‘Gangguan Jiwa’ Polisi Kita

Papan iklan di pos polisi Beran, Sleman

Papan iklan di pos polisi Beran, Sleman

Kalau pergi ke Candi Borobudur dari Kota Yogyakarta, Anda akan menjumpai reklame yang disponsori sebuah merek rokok di depan pos-pos polisi lalu lintas, dengan tulisan mencolok: Obsesi Polisi: Siap Melayani Masyarakat. Sekilas, reklame itu memberi petunjuk seragam, bahwa dimana ada reklame itu, di situ juga polisi siap setiap saat untuk diminta pelayanannya oleh masyarakat.

Dua tahun lebih saya memperhatikan reklame semacam itu, yang ternyata dipasang di seluruh pos polisi lalu lintas yang ada di sepanjang utama dari Yogyakarta menuju Magelang, Solo atau ke arah Bantul. Reklame-reklame itu seolah menjadi petunjuk keberadaan polisi, sumbangan sebuah produsen rokok yang menjadikan obsesi sebagai tema utama kampanye pemasarannya.

Kalau di televisi iklan rokok itu menawarkan menjadi sutradara atau orator sebagai obsesi, menurut saya masih jauh lebih bagus meski kemasan pesannya tidak menarik. Terobsesi menjadi sutradara memberi pesan bahwa betapa tingginya derajat sutradara dalam sebuah kerja seni, baik itu dalam pembuatan film, maupun penciptaan karya tari, teater dan sebagainya.

Begitu pula dengan obsesi menjadi orator, maka citra yang disodorkan kepada khalayak adalah betapa hebatnya seorang orator. Selain harus memiliki kadar intelektualistas tertentu, seorang orator pasti mampu menyampaikan menyampaikan gagasannya secara memikat sehingga memiliki daya mempengaruhi orang lain.

Bagaimana bila kalimat Siap Melayani Masyarakat dijadikan sebagai obsesi polisi?

Kalau saya seorang pejabat kepolisian yang memiliki kewenangan, maka tidak hanya akan memerintahkan pencopotan reklame-reklame itu. Kalau perlu, saya akan melakukan upaya hukum, setidaknya pernyataan keberatan atau somasi atas ditonjolkannya –bahkan bertahun-tahun, bahwa kesiapan melayani masyarakat hanyalah sebuah obsesi.

Obsesi polisi sama dengan obsesi produsen rokok?

Obsesi polisi sama dengan obsesi produsen rokok?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, obsesi berarti gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menghantui atau sangat sukar dihilangkan. Obsesi sendiri merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris obsession yang berarti 1. godaan, gangguan pikiran, obsesi. 2. kesurupan/kemasukan setan.

Kalau mendasarkan pada pengertian gangguan jiwa yang selalu menghantui, maka Obsesi Polisi: Siap Melayani Masyarakat bisa dimaknai dengan bahasa yang kurang lebih demikian: kesiapan melayani masyarakat hanyalah semacam gangguan kejiwaan bagi polisi, sehingga tak tersisa ruang kesadaran untuk mewujudkannya. Padahal, sesuai mandat undang-undang, melayani masyarakat merupakan kewajiban setiap individu polisi, apalagi secara kelembagaan, sebab tugas polisi adalah menjaga keamanan dan ketertiban dalam setiap sendi kehidupan kemasyarakatan.

Lain halnya kalau pesan itu dimaksudkan sebagai olok-olok atas kenyataan bahwa persepsi masyarakat terhadap kinerja aparat kepolisian belum sepenuhnya memuaskan. Contohnya, penuntasan kasus-kasus besar yang dianggap lamban seperti terjadi pada penyelidikan kematian Nasrudin yang diduga melibatkan Antasari Azhar hingga razia lalu lintas atau tempat-tempat hiburan yang dianggap sering melanggar privasi masyarakat.

Sebagai warga negara yang baik dan merindukan dampak positif kinerja aparat kepolisian untuk mewujudkan tatana kehidupan kemasyarakatan yang aman, nyaman dan tenteram, maka saya sangat berkeberatan dengan pernyataan ‘kesiapan melayani’ hanya sebagas sebagai obsesi. Citra buruk akibat ulah sebagian oknum polisi tidak boleh dibenarkan dengan reklame menyesatkan semacam itu.

Kepolisian –bersama-sama dengan institusi kejaksaan dan pengadilan, bagi saya adalah ujung tombak yang mengawal terwujudnya kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang demokratis. Masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan mustahil terwujud bila hukum tidak dikedepankan dan supremasi sipil dikesampingkan.

Penyelewengan aparat birokrasi berupa korupsi, kolusi dan nepotisme yang merugikan masyarakat mustahil dibongkar dan disidangkan tanpa bukti kerja aparat kepolisian yang terukur dan transparan. Pers yang bebas hanyalah pelengkap untuk memantau kinerja mereka sebagai mandat dari publik untuk mengawal tegaknya supremasi hukum.

Oleh karena itu, kesiapan melayani masyarakat tidak boleh lagi hanya menjadi obsesi, dimana kantor-kantor polisi tampak seperti rumah sakit bagi para penderita gangguan jiwa. Melayani masyarakat adalah kewajiban. Dan, kesiapan adalah sikap mental atau moralitas setiap anggota kepolisian. Bukan gangguan kejiwaan.

7 thoughts on “‘Gangguan Jiwa’ Polisi Kita

  1. zen

    parah..kl tugas yg diembannya hanya dianggap sebagai obsesi semata…tulisan yg cermat Dhe…mungkin terlalu bersemangat cari ceperan..hingga tdk waspada kalo sudah dimanfaatkan oleh pengiklan

  2. Om, saya meyakini iklan tersebut telah didiskusikan antara Star Mild dengan Polisi yang memiliki otoritas untuk penerbitan iklan. Tulisan panjenengan ada benarnya, tapi kalau boleh usul coba dikonfirmasikan ke yang bersangkutan. Jika tidak ada klarifikasi yang imbang, bisa jadi fitnah lho khususnya tentang obsesi yang di”kamuskan” menjadi gangguan jiwa.

    Tapi saya setuju bahwa melayani adalah tugas polisi.

    nuwun

    1. Blontank Poer

      @Rofik: saya tidak dalam kapasitas mengklarifikasi. ini bukan kerja jurnalistik, melainkan semacam menyampaikan uneg-uneg semata. kalau dianggap fitnah, ya biarin saja. toh aku pakai acuan kamus yang dibuat para ahli bahasa.

      kalau marah, ya biar marah sama pembuat kamusnya. monggo saja kalau saya mau ditilang. saya bertanggung jawab atas tulisan-tulisan saya, kok…

  3. Pery

    Sudah dipasang selama bertahun-tahun, Polisi sendiri tidak pernah kritis dan sadar dengan pesan pada iklan-iklan tersebut. Kemenangan iklan ini setidaknya, penjualan produk rokok star Mild meningkat, publik konsumen terbuai oleh pilihan polisi sebagai ikon dalam iklan ini. Para perokok star mild mungkin akan berkata ; Lihat!, rokok yang kami hisap ini menyemangati polisi untuk melayani masyarakat, jadi Star Maild pantas dibeli dan dirokok. Atas nama konsep CSR institusi Polisi rupanya sudah ditipu oleh perusahaan rokok star mild selama bertahun-tahun sepanjangan Jogja-Magelang. Ini bukan saja observasi yang tajam, tetapi refleksi yang dalam untuk perbaikan institusi Polisi Indonesia. Ya ampunnnn…

Leave a Reply