Makanan Tak Enak, Dada Sesak

I Wayan Sadra main bola bersama Gombloh, Rudy dan Donny

I Wayan Sadra main bola bersama Gombloh, Rudy dan Donny

Ketika cahaya kekuningan mentari digantikan sinar putih, terang dan mulai panas, singgahlah kami di Rumah Makan Pring Sewu, Tegal, sebuah rumah makan taman yang menjanjikan kenikmatan bersantap. Saung yang dinaungi rindangnya pepohonan yang membatasi sebuah tambak yang tak seberapa luas menjadi pilihan kami, para seniman yang menyukai tempat terbuka. Open air, open mind…..

Pesanan sudah dicatat oleh seorang siswi SMK yang sedang kerja praktek di restoran berjaringan luas itu. Manis, berjilbab, hingga beberapa dari kami usil, berebut menggoda. Cari-cari perhatian, malah ada yang sampai menunjukkan tabiat penggodanya dengan show of force, merekam dengan kamera video di telepon genggam barunya. Ada pula mengeja nama yang tertera di dada kirinya. Seolah-olah terbata-bata, padahal semua tahu, yang begitu merupakan cara lama, meski tak pernah usang. Hmmm…

Gondrong main sepeda

Gondrong main sepeda

Karena menunggu bakal membuat jemu, sebagian bermain otoped, ada yang main egrang, juga ada yang menyepak bola plastik. Meriah, meski kami hanya bersebelas. Asyik dan happy seperti memperoleh energi pagi. Tiba saat makanan yang kami pesan datang, bubarlah semua permainan. Yang pertama, pesanan saya: nasi timbel.

Karena kelewat lapar, saya menyantap duluan, meninggalkan teman-teman yang belum sampai giliran datangnya pesanan. Ternyata saya lupa memerhatikan lantaran kelewat nafsu. Rupanya ada beberapa yang asing di lidah: sambal cenderung manis, wangi nasi terbungkus daun pepaya juga tak menggugah selera. Ujungnya, tak sampai setengah makanan itu kusantap.

Tiga teman pemesan menu yang sama saling pandang. Rupanya, kami berempat punya penilaian yang senada (kami adalah rombongan komponis dan musisi yang kebetulan baru pulang ngamen di ibukota. kalau kami rombongan Menwa, pasti akan bilang seragam). Mungkin karena lama tinggal di Solo atau Surakarta, lidah kami kelewat manja. Sensitif terhadap semua jenis makanan, sebab terbiasa dipaksa mencecap makanan serba enak. Ckk….ck….ck…..

Duduk santai menunggu pesanan

Duduk santai menunggu pesanan

Sesuai istilahnya, dalam situasi darurat sebagian dari kami memaksa menjejalkan makanan yang dipesan ke mulutnya. Lidah bisa diajak kompromi, namun perut belum tentu mudah diajak cincai. Pankreas harus punya kesibukan, belum lagi masalah nalar yang sudah membawa kami untuk mengingat istilah populer bagi masyarakat Jawa: ana rega, ana rupa. Ada harga, ada wujud (yang sepadan). Mahal tak soal, asal membuat puas. Enak, meski tak harus mengenyangkan.

Donny adalah orang paling sial, meski kemudian dibuat seolah-olah beruntung oleh manajemen restoran. Dia dibebaskan dari kewajiban membayar, padahal para waiter/waitress tak melihat bagaimana dia cengar-cengir sejak pertama mengunyah ikan ayam-ayaman (namanya aneh, ya?) bakar. Selera hilang seketika, apalagi setelah berusaha membau. “Sepertinya ikan lama…,” ujarnya.

“Atau karena terlalu lama di freezer,” sahut Gondrong, yang ikut mencicipi, dan berakhir pada kesimpulan yang sama dengan Donny.

Melihat dua ekor kucing berbadan ramping, bangkitlah naluri iba yang dipadu dengan sifat kedermawanan kami. Sekali-dua dilemparkan daging ikan pada si kucing, yang lantas disambarnya dengan penuh antusias. Kian iba kami pada keduanya. Sebagai bentuk apresiasi atas lahapnya menyantap, muncul ide saya untuk memuliakan sang kucing. Piring lantas kami pindahkan ke tanah, supaya mereka mudah mengakses makanan mewah itu. (Sesungguhnya, alasan kami memindah piring ke tanah karena sifat feodal yang kami miliki sebagai akibat lama tinggal di Solo)

Kucing rakus, menyantap pesanan Donny yang tak dimakan

Kucing rakus, menyantap pesanan Donny yang tak dimakan

Lima menit kami memerhatikan, rupanya satu kucing lebih cerdas. Yang berbulu kelabu, mendekat pun tidak, sedang yang kuning rakusnya bukan main. Persis seperti sikap kami pada awal-awal menerima pesanan. Malah, ketika piring saya tarik kembali, dia berusaha mengejar, malah sempat memandang saya, seolah tak rela. Kecewa.

Rupanya, adegan kucing menyantap ikan bakar itu disaksikan tiga pramusaji dari kejauhan. Tak lama berselang, mereka datang menawarkan sebuah permainan. Mungkin, maksudnya hendak menghibur. Beberapa helai kartu digenggamnya, lalu ramah menawari kami. Kami menolak, tapi si pramusaji gigih. Berusaha merayu kami lagi, tapi lagi-lagi kami menolak.

Dalam hati, saya paham tindakan itu sebagai bentuk tindakan yang baik, responsif terhadap gelagat  kekecewaan konsumen. Sayang, tawarannya kurang bermutu. Referensi kami tak sebanding. Banyak naskah sandiwara yang pernah kami baca, begitu pula jalan cerita aneka jenis drama –dari yang realis hingga absurd, pernah kami nikmati. Trik apa lagi yang bisa memuaskan kami, hingga sanggup menghapus kekecewaan kami?

Seperti menyerah karena rayuannya selalu mentah, para pramusaji menghilang. Mungkin mereka berunding dengan manajer, mencari solusi terbaik bagi kasus yang kami alami. Terasa agak lama, saya menelpon kantor rumah makan itu. “Tolong bill segera dibawa ke sini. Ini saya yang datang berombongan dan duduk di dekat tambak!” ujar saya pura-pura galak.

Kucing kurang ajar, difoto malah menantang

Kucing kurang ajar, difoto malah menantang

Segera saja, tiga pramusaji datang bersama-sama. Yang satu menjelaskan, dua pesanan ikan bakar dicoret dari daftar. Donny dan Rudy, si pemesan, dibebaskan dari kewajiban membayar. Sementara yang lain, walau komplain atas makanan yang rasanya biasa-biasa saja, tetap membayar. Tak apa, memang begitu seharusnya.

Dalam perjalanan pulang, kami banyak membicarakan menu dengan rasa usang itu. Kami lantas memupuk dendam selama perjalanan. Enam jam tak soal. Karena begitu memasuki Boyolali, kami berencana mampir ke Rumah Makan Tegal di Ampel. Teh kental yang enak dan panas, pecel yahud dan menyehatkan serta otak goreng yang sanggup memaksa air liur mengucur segera kupesan. Nyam…nyam…. nyamm…

Bergegas meneruskan perjalanan, ternyata dendam tak juga sirna. Mungkin sudah sifat saya. Ya sudah, saya tak akan kembali ke Pring Sewu Tegal lagi. Mendingan ke Rumah Makan Tegal. Tak ada permainan bukan soal, yang penting saat makan selalu diiringi kroncong live, oleh kelompok penyanyi jalanan (harap diingat, kami seniman. sebutan pengamen hanya pantas diberikan kepada peminta-minta yang pura-pura menyanyi, bergitar, berketipung, namun segera berlalu ketika uang sudah berpindah tangan).

10 thoughts on “Makanan Tak Enak, Dada Sesak

  1. Terimakasih banyak kami ucapkan, atas opininya selama berkunjung di restoran kami tanggal 30 juli 2009 lalu. kami sangat menyesali pengalaman yang tidak menyenangkan di restoran kami. pembenahan ke dalam telah kami lakukan segera sesuai dengan laporan tim kami berdasar data transaksi kami di tempat duduk bapak di lesehan tambak no.5 jam 9:00 pagi bersama 9 orang teman bapak. semoga pengalaman tersebut tidak akan terulang lagi.
    salam hormat kami,
    Andi listiyono
    Manager Restoran Taman Pringsewu Tegal

    terima kasih, Mas Andi. respon Anda cukup menarik dan melegakan. tak semua manajer memiliki sikap dan keberanian seperti Anda. semoga ada koreksi dan perbaikan, sehingga pelanggan bertambah loyal, kedatangan banyak tambahan pelanggan baru. maaf kalau tulisan saya kelewatan. semoga Pring Sewu lebih baik di masa mendatang.
    /blt/

  2. Benar..cita rasa jajanan Solo memang sangat melenakan dan memanjakan lidah, bahkan masakan bunda sekarang sudah tidak terlalu istimewa karena saya terlalu lama mencecap masakan solo yang maknyus2… akhir kata semoga sampeyan menang di pengadilan nanti..hahahaha…

  3. Husein Effendi

    Aku gak akan komentar soal Pringsewu.
    Yang membuatku ingin menulis di sini karena udah lama tidak berkunjung ke Rumah Makan Tegal di Boyolali.
    Rasanya nikmat banget makan sambil mendengarkan lagu keroncong. Kangen pengin kesana.

Leave a Reply