Marriot, JI dan Ngruki

Dunia internasional kembali dipaksa memerhatikan Indonesia. Bom yang meledak beruntun di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, Jumat (17/7) pagi, menewaskan sedikitnya sembilan tamu sedang menikmati breakfast. Sebagian besar korban yang berkebangsaan asing, serta kedua hotel juga merupakan simbol barat di Indonesia, sangat mudah menuntun kita pada kesimpulan yang bisa jadi terburu-buru, bahwa pelakunya adalah jaringan Jamaah Islamiyah.

Kesimpulan demikian seolah-olah masuk akal, apalagi pemboman JW Marriot Jakarta kali ini merupakan yang kedua kalinya pasca-tragedi Bom Bali, dan di kemudian hari terdapat temuan, bahwa pelakunya terafiliasi dengan kelompok militan Islam itu. Mudah ditebak, peristiwa kali ini akan kembali menyeret Ngruki Connections ke dalam pusaran tragedi kemanusiaan itu.

Ngruki adalah nama desa di pinggiran Kota Solo, tempat dimana Pondok Pesantren Al Mukmin yang didirikan almarhum Abdullah Sungkar berada. Dalam wacana politik internasional, apalagi yang berkaitan dengan isu-isu Islam militan versus barat, Ngruki pasti disebut. Ada Abu Bakar Ba’asyir, salah satu pendiri pondok itu, yang pernah sama-sama melarikan diri ke Malaysia bersama Sungkar. Sebuah media Amerika, bahkan menyebut Ngruki sebagai incubator for terrorists.

Di sini, saya tak hendak membela Pondok Ngruki, sebab terlalu dini pula untuk membuat kesimpulan bahwa Ngruki akan terbebas dari arus kuat yang demikian. Sebagai orang yang kerap keluar-masuk pondok itu untuk keperluan kerja jurnalistik, saya hanya ingin menyampaikan opini pribadi, berdasarkan sejumlah interaksi dengan orang-orang pondok itu ditambah hasil membaca sejumlah literatur.

Eksodus besar-besaran santri dan ustad dari pondok itu pada 1995, bagi saya merupakan petunjuk adanya perbedaan sikap politik di kalangan internal pondok. Hampir 60 persen kekuatan pondok hijrah ke berbagai daerah lalu mendirikan pondok-pondok kecil, dua di Jawa Barat dan masing-masing satu di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Eksodus, menurut saya, lantaran para pengikut Abdullah Sungkar yang bersikap keras terhadap Orde Baru, merasa tak nyaman di pondok itu. Apalagi, sepeninggal Sungkar (lalu disusul Ba’asyir) pada 1985, pondok itu diawasi oleh intelijen. Sebagian bertahan, selebihnya memilih enggan berkompromi dengan beragam kebijakan rezim Soeharto.

Banyaknya orang yang ditangkap karena diduga terkait dengan peristiwa Bom Bali, Kedubes Australia, Marriot dan sebagainya, dalam lima tahun terakhir, memberi petunjuk argumentasi saya di atas. Pelaku bom bunuh diri serta jaringannya, rata-rata memiliki hubungan (bahkan berasal) dari lingkungan empat pondok pecahan Ngruki.

Sulitnya menemukan tokoh yang bisa dianggap sebagai mastermind lantas menempatkan Ba’asyir sebagai pilihan, meski kemudian polisi dan jaksa sulit menemukan alasan hukum keterlibatannya. Uniknya, dalam perkembangannya, Ngruki tampak lebih ‘moderat’. Yang semula dikenali sebagai anti-Barat dan anti-Kristen, kabarnya kini sudah sering menerima tamu delegasi gereja-gereja dari berbagai kota di Indonesia, bahkan dunia.

Tak cuma sekali dua, kunjungan bahkan terjadi puluhan kali, dan Abu Bakar Ba’asyir sebagai petinggi pondok itu, banyak terlibat dalam penyambutan dan dialog dengan para tamunya yang oleh kelompok garis keras disebut sebagai ‘kaum kafir’. Saya kira, itu bisa menjadi petunjuk betapa Ngruki yang dulu sudah berubah, meski tidak menutup kemungkinan, masih ada orang-orang pengikut Sungkar yang tinggal di dalamnya.

Selebihnya, saya hanya ingin mengajak Anda untuk tak mudah membuat kesimpulan, apalagi penghakiman sepihak tanpa petunjuk kuat dan fakta yang sebenarnya. Kalau benar-benar merasa sebagai orang-orang yang merdeka dan toleran, sebaiknya kita tak buru-buru berburuk sangka. Kita tunggu saja perkembangannya.

Simak juga info mengenai Abu Bakar Ba’asyir yang kontroversial di blog lama saya.

18 thoughts on “Marriot, JI dan Ngruki

  1. kelik ismunandar

    ngruki dituduh atau tidak soal yang biasa saja. tidak penting, bagi aku ngruki bagian dari kelompok fundamentalis radikal yang mengusung konsep negara daulah khilafah Islamiyah. Basis teologi Ngruki juga sangat literalis. Coba kawan Poer simak kumpulan kotbah basyir dibanyak masjid 2 tahun terakhir. secara semiotik kosa kata yang “rajin” muncul adalah “kafir” versus “muslim”. Islami versus sekuler. Islam versus pancasila, dsb.

    Kotbah2 yang mengajarkan kebencian dan sesuatu yang selalu hitam putih adalah bahan bakar radikalisme. lihat juga tausyiah Basyir saat pemakaman tersangka teroris, tetap menganggap mereka sebagai mujahid meski salah jalan. Kekeliruan kelompok radikal adalah mereka sudah tahu AS dan barat memainkan politik perang terhadap terorisme paska komunitas soviet remuk redam. Propaganda barat yang menstigmatisasi Islam radikal sebagai teroris malah mereka—-elemen kecil yang terperdaya—-masuk perangkap melakukan kekerasan yang diskenario barat.

    Bukti bahwa pelaku terorisme, atau yang punya niat ngebom semacam imam samudera, cs sesungguhnya tidak memahami peta propaganda politik.

    Kalau aku yakin mereka kelompok radikal, telah masuk dalam bagian operasi intelijen dan kontraintelijen proyek perang terhadap terorisme. khusus untuk Noordin M Top jelas dia agen ganda…..Malaysia, AS . Gobloknya kelompok radikal yang tidak sadar, selalu berteriak kencang padahal teriakannya menjadi “bukti” bhawa mereka berbakat menajdi teroris. Meski teroris yang sesungguhnya ya AS, Israel, negara barat.

    aku tidak dalam kapasitas pro-kontra Ngruki/Ba’asyir dll. NKRI jelas gak boleh ditawar. model federasi juga aku tak sepaham. soal Noordin, dll, bagiku itu sandiwara tingkat tinggi, dagelan yang skenarionya ngalahkan drama sehebat manapun. maka, menulis laporan soal begituan, aku sangat hati-hati.

    aku justru kerap skeptis. setiap ada insiden, coba kulihat sedang ada apa di republik ini….. jangankan mereka, gerakan manapun (kalau istilah OrBa: EKa-EKi) sama saja. ibarat wayang, perjuangan mereka pun cuma sandiwara bagi pengarang naskahnya, belum termasuk sutradaranya. hehehe…
    /blt/

  2. ahmad dmyati

    @hassan; barang siapa melihat kemungkaran rubahlah(lawan) dengan tanganmu, jika tidak mampu pakai mulutmu, jika tidak mampu doakanlah seperti itulah selemahh-lemahnya iman. sori pakai t ang an bukan di tut-tut hape atau keybord cpu aya laptop. maaf bung kadang kita lebh takut hidup dari pada mati itu sendiri

  3. Baru ingat, ada konflik internal Ngruki tahun 1995 setelah baca tulisan pak blo ini (thanks)…

    ingat juga, peristiwa usroh/ komji tahun 80-an juga menghasilkan diaspora lebih spektakuler..mereka inilah yang pertama menyadari infiltrasi dari luar dengan kehadiran HISPRAN…

  4. amin

    sebuah pemikiran cerdas dari seorang blontank yang pantas kita renungkan, tidak mudah menuduh dan selalu memberi ruang untuk berubah. salam

  5. arsyad

    pesantren ngruki hanyalah sebuah institusi pendidikan dimana para alumninya kemudian bertebaran dalam berbagai profesi. beberapa yang kemudian menjadi tersangka dalam kasus pemboman hanyalah sebagian kecil dari alumni ngruki. tidaklah arif kemudian menggeneralisir alumni ngruki sebagai pelaku terorisme.

    1. Blontank Poer

      setuju. tak boleh seorangpun menghakimi, dengan dalih apapun. bahwa ada satu-dua yang nyempal, juga bukan sesuatu yang mustahil.

      berkali-kali saya wawancara Ust. Ba’asyir, saya jadi bisa mengerti dan membedakan ijtihad satu dengan yang lain atas sebuah perkara. makanya, kerja polisi juga harus dimengerti sebagai bagian dari mandat yang harus disandangnya, sementara bagi pengelola Pondok al Mukmin, peristiwa demikian bisa jadi momentum untuk ke depan lebih jeli memilih manajemen pendidikan dan santri.

      saya kira, semua pihak mesti arif, meski momentum eksodus 1995 bisa dijadikan sebagai petunjuk untuk mengurai persoalan. salam

  6. Terlepas dari perkembangan kemana ini kan mencuat dan siapa/pihak mana yang bertanggung-jawab, penting buat setiap warga agar senantiasa melakukan tugas-dan-kewajibannya agar menjadi waspada dan melaporkan perilaku yang janggal yang dapat menjadi ‘lead’ dari aksi-aksi teror berikutnya di kemudian hari..

    There are so many variable analysis to the Jakarta Explosion. Every opinion expressed seem reasonable enough to be a useful ground for investigation. I ‘m looking at it in a different way. It is a symbol. A symbol of failure. Failure to educate citizens. Educate to create great minds. Great minds to judge what principles to follow. Principles that believes in the beauty of life not the beauty of terror. LETS EDUCATE!

  7. @mas andy+hassan..

    wah malah do udur dewe2 iki piye toh..
    apa juga ada ayat alquran yang nyuruh buat server..
    jadi semua itu memang gak ada, cuman itu adalah implementasi dari perkembangan jaman..
    semakin modern jamannya, semakin canggih pula uteknya…
    hehe..

  8. @hasssan: kowe wagu, tak ada satupun ayat dalam AlQur’an yang nyuruh ngeblog, lalu dari manakah blogger-blogger pendapat petunjuk untuk ngeblog??? huahaha

  9. Menurut saya, Islam sendiri tidak pernah mengajarkan untuk beraliran “garis keras”. Tidak ada satu pun ayat dalam alQur’an yang yuruh nge-bom. lalu dari manakah mereka mendapat petunjuk untuk nge-bom???

  10. lintang

    he’em..
    kadang-kadang memang sekali maling tetap dituduh maling seterusnya, padahal bisa saja si maling sudah insaf…ya…

  11. Pertamax..
    setuju banget..
    Jangan langsung berprasangka buruk dengan orang lain, toh walaupun sebelumnya diduga pernah terlibat, tapi apa manusia tidak akan memperbaiki diri…
    keep positive thinking…

Leave a Reply