Hampir Gagal Visa Amerika

lungid-visa_6312Urusan mencari visa untuk bisa menginjakkan kaki di Amerika adalah urusan njlimet, verifikasi yang ekstrahati-hati, bahkan dengan semangat prasangka berlebihan. Apalagi di Kedutaan Amerika di Jakarta, yang dari arah Stasiun Gambir bisa kita saksikan sehari-hari seperti zona perang: kawat berduri, panser dan polisi Indonesia bersenjatakan senapan serbu.

Indonesia bagi Amerika adalah salah satu sarang teroris dunia, musuh utama Amerika sejak Bush berkuasa dan merasa tak punya musuh lagi setelah isu komunis dianggap usang. Apalagi, secara (mungkin) kebetulan, Amerika dan Indonesia telah ‘dipersatukan’ oleh kehadiran musuh yang sama: teroris beraroma Islam. Runtuhnya menara kembar WTC dan lelehan besi beton tempat hiburan di Legian adalah potret betapa sekelompok teroris Islam adalah musuh bersama.

Dan, ruwetnya birokrasi pengurusan visa adalah imbas. Amerika harus hati-hati, jangan sampai kemasukan orang Indonesia, apalagi berdalih kunjungan wisata. Mencegah lebih baik daripada mengobati, walau upaya pencegahan itu dilakukan dengan ketakutan dan prasangka teramat sangat. Dan itu pula yang mengilhami Goenawan Mohamad menulis Visa, sebuah naskah drama, yang berpijak pada perubahan sikap staf kedutaan Amerika terhadap calon tamu negaranya.

Maka yang terbayang di benak saya seusai membaca Visa, adalah ruang antrian yang bersih, teratur, dan suasana hening menegangkan. Hal yang sekurang-kurangnya bisa dibaca dari luar tembok pembatas kompleks: antrian panjang, di bawah sengatan sinar mentari, diawasi petugas pengamanan khusus yang disewa kedutaan serta polisi Indonesia bersenjata laras panjang!

***

Namun, bayangan tetaplah bayangan dan harapan akan kebenaran atas suasana serba tegang dan menyeramkan di Kedutaan Amerika, lenyap begitu menyaksikan pementasan Visa oleh Teater Lungid di Taman Budaya Surakarta, 21 Juni, malam. Bangku panjang untuk antri pemohon visa, mestinya jenis statis. Karenanya, sangat mengganggu ketika para aktor memindah kursi-kursi murahan (dan bertolak belakang dengan citra Amerika yang kaya dan moderen) seenaknya, demi blocking yang tampak semaunya.

lungid-visa_6597Ruang tunggu menjadi gaduh oleh dialog antar-pengantri visa, yang keseluruhannya tampak mencitrakan sebagai kelas pekerja rendahan, buruh murah yang diidentikkan dengan TKI. Ya, Tenaga Kerja Indonesia! Padahal, di sana ada pengusaha berdarah Cina dan memiliki stereotip kaya. Juga ibu-ibu yang ingin berkunjung sekadar ingin menengok cucu setelah empat tahun tak bertemu.

Calon pengunjung Amerika, umumnya berbeda dengan calon pendatang ke Malaysia. Kalau tak untuk bekerja, urusan bisnis atau misi kesenian, pakansi, ya itu tadi: menengok cucu atau sanak-kerabat. Berbeda dengan rata-rata orang Indonesia yang datang ke Malaysia dengan kepentingan nyaris seragam: berharap hujan emas lantaran tak sanggup menghadapi hujan batu di negeri sendiri.

Dalam satu hal, eksplorasi Lungid cukup berhasil, terutama saat menghadirkan monitor besar sebagai pengganti desk staf verifikasi kelengkapan data formulir yang sudah harus diisi sebelumnya oleh para pemohon visa. Tapi sayangnya, ya baru pada sisi itulah tampak kepiawaian Djarot BD sebagai sutradaranya. Dialog pun masih tampak kedodoran, apalagi menilik pada salah satu aktor utama, yang mendominasi suasana, namun dengan intonasi yang selalu keras, dan monoton.

Catatan lain yang menurut saya perlu dilekatkan pada penggarapan Visa, adalah adaptasi naskah dari bahasa Indonesia ke Jawa. Dialog dan sejumlah persoalan yang ingin disampaikan Goenawan Mohamad seperti kehilangan ruh, kurang menyentuh. Bisa jadi, banyaknya pernyataan-pernyataan filosofis dan yang berasosiasi dengan problem-problem kotemporer menyangkut hubungan Barat-Timur terlalu di awang-awang bagi Trisno Santosa sebagai penerjemah dan Djarot yang mengadaptasinya kemudian.

Boleh jadi juga, oleh sebab ketelanjuran persepsi saya terhadap aktor/aktris Lungid, yang tak lain dan tak bukan adalah penerus spirit Teater Gapit, yang lebih akrab dengan problem-problem sosial kaum kelas bawah, kaum urban yang terdesak oleh modernitas. Dan baru kali ini, mereka bertemu dengan naskah yang mewakili dunia kelas atas, yang selama ini telanjur dilawan karena menjadi momor, terutama lewat kerja kreatif mereka memanggungkan naskah-naskah Bambang Widoyo SP yang berpihak pada kaum kalah dan tertindas itu.

Rasanya, bedah naskah dan mencocokkannya dengan situasi yang sesungguhnya dengan kerumitan mengurus visa di Kedutaan Amerika bisa menjadi jalan tengah untuk lebih membumikan naskah Goenawan Mohamad. Apalagi cukup banyak seniman-seniman asal Solo yang beberapa saat terakhir pernah berhubungan dengan Kedutaan Amerika. Juga, orang yang terbiasa berurusan dengan mereka, baik sebelum dan sesudah sejumlah peristiwa yang memupuk paranoia bangsa dan penguasa Amerika. Prinsipnya, menempatkan riset dan observasi sebagai hal penting, apalagi untuk bentuk garapan realis.

Dua bulan masih cukup untuk membuat perubahan-perubahan, sebelum pementasan Visa yang sesungguhnya dilangsungkan di Salihara, di kompleks ‘kerajaan’ baru Goenawan Mohamad dan teman-teman dalam menggiatkan kegiatan-kegiatan kultural dan humaniora di Jakarta. Untuk pementasan kali ini, bolehlah kita terima (seperti yang mereka niatkan), sebagai ajang uji coba.

Semoga, masih ada perbaikan sehingga proses penggarapan yang telah berlangsung tiga bulan sebelumnya, tidak menguap sia-sia…..

One thought on “Hampir Gagal Visa Amerika

  1. danis

    aku pernah ke amrik 2 kali. yg pertama th 2005 keadaannya seperti mau menghadap raja, tapi yg kedua thn 2009 agak familier pelayanan kedubes mereka mungkin karena obama terpilih jadi presidennya.. entah kalau beda presiden nanti? itupun setelah dapat visa jika sampai di imigrasi bandara amrikpun, 2 kali aku harus berurusan dengan imigrasi setempat, sampai harus wira wiri ke ruangan interogasi untuk foto lagi-ngisi form lagi-ditanyai tetek bengek lagi…minimal 2 jam, ampun deh. semoga ke depan mereka lebih manusiawi.

Leave a Reply