Telkomsel Jangan (ikut) Menyesatkan

Bermula dari sebuah pesan spamming di nomor Telkomsel saya dengan pengirim Mocoplus pada Rabu, 4 Maret 2009 pukul 15.57 (Foto 1). Bagi yang tak paham, pesan demikian pastilah menggiurkan. Iming-iming pulsa membuat orang mudah tergoda. Apalagi, harga sekali kirim sms kini sudah murah.

TELKOMSEL_sms_1

Saya coba kirim sms ke sesama Simpati- Telkomsel, pulsa hanya terpotong Rp 100 (untuk maksimal 160 karakter). Sedang ke operator lain ( XL), pulsa berkurang Rp 150 untuk jumlah karakter yang sama. Setidaknya, itulah fakta empiris yang saya peroleh ketika mencoba menguji janji manis Mocoplus, sekitar pukul 20-an.

Saya pun mendaftar dengan mengetikkan REG GPC lalu saya kirim ke nomor 9910, sesuai perintah. Tak lama, dua sms datang berurutan. Yang pertama begitu menggoda, berupa sebuah kalimat berita (Foto 2), yang rupanya sebuah pancingan usang. Sms kedua berisi pertanyaan. Semacam kuis yang jawabannya bisa dilihat pada sms sebelumnya (Foto 3).

TELKOMSEL_sms_2

Saya coba ikuti terus alur permainannya, sebab saya sudah menaruh curiga dan dendam lama terhadap sms spam model demikian. Hak publik sering dikelabuhi dengan iming-iming yang seolah-olah menggiurkan, sementara logika bisnis tak pernah kenal istilah merugi. Perusahaan-perusahaan content provider/CP menjamur, sementara regulator terkesan tutup mata terhadap ulah CP.

Foto 5 mengejutkan saya. Sebab mestinya, pemberitahuan itu muncul pada awal-awal. Setidaknya, sebelum pesan seperti terlihat pada Foto 2 dan Foto 3 muncul ke handphone saya. Oh, iya, sebelum terlupa, saya sudah mencatat nilai pulsa saya sebelum gunakan untuk registrasi. Posisi awalnya Rp 44.895,5 dan berubah menjadi Rp 40.695,5. Jadi, menurut kalkulator di Alcatel jadul saya, pulsa berkurang sebesar Rp 4.200.

Well. Kalau dihitung, hingga tercatat sebagai peserta ke-69, berarti si CP ‘hanya’ memperoleh Rp 289.800. Kalau 40 peserta awal memperoleh pulsa masing-masing Rp 50 ribu, berarti CP harus mengeluarkan voucher pulsa senilai Rp 2.000.000. Anda yakin, CP berani nombok, kan?

TELKOMSEL_sms_5Kalau Anda menjawab YA, mungkin Anda berasumsi sayalah orang terakhir yang mengirim sms registrasi. Padahal, untuk mencapai ‘titik impas’ dalam pengertian CP bisa menutup pengeluaran voucher, dia hanya butuh 476,19 pendaftar! Asumsikan bila pesan serupa di-broadcast ke 10 persen dari total pengguna Simpati (yang sudah mencapai 45 juta seperti rilis Telkomsel pada 2 Pebruari 2009), lalu satu persen (45 ribu) penerima sms spam itu mendaftar.

TELKOMSEL_sms_6Saya ikuti lagi permainannya. Pada Foto 6 atau sms yang kesekian, baru ada pemberitahuan bahwa saya sudah terdaftar sebagai peserta permainan. Di situ juga baru diberitahukan, bahwa setiap kali menjawab, terkena biaya Rp 1.000 yang dipotong langsung dari nilai pulsa yang tersisa.

Aneh bin ajaib. Sejak saya menjawab pertanyaan pertama (Foto 3) hingga pemberitahuan benar/salahnya jawaban saya, baru diberitahukan 10 menit kemudian, setelah dua pemberitahuan ‘penting’ mengenai biaya dan sebagainya itu Foto 7. Anda bisa menebak arahnya. Kalau kita menjawab/mengikuti kuis lagi, maka pulsa akan kembali terpotong Rp 1.000.

TELKOMSEL_sms_7Tapi, saya putuskan untuk mengakhiri permainan. Pengujian dan pembuktian rasa penasaran itu saya anggap cukup. Saya lalu mengetikkan UNREG GP dan mengirimkannya ke 9910.

Ah, rupanya, untuk menyudahi permainan pun saya harus membayar Rp 350, yang lantas dijawab oleh mesin seperti terlihat pada Foto 8.

Melalui posting ini, saya mengajak semua orang untuk berhati-hati menyikapi sms spam model demikian. Kita dimanjakan oleh iming-iming, padahal diporotin pelan-pelan. Seolah-olah asyik, padahal gak ada asyiknya sama sekali.

TELKOMSEL_sms_8Kepada perusahan-perusahaan content provider, sebaiknya Anda jangan mengelabuhi publik. Operator seluler, dalam kasus saya ini adalah Telkomsel, mestinya juga jangan asal mudah membuat kontrak kerja sama. Saya tahu, orang berbisnis itu dalam rangka mencari keuntungan, tapi menyembunyikan informasi yang berpotensi merugikan konsumen, mutlak harus dihindari. Hak konsumen mesti dihargai, sebab bisnis juga mengenal etika.

(YLKI, tidak cukupkah bukti untuk melakukan advokasi kepada konsumen telepon seluler?)

Content provider yang dalam kasus saya adalah Mocoplus saya anggap telah berbohong karena menyembunyikan informasi biaya registrasi, yang ternyata sebesar Rp 4.200. Dan, Telkomsel juga saya anggap terlibat dalam tindakan Mocoplus yang merugikan konsumen, karena turut menyiarkan informasi spamming demikian.

Entah karena kelalaian atau tidak, yang pasti Telkomsel bisa saja saya sebut: turut bersama-sama melakukan…..

Anda masih tergiur iming-iming demikian????? Silakan berderma kalau kebodohan demikian bisa diyakini membawa Anda masuk surga!

Update:

TELKOMSEL_sms_9_fren

Sebagai pembanding, simaklah pesan yang dikirim melalui operator Fren, yang menyebutkan biaya sms registrasi sebesar Rp 2.000 (Foto 9). Dengan pemberitahuan demikian, seseorang jadi punya pilihan untuk mengambil keputusan: merespon penawaran atau menghapus pesan.

Catatan:
Bila Anda merasa dirugikan dengan peristiwa-peristiwa serupa, Anda bisa mengirimkan pengaduan ke BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia), bisa melalui SMS ke 0815-893-0000 atau melalui email ke pengaduan@brti.or.id

5 thoughts on “Telkomsel Jangan (ikut) Menyesatkan

  1. Yang ginian setahu saya bukan SMS Spam pakde, tapi masuk ke SMS Premium. Masih mending njenengan terima dalam bentuk SMS, yang parah yang model pop-up, susah di capture/printscreen. Yang kaya begini yang bikin emosi, CP & Operator ngeles, malah menyalahkan pelanggan. Hal2 yang seperti ini juga yang mendasari keputusan saya resign dari sebuah provider.

  2. Saya mampir Pak de, kemarin ketemu pas di Sun City,hehehe
    Itu kalo kita yang ikut pakde lah di desa-desa sana banyak orang2 awam yang kena jebakan betmen seperti ini, makannya Provider dan Content Provider kaya-kaya tapi dari hasil seperti ini, sungguh Ter…La…Luuu
    Matur suwun Pakde
    .-= Massol´s last blog ..Edit Foto Online dengan Picnik =-.

Leave a Reply