahan di sana bagai berjudi. Beruntung, ketika turun, lansekap perbukitan cukup menghibur, bisa dinikmati sekadar obat kecewa, meski di satu sisi menerbitkan kesedihan: perbukitan yang gundul! Warna kecoklatan berselang-seling dengan hijau, yang tak lain adalah dedaunan tanaman kentang yang kini merupakan mata pencaharian utama warga di sana.

Sebentar mampir ke Telaga Warna, sisa keindahan masih tampak di sana. Air bagai terbagi dalam dua kelompok warna. Di tengah telaga, terdapat pulau kecil yang lebih dikenal sebagai zona mistik. Banyak orang dari berbagai daerah, bahkan hingga Indramayu dan Bali, yang suka datang ke sana. Ada yang mengambil air dari gua di sana karena dipercayai sanggup menyuburkan tanah pertanian, ada pula yang memercayai gua batu yang lain sebagai lokasi pemujaan mujarab untuk meminta keturunan.

Blogger kampung(an) mejeng di depan sebuah warung kopi

Blogger kampung(an) mejeng di depan sebuah warung kopi

Konon, kombinasi warna air di Telaga Warna kini sudah jauh berbeda dengan beberapa tahun silam. Tidak difungsikannya perangkat digital sebagai media indikator kadar belerang di dekat pintu masuk telaga, bisa jadi merupakan bukti adanya perubahan warna air di sana. Kalau tak keliru, perubahan warna itu sangat dipengaruhi oleh proses kimiawi antara sulfur, hidrogen, oksigen, karbon sebagai senyawa kimia udara dan air. Entah, namanya juga ilmu kira-kira, mengotak-atik yang belum tentu gathuk, klop!

Beda Telaga Warna, beda pula Telaga Menjer. Di sini, air masih berlimpah di danau yang dikitari lebatnya pepohonan. Maka, tak salah kalau telaga ini masih layak dikunjungi orang untuk menikmati keindahan alam. Murah dan udara segarnya pasti menyehatkan. Di sini, kita bisa menyewa perahu untuk mengelilingi danau yang selain untuk irigasi, airnya juga menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Garung itu.

Sayang, saat wisata blogger dilangsungkan, teman-teman dari Ponorogo, Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Ngawi dan Jakarta tak sempat diajak menikmati perkebunan teh di Tambi. Jadi, mereka tak seberuntung saya yang tiga tahun silam pernah jalan-jalan menyusuri perkebunan sambil melihat puluhan ibu-ibu memetik teh yang nyaris semuanya diekspor ke Eropa itu.

Buah Carica

Buah Carica

Wonosobo, bagi saya tetaplah daerah yang layak dikunjungi. Beberapa hotel bisa jdi pilihan, dari yang kelas melati hingga berbintang, dari tarif kamar Rp 150 ribuan hingga mendekati sejuta rupiah. Tinggal pilih sesuai kebutuhan, selera dan (bisa jadi) kemampuan. Di tengah perkebunan teh Tambi, pun terdapat penginapan kelas menengah. Berbentuk cottage, tempat tetirah ini juga terdapat ruang pertemuan, meski tak terlalu luas. Cukup untuk meeting kecil sekalian outbond.

Di Wonosobo, nama Dieng, Tambi, Telaga Menjer serta pemandian air panas Kalianget merupakan lokasi-lokasi yang tak boleh terlewat. Di Kalianget, kita bisa berendam air belerang yang menyehatkan. Ada dua pilihan, berendam di bathtub di dalam kamar-kamar khusus, atau berendam ramai-ramai di kolam. Kenikmatannya jelas berbeda, juga sensasinya. Banyak orang memercayai pula, berendam air belerang mampu menghilangkan beragam penyakit seperti rematik dan pegal-pegal. Silakan coba dan buktikan, sebab saya merasa sudah memperoleh manfaatnya.

Manisan buah Carica

Manisan buah Carica

Kulinernya lumayan, ada yang tak bisa dijumpai di daerah lain seperti Mi Ongklok, yakni mi rebus yang disajikan dengan campuran aneka sayuran, dan bentuk penghidangannya satu paket dengan sate ayam. Disajikan dengan mangkok, kuahnya minimalis. Di atasnya dilumuri semacam adonan kental, manis rasanya.

Pulang dari sana, kita bisa pula menenteng aneka jenis buah tangan yang juga khas Wonosobo. Artinya, tak bakal bisa dijumpai di daerah lain. Di antaranya adalah carica, sejenis pepaya gunung yang konon berasal dari Amerika. Ada juga kacang Dieng yang gurih, serta aneka keripik kentang.

Namun, untuk jenis terakhir, saya menyarankan Anda tak membelinya. Kian tinggi permintaan, saya kuatir membuat petani kentang di sana kian merusak lingkungan secara membabi buta. Asal tahu saja, kerusakan ekosistem lereng Dieng sudah kelewat parah. Tanaman keras dibabat, digantikan tanaman kentang. Pendapatan petani memang berlipat, tapi matinya setengah dari 3.000-am mata air di hulu Sungai Serayu itu, sungguh bagai menggadaikan masa depan jutaan manusia yang berdiam di 12 kabupaten/kota di hilirnya.

Pohon Carica, yang wujudnya seperti pohon pepaya

Pohon Carica, yang wujudnya seperti pohon pepaya

Catatan: untuk mencapai semua lokasi itu, disarankan membawa kendaraan sendiri atau menyewa. Khusus kendaraan pribadi, pastikan mesin dalam kondisi prima dan rem berfungsi baik.

20 thoughts on “Secarik Catatan dari Lereng Dieng

  1. wisnu

    cintai alam cintai kehidupan, setuju bgt bos. agustus lalu saya kesana bagus memang tp ironis jg ngliat bukit2 gak da pohon keras. bahkan pinggir jalan yang berbatasan langsung dgn jurang malah ditanami tembakau. kalau longsor weeeew gak bayangin deh

    itulah yang memprihatinkan. mari kita mulai dari lingkungan terdekat kita. rawat alam, gapai masa depan yang nyaman…
    /blt/

  2. selamat berjuang mas Bambang, kepala Desa Kejajar ( serta masyarakatnya) di puncak dieng ( kelompok tani) PERKASA (Pertanian Kami Selaras Alam), sudah menjadi pelopor bertani organik walau sedikit-sedikit. nanti tambah dengan tanaman tahunan yang akarnya panjang, siapa tau anginnya bisa tertahan, kentang didapat alam pun lestari, matur nuwon.

  3. lupid

    brrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, uadem tenan iki Dieng Mas, nganti gak wani ndelok sun rise aku,,,,
    mie onglok’e yg jual sblah mana Mas???

  4. ijah

    dadi kepingin ngajak bocah2 dolan rono, mas. rodo getun juga, kok biyen pas neng solo ora sempat dolan. suwun lo mas oleh2nya.

Leave a Reply