Ngruki, Ba’asyir dan Sikap Media

Sebuah panggilan dari nomor di seputaran Jl. Thamrin, Jakarta masuk ke telepon saya, Rabu (22/7) petang. Seseorang dari sebuah media Singapura mengajak bertemu esok hari, sebelum dia melanjutkan reportase ke Pondok Ngruki. Seperti biasa, paling-paling minta cerita background dan sebagainya. Dan bisa ditebak, semua pasti berkaitan dengan JI, Ngruki dan Ba’asyir.

Kita semua tahu, Indonesia seperti diposisikan sebagai gudangnya ahlul ngebom wal jam’ah, kumpulan orang-orang yang suka melakukan teror bom, terutama oleh media-media barat, termasuk sekutunya, seperti Australia dan Singapura. Sikap media, hampir selalu kurang-lebih sama dengan sikap resmi pemerintahnya.

Setidaknya, itulah pengalaman saya, yang pernah ‘ngojek’ sebagai fixer jurnalis dari berbagai negara: Amerika, Eropa, Asia dan Australia. Sekali pun, belum pernah bertemu dengan jurnalis Afrika, kendati saya sangat berharap bisa menemani mereka, hanya karena saya merasa menjadi salah satu fans tokoh perdamaian dunia pastur Desmond Tutu dan Nelson Mandela itu.

Baik, kita kembali ke pokok soal. Ngruki, Jamaah Islamiyah dan bom merupakan ‘satu paket’. Dan, sosok bernama Ustad Abu Bakar Ba’asyir menjadi salah satu figur sentral dari paket bikinan Barat itu. Mengapa saya menyebutnya sebagai paketan dari Barat, sebab saya kerap menjumpai praktek pengingkaran prinsip dasar jurnalisme: cover both sides yang memungkinkan informasi menjadi seimbang, sehingga hak publik untuk memperoleh informasi yang mendekati kebenaran bisa dipenuhi.

Satu contoh nyata adalah penyebutan Ngruki sebagai ‘inkubator teroris’. Setahu saya, selama proses wawancara dengan pihak-pihak yang berkompeten berlangsung, tak ada pembicaraan substansial mengenai hal-hal, pernyataan dan fakta subyektif dan sebagainya, yang mengarah pada keberadaan sebuah inkubator.

Terhadap seorang (maaf) ‘komentator’ isu-isu terorisme yang menjadi narasumber rujukan media di Indonesia maupun internasional, bahkan saya pernah bekerja selama beberapa bulan dengan melakukan wawancara dengan beberapa orang yang dianggap penting serta riset data, seperti mencari berita acara pemeriksaan (BAP), risalah persidangan dan sumber-sumber sekunder lainnya. Apa yang terjadi?

Pernyataan kesaksian tokoh kunci yang menguatkan tidak adanya keterlibatan Ba’asyir dalam perencanaan dan tindakan pada bom Bali I, tak muncul dalam report yang dikeluarkan oleh lembaga tempat ‘komentator’ tadi bekerja. Namun, ketika data-data tersebut saya gunakan untuk membuat sebuah tulisan panjang di sebuah media terbitan Jakarta, seorang teman yang menjadi associate researcher-nya memberi tahu saja, bahwa si peneliti itu memuji, tulisan saya dianggapnya bagus, komprehensif serta berimbang.

Harap dipahami, tulisan saya ini bukan untuk ‘membantu’ pencitraan Pondok Al Mukmin di Ngruki atau Ba’asyir. Dalam beberapa hal, saya juga tak sependapat dengan mereka. Namun, apakah karena perbedaan itu lantas kita mengabaikan hak mereka untuk bersuara? Dalam hal ini, saya mengcu pada prinsip jurnalisme, bahwa media massa juga berkewajiban membantu yang lemah, yang voiceless atau tak memiliki akses memadai di media massa.

Dan, khusus yang berkaitan dengan isu-isu dan aksi-aksi terorisme di Indonesia, saya sampai pada kesimpulan bahwa civitas academica Pondok Ngruki menjadi ‘korban’ penghakiman media massa. Para jurnalis dan pengelola lebih suka mengandalkan informasi sepihak, tanpa menguji kebenarannya atau mencocokkannya, di antaranya dengan pihak yang dituduh.

Para jurnalis asing, rata-rata sudah memiliki kesimpulannya sendiri. Di lapangan, mereka hanya butuh quote, pernyataan yang akan dikutip dan petunjuk-petunjuk yang sesuai dengan kesimpulannya. Jadi, praktek jugdement oleh media sudah terjadi.

Dalam konteks Pondok Ngruki, misalnya, tak bisa dipungkiri kenyataan bahwa banyak orang yang terlibat aksi terorisme, sebagiannya pernah menjadi santri di pondok itu. Namun, dinamika internal pondok kerap diabaikan, terutama kasus eksodus besar-besaran pada 1995, dimana sebagian besar santri dan ustad di pondok itu memilih keluar secara berjamaah.

Para eksodan berpencar ke sejumlah pondok-pondok lain, yang kesemuanya bisa dianggap ‘baru’ karena keberadaannya baru beberapa saat menjelang peristiwa eksodus itu. Yang utama adalah empat lokasi: satu di Jawa Tengah, satu di Jawa Timur dan dua yang lain terpencar di Jawa Barat. Semua jurnalis, nyaris tak menganggap peristiwa eksodus itu sebagai tonggak penting, yang menurut saya adalah salah satu kunci untuk melihat dan memetakan jaringan.

Perlu diketahui, Pondok Al Mukmin dikenal keras terhadap pemerintahan sekuler, yang kebetulan ketika itu dipimpin seorang rezim otoriter bernama Soeharto. Salah satu pendirinya, Abdullah Sungkar, dikenal sebagai tokoh Negara Islam Indonesia (NII) dan terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap sistem pemerintahan republik yang dinilainya tak berdasar syariah.

Oleh Soeharto, represi lantas dilancarkan. Tak cuma terhadap Sungkar dan Ngruki-nya, namun kepada siapapun yang dianggap merongrong ideologi Pancasila dan NKRI. Sungkar melarikan diri ke Malaysia pada 1985, yang disusul kemudian oleh Ba’asyir karena memperoleh perlakuan yang sama. Kosong tanpa tokoh, saya tak yakin Orde Baru tak menempatkan orang-orang kepercayaannya demi mengontrol kurikulum pesantren.

Saya menduga dan meyakini, orang-orang yang hengkang dari Ngruki, sepuluh tahun setelah pondok itu ditinggalkan duet Sungkar-Ba’asyir, adalah kelompok orang yang merasa gerah selalu diawasi oleh kaki tangan Orde Baru, sebab mereka merupakan orang-orang yang mengidolakan garis perjuangan Sungkar membentuk negara Islam, sebuah khilafah Islamiyah.

Sungkar di pengasingan lantas menjalin kontak dengan dunia luar, sehingga banyak pengikutnya yang ‘disekolahkan’ di medan perang yang sesungguhnya seperti di Afghanistan karena umat Islam dijajah Soviet. Disusul kemudian, ‘sekolah alam’ melalui jalan perang di Mindanau melawan pemerintah Katholik Philipina.

Dan, seperti tampak kemudian, para pelaku pemboman terbukti memiliki sejarah pendidikan perang atau berafiliasi dengan eks-pejuang di Afghanistan dan Philipina Selatan yang memiliki kemampuan merakit senjata, membuat bom, taktik perang dan sebagainya.

Dan, menarik untuk dijadikan catatan, antara Sungkar dan Ba’asyir memiliki perbedaan yang menonjol. Sebuah petunjuk pernah disampaikan seorang narasumber, ketika Sungkar meninggal pada 1999 dan Ba’asyir ingin menggantikan kedudukannya sebagai imam dalam sebuah organisasi (yang menurut versi aparat keamanan) disebut Jamaah Islamiyah, ia memperoleh tentangan dari para pengikut Sungkar yang rata-rata militan.

Ada banyak syarat yang mesti dipenuhi, dan Ba’asyir gugur sejak sayarat pertama, yakni memiliki pengalaman di medan perang. Ba’asyir, kata sumber itu, belum pernah ekalipun ikut berperang, baik di Afghanistan maupun Mindanau, Philipina Selatan

Saya pun, setelah puluhan kali bertemu dengan Ba’asyir, lantas punya kesimpulan yang cenderung membenarkan bahwa Ba’asyir memang ‘tak layak’ memimpin organisasi peninggalan Sungkar. Ba’asyir, bagi saya termasuk moderat. Selain hangat menerima tamu-tamunya yang terdiri dari pendeta, pastur dan utusan-utusan gereja, ia juga tak setuju dengan model perusakan yang mengakibatkan penderitaan atau kematian orang-orang yang tak memusuhi Islam, apalagi perempuan dan anak-anak.

Berulang kali saya mendengar pernyataan yang menunjukkan sikap moderatnya, termasuk saat konperensi pers di kediamannya, Rabu (22/7) siang. Ia menyatakan, Indonesia bukan wilayah perang, sehingga aksi pemboman tak bisa dibenarkan. Itu sikap dan ijtihad-nya. “Orang kafir sekalipun, termasuk pendeta tak boleh dibunuh kalau dia tak memusuhi dan memerang Islam,” ujarnya.

Soal benar-tidaknya pernyataan Ba’asyir, jujur atau berbohong, wallahu ’alam. Biarlah itu menjadi urusan Allah SWT sebagai pengadil yang seadil-adilnya. Setidaknya, saya berusaha memercayai, dan tidak berprasangka buruk kepada Ustad Ba’asyir. Toh, selama ini, saya juga tak pernah menemukan bukti dan indikasi santri-santri Ngruki ikut-ikutan merazia penjual minuman keras atau tempat-tempat hiburan malam yang ‘kafir’ karena menjajakan minuman beralkohol

Terserah Anda menilai saya seperti apa, di sini saya hanya ingin berdiskusi dengan Anda. Secara sehat dan rasional tentunya…..

Tulisan terkait: Marriot, JI dan Ngruki

Baca pula Tiga Dosa Media dalam Liputan Bom sebagai referensi Anda.

26 thoughts on “Ngruki, Ba’asyir dan Sikap Media

  1. makasih pak de, tulisan ini mencerahkan
    dari awal saya memang tidak 100% percaya pada media yg selalu menjustifikasi Ngruki dengan label terorisme dan semacamnya.
    tulisan ini memberi banyak penyadaran dan fakta yang harusnya juga diusung media.

  2. ferry

    Menarik informasi dan tulisannya om…..terutama ada beberapa hal yg belum banyak orang tau (Ustad Abubakar Ba’ashir kerap menerima kunjungan pemimpin umat beragama lain dan beliau tidak mempunyai pengalaman berperang sehingga gagal untuk menjadi pengganti Abdullah Sungkar) karena memang tidak/jarang diberitakan surat kabar besar……semoga mereka / kita tidak saling mencurigai dan dapat menikmati bahwa Keragaman dalam kehidupan ini adalah merupakan sebuah Karya Agung ‘Instalasi Seni’ Terbesar okeh Sang Pencipta ‘Tuhan’, sehingga kita bisa hidup, berfikir, bersujud kepada NYA layaknya sebagai orang ‘Merdeka’.

    amin…
    /blt/

  3. Tulisan yang bagus mas poer. tajam dan luas sekali.
    saya baru saja membaca release tentang taliban, yang selama ini juga dicap teroris oleh Amerika. disitu disebutkan aturan/kode etik ..””Seorang muslim yang pemberani selayaknya tidak dimanfaatkan untuk target-target yang tidak penting. Bom bunuh diri sebisa mungkin dilakukan dengan menghindari korban di kalangan sipil,””

    Melihat Ust. Abu sama halnya saya melihat Taliban. Tapi Media telah mencetak image bahwa mereka adalah pengebom. sampai2 jika melihat orang berjubah dan berjenggot dianggap pengebom.

  4. Menarik sekali! Sodara Blonty mengingatkan kita tentang objektivitas. Di dalamnya termasuk skeptisisme positif yang mestinya melekati setiap penulis dan terutama jurnalis. Terima kasih.

  5. wildan

    Terus terang tulisan yang positif tentang ABB baru sekali ini saya baca. Taruhlah dia memang moderat, dll seperti yang mas tulis, tapi mengapa komen dia tentang bom kok negatif terus (dapat dibaca di beberapa media) dan saya yakin mas juga baca. Kayanya belum pernah ABB menjenguk korban bom, atau minimal mengucapkan belasungkawa. Atau memang saya yang belum tahu ? Atau pernah tapi gak diexpos ?. Justru ketika Amrozy cs mau dieksekusi, ABB malah menjenguknya. Terus ABB juga gampang mengkafirkan orang, terutama yang berseberangan dengannya ( amerika / barat ). Saya mohon pencerahannya agar tidak berprasangka. Salam.

  6. Para jurnalis ………, rata-rata sudah memiliki kesimpulannya sendiri. Di lapangan, mereka hanya butuh quote

    RIP : Jurnalisme.

    Media massa sekarang yang besar justru tidak melakukan prinsip2 jurnalisme. Ada beberapa media kecil yang masih menjalankannya. Tapi suara mereka tenggelam oleh media-media besar ini.

    Saya masih ingat dulu ketika bom Bali, ketika semua media massa bersuara emosional tapi membeo – Republika justru melakukan penyelidikan. Mereka menemukan antara lain bahwa saksi KUNCI bom bali diboyong oleh aparat Australia — dan lalu dikembalikan sudah menjadi abu, mayat.

    Tapi karena media massa besar lainnya tidak ada yang turut menyuarakan ini, akhirnya fakta vital ini tenggelam begitu saja di tengah hiruk pikuk…

    1. Blontank Poer

      @yons: maaf, saya tak mengijinkan posting saya dipublikasikan di jurnalkomunikasi.com. kalau URL sumber tulisan disertakan, itu baru fair. tapi kalau model copy-paste, lalu disebut nama saya sebagai penulisnya, itu namanya memberi kesan seolah-olah saya menulis untuk jurnalkomunikasi.com.

      itu kurang fair, kayaknya. kuatir nanti jadi kajian ‘kasus komunikasi’. hehehe….

  7. hasbim

    bos…temenku (cina katholik) yang pernah bertetanggaan sel dengan Ba’asyir sewaktu di Cipinang yakin 1.000% Pak Kyai Abu bukan tukang ngebom. Temenku sangat menaruh hormat padanya, sampai sekarang.

    1. Blontank Poer

      @hasbim: seingatku, Pondok Ngruki mulai sering menerima kunjungan utusan gereja-gereja, tak cuma skala lokal/nasional, juga gereja dunia. kalau tak salah dengar, frekwensinya di atas 50 kali. dan ba’asyir kerap menyambut kedatangan tamu-tamunya.

      kalau itu benar (salah satu ustad di sana pernah mengemukakan hal itu dalam forum pertemuan tokoh lintas agama), maka itu menjaid petunjuk menarik. walaupun, bagi yang mengedepankan prasangka akan menyebutnya sebagai ‘pura-pura’. untuk yang begitu, kita serahkan saja pada Tuhan. ya, kan?

  8. Setelah membaca berita bahwa pengebom Marriott dan Ritz Carlton diduga bernama Nur Said adalah alumnus Ngruki, terbesit tanya di hati, “Bagaimana Islam yang diajarkan di Ngruki.” Soalnya, pengebom yang sebelumnya juga alumni Ngruki. Apakah ini semata-mata kebetulan atau ada sesuatu yang keliru?

    1. Blontank Poer

      @baso:Kang BA, kita tak tahu seperti apa Islam yang diajarkan di Ngruki. tapi kita mesti percaya, sudah banyak instrumen ‘kontrol’ kurikulum, baik dari Diknas maupun Depag. semua menyatakan oke-oke saja.

      soal kebetulan atau tidak, kita bisa menduga-duganya dengan banyak mencari informasi, mengolahnya dengan nalar, dan menjauhkan dari prasangka lebih dulu biar jernih menilai.

    1. Blontank Poer

      @all: terima kasih tanggapan-tanggapan positifnya. semoga saya tak sedang menjual bualan

      @ratnodp: senang mendengarnya. kalau Anda mau berkomentar agak panjang, mungkin akan memberi perspektif lain. dua hari lalu, seorang teman yang dekat dengan aktivitas HAM berpendapat Ngruki lebih baik dibubarkan lantaran banyak nama orang yang pernah belajar di Ngruki tersangkut perkara terorisme. saya tak setuju sebab itu sama saja dengan anarkisme dan politisasi pada lembaga pendidikan. masih banyak cara yang santun dan bermartabat untuk menyelesaikan atau mencari solusinya. salam.

  9. ratnodp

    Pagi ini baca2 politikana, eh ada tulisan Pak (Mas?) Poer.
    Mau ngasih komen di sana terhalang loginisasi 😀 Jadilah numpang komentar di sini.

    Dari berbagai tulisan mengenai Ngruki, hanya sedikit, imho, yang benar2 berlandaskan penelusuran di lapangan, kebanyakan adalah kelatahan dan lazy journalism. Garbage in garbage out. Akhirnya menjustifikasi Ngruki sebagai ‘inkubator teroris’. Dan pagi ini tulisan Pak Poer mengagetkan saya. Terimakasih.

    Oh ya, i was there in 1995, walau cuma ‘anak bawang’ gak terlalu ngeh apa yang terjadi.

  10. ahmad dimyati

    pertama setuju dangan apa yang disampaikan pak poer, salah satu penyebab eksodus adalah upacara bendera pada hari senin, lha pertanyaan sekarang berapa lembaga pendidikan Islam tidak melaksanakan upacara bendera(ini bukan fasis) tapi hanya sebagai indikasi aja. perbedaan pandangan diantara kelompok mereka sebetulnya sudah jauh sebelum itu udah terjadi memang gerakan intelijen orba waktu disamping tekanan adalah mengaduk domba, ini terjadi kepergian abdullah sungkar dan disusul Ustadz Ba’asyir karena memang benturan keras di organisasi NII sendiri yang kebetulan ada yang bersembunyi di rumah orba yang kemudian difasilitasi, kelompok inilah yang kemudian setelah keruntuhan orba undercontrol tak ada konsolidator yang kuat untuk mengandangkan mereka. maaf ndak bisa tulisannnya

  11. Baru ingat konflik internal Ngruki tahun 1995 setelah baca tulisan pak blo ini (thanks)…

    ingat juga, peristiwa usroh/ komji tahun 80-an juga menghasilkan diaspora lebih spektakuler..mereka inilah yang pertama menyadari infiltrasi dari luar dengan kehadiran HISPRAN…

  12. orang-orang yang mengaku Islam dan paling benar itu, entah mengapa tidak bisa membedakan mana lokasi perang dan mana daerah damai. Saya ragu apakah ke-islam-an mereka bisa dikatakan sebagai islam yang sesungguhnya, atau malah sebenarnya mereka “kafir” terhadap petunjuk — salah mengartikan atau sengaja membengkokkan petunjuk itu sendiri.

Leave a Reply