Happy Valentine, Dhe

Sepotong roti untuk berdua

Sepotong roti untuk berdua

Sepulang Jum’atan, saya mampir di warung tempat teman-teman biasa nongkrong. Belum sempat duduk, seorang teman mengajak motret perayaan Hari Kasih Sayang di sebuah supermarket. Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah unjuk rasa menentang perayaan Valentine’s Day juga terjadi di Solo, Jumat siang itu.

Saya memilih yang pertama. Menyaksikan, apalagi meliput ajakan kedua, tak menarik bagi saya. Mereka punya sikap, demikian pula saya.

Diselenggarakan oleh sebuah komunitas gereja, perayaan itu cukup unik. Pesertanya orang-orang lanjut usia, bahkan ada yang untuk berjalan pun harus ditopang tongkat, juga kotak penyangga. Kehangatan dan kasih sayang mereka terpancar. Sebagian bahkan menangis ketika pasangannya menyatakan cinta kasih (dan suka duka hidup) mereka dengan pengeras suara, dan di depan banyak orang.

Sepanjang perjalanan, saya membayangkan ungkapan kasih sayang seperti apa yang nantinya akan saya saksikan. Sekadar peluk cium, atau malah ada yang bergaya ala teenagers nan metropolis: lips kissing.

Sabar menuntun sang istri

Sabar menuntun sang istri

Macam-macam rupanya. Ada perempuan yang menunjukkan kasih sayangnya dengan cara mengelap wajah pasangan dengan sapu tangan. Ada yang menuntun istrinya, jalan pelan-pelan karena nenek renta sudah tak sanggup tegak menapak red carpet, arena utama kontes pengungkapan kasih sayang.

Saya tersenyum geli, kadang tergelak menyaksikan sebagian ulah para manula yang tampil sambil bercanda. Tapi juga iri, sebab saya merasa bukanlah seorang lelaki yang romantis. Mungkin ini kelemahan seorang yang baru menapaki jalan baru, meninggalkan gaya hidup bohemian yang lama saya jalani.

Kalaupun saya tak merayakan Valentine’s Day, itu lebih karena hati kecil belum bisa menerima. Nalar juga menggiring saya pada kesadaran, bahwa kasih sayang yang berbeda, yang penuh kejutan, tak perlu dibuktikan dengan perayaan sekali dalam setahun itu. Bukan lantaran agama, bukan pula oleh sebab sentimen budaya.

Jujur, saya tak suka dengan gerakan menentang perayaan Valentine’s Day. Karena itu, saya juga akan ikut menentang, bila ada kelompok yang memaksakan kehendak, lalu melibatkan instrumen negara untuk turut campur pada wilayah privat dengan cara membuat kebijakan pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang.

Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Begitu Allah memerintahkan umatNYA agar menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan dan keragaman. Karena Islam, maka saya percaya dan menjalankan sepenuhnya. Islam juga menyuruh agar manusia saling mengasihi dan menyayangi, terhadap sesama, juga yang berbeda. Terhadap alam saja disuruh Tuhan untuk merawat, apalagi sesama manusia?!? Begitulah keyakinan saya.

Ciuman pascamenopause

Ciuman pascamenopause

Dari Valentine’s Day, justru saya menemukan kaca. Cermin untuk melihat diri saya, yang ternyata bukanlah orang yang romantis. Menyatakan kasih sayang kepada istri pun, saya masih sering kedodoran. Hehehe…..

Happy Valentine, pakDHE……….

4 thoughts on “Happy Valentine, Dhe

  1. Saya juga tidak suka menentang mereka yang merayakan, saya menghormati mereka. Dan untuk apa harus berdemo juga ya dhe..:D
    fotonya so sweet banget pakdhe…

    daripada demo, mendingan lakukan hal-hal kreatif dan manfaat bagi diri sendiri dan sebanyak mungkin orang ya, kang?
    /blt/

  2. aduuhhhh… marai nggregel… udah puluhan tahun hidup bareng, kadang malah nrimo aja pasangannya kek gimana, masih terpikir utk menyatakan sayang?
    hiks…. mengharukan pakdhe…

Leave a Reply