Dieng, Keindahan yang Merana

Kompleks candi di Dieng

Kompleks candi di Dieng

Dieng yang saya kenal barulah sebatas kawasan candi dan perbukitan yang kini gundul. Dieng Plateau yang namanya sudah mendunia itu terletak di sebelah mana, saya belum pernah mengunjunginya. Yang tersisa pada ingatan dari dua kali bertandang, hanyalah sebuah kontras. Sunrise yang memesona pada hari gelap dan kengerian saat mentari menerangi perbukitan berwarna kecoklatan.

Maka, ketika Tyovan dan teman-teman blogger Wonosobo mengirim undangan dengan iming-iming akan diajak wisata ke Dieng, segera saya mengiyakan meski dengan perasan campur aduk. Antara rasa suka karena akan bersua kembali dengan gradasi warna ketika matahari terbit, lalu segera berubah jika teringat pada luka alam.

Lalu lalang petani memikul kentang hasil panen dan lahan kecoklatan yang ditinggalkan, kembali menggiring ingatan saya pada kematian banyak orang di sepanjang sungai yang berhulu di kawasan itu. Air bah bisa tiba-tiba muntah, sementara jumlah sumber air terus menyusut, hingga tinggal setengah dari yang masih menyemburkan air dua dasawarsa silam.

DIENG_telagawarna_03

Dua telaga dengan warna air berbeda

Gerakan Wonosobo Menanam sudah dicanangkan pemerintah daerah setempat sejak beberapa tahun silam. Respon khalayak cukup menggembirakan, namun tetap saja belum sanggup menerbitkan optimisme. Kesadaran penduduk sekitar untuk menghijaukan kembali kawasan penyangga sumber-sumber air yang meliputi sedikitnya tujuh kabupaten itu, masih jauh dari memadai. Tanaman keras masih langka, digantikan tanaman kentang, yang kendati bernilai ekonomis tinggi (karena itu masyarakat tampak lebih ‘sejahtera’) namun ternyata perusak struktur tanah sehingga menjadi penyebab utama tanah longsor.

Dieng adalah Dieng. Keunikannya telah mengundang banyak wisatawan mancanegara, utamanya Belanda, berkunjung ke sana. Beberapa kali saya menjumpai mereka yang menginap di Hotel Kresna, jauh-jauh datang ke Dieng bersama anak-cucunya. Entah memori apa yang membawanya melanglang buana. Mungkin, generasi tertua mereka yang biasa datang berombongan itu adalah sisa-sisa pegawai atau mungkin tentara kolonial Belanda dulu.

Hamparan kebun teh dengan kualitas (konon) terbaik di dunia yang terletak di bawah Dieng, mungkin dulunya merupakan tempat pelesiran mereka di masa muda. Karena itu, mereka ingin mengenang kembali masa-masa sebelumnya, seperti saya teringat datang kembali dan memotret sunrise. Ya, semacam romantisme kaum tua. Mungkin.

Menanti matahari terbit

Menanti matahari terbit

Ke Dieng, saya ingin bisa menjumpai kaum semi-rasta. Anak-anak berambut gimbal, yang pantang keramas kecuali pada hari-hari yang dikeramatkan, yang modelnya ditiru kaum rasta atau rastafara sahabat Bob Marley, fans berat Tony Q atau Steven Coconut. Yang pasti, anak-anak gimbal di sana bukan penghisap asap cimeng.

Dua telaga dengan warna air berbeda atau dikenal sengan sebutan Telaga Warna, juga ingin kembali kusambangi. Tiga tahun silam, saya tak berhasil membuat foto yang layak dipamerkan, walau sekadar kepada kerabat dekat. Namun soal teh dan mi ongklok, saya sudah terbiasa menikmatinya. Juga carica, jenis pepaya yang konon hanya ada di dataran tinggi Dieng.

Sebagai lelaki berusia, tentu saja saya tergoda pada khasiat daun purwoceng. Daun yang bisa diseduh layaknya teh itu cukup bisa diandalkan untuk menambah bekal mental kelelakian ketika harus berhadapan dengan lawan tanding, yang bisa saja perempuan, atau karena selera dan pembawaan, terpaksa menghadapi lelaki.

Dieng, saya akan datang, hibur dengan biru langitmu…..

19 thoughts on “Dieng, Keindahan yang Merana

  1. Dieng Plateau Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara adalah tujuan wisata utama di Pulau Jawa, Indonesia, dengan banyak pesona dan misteri yang belum terungkap. DiengPlateau.Com menyajikan informasi tentang obyek wisata, homestay, rental mobil dan segala informasi wisata di Dataran Tinggi Dieng.

  2. Lah..ya jangan ngomong thok di bentuk klompok tani di kasih perlengkapan di modali yg buat hidup yang jadi atasan jangan ngajari korupsi.kmentar sekranjang menthang ora temandang ora kanggo nggawe.

  3. hiks, blm jelas bisa ikut gak acara ke dieng … hiks … padahal pingin lihat dieng sekarang dengan 10 tahun lalu saat aku ke sana dan membandingkannya lagi beberapa tahun ke belakang saat dieng masih indah …

  4. dieng yg dulu emang udah berubah mas, sekarang di sepanjang hamparan hanya ada kawasan pohon/tanaman yg tidak kuat menahan erosi, liat ajah hampir sepanjang wilayah banyak dijumpai tanaman kentang, sayur, teh, tembakau dan jamur. karena memang itulah sumber pendapatan para penduduk setempat yg emang kebanyakan adalah petani.. dieng tidak terurus karna pada saat itu pengelolaan dieng dikerjakan bersama oleh 2kabupaten, banjarnegara dan wonosobo dan hasilnya ndak maksimal. yg akhirnya skarang untuk aset wisata dah dikelola sendiri2 oleh dinas pariwisata masing-masing. mengenai dieng saya juga sempet menulisnya di blog http://www.badoer.com/category/dieng-plateu
    **promo mode-on** 😀

  5. Bener. Tahun lalu saya ke Dieng dalam sebuah kesempatan liburan bersama keluarga. Maksud hati ingin menikmati Dieng sama seperti ketika saya masih bujangan. Memang tak ada perubahan berarti di kawasan ini. Hotel yang representatif tidak ada. Setelah keliling-keliling karena hari sudah sore, saya akhirnya memutuskan menginap di salah satu homestay — tapi mereka menyebutnya “hotel”. Ya sudah, tidak apa-apa. Toh saya juga terbiasa tidur dalam sleeping bag kalau sedang hiking. Tapi tidak untuk anak-anak saya. “Kasurnya kok basah?” itu komentar anak saya begitu masuk ke kamar. Maksudnya, udara dingin telah membuat kasur di situ terasa lembab. Mereka agak ngomel dengan kondisi kamar yang saya dapatkan.

    Ketiadaan hotel yang representatif di satu sisi memang menyenangkan, Dieng tak terlalu terusik komersialisasi wisata. Tapi mengingat kawasan ini juga menjadi tujuan banyak turis asing, saya rasa membangun sebuah hotel yang gak mewah-mewah amat, tetap dibutuhkan. Sayang banget, padahal kalau dibangun dengan konsep eco-tourism yang benar, kawasan ini bisa berkembang sangat baik.

    Dengan eco-tourism yang benar, kawasan hutan yang gundul total, bisa dihijaukan kembali. Dan betul, gundulnya perbukitan Dieng adalah satu-satunya perubahan yang saya lihat. Perubahan yang mengerikan. “Terjadi penjarahan besar-besaran pas reformasi 1998,” kata tour guide saya yang sekaligus pemilik “hotel” tempat saya menginap.

    Saya tidak tahu, apakah Blonthank betul bahwa Gerakan Wonosobo menanam itu sudah dimulai beberapa tahun lalu. Karena ketika saya ke sana, saya tidak melihat jejak atau greget dari gerakan itu. Pohon-pohon keras dibabat, dijadikan ladang kentang atau sayuran. Bahkan hingga ke pucuk-pucuk bukit.

    Mengerikan kalau tidak segera distop. Petani harus dialihkan usahanya. Cukong-cukong yang ada di belakang penjarah mesti diminta hengkang. Dieng harus diselamatkan.

Leave a Reply