Iklan Jitu, Peringatan bagi Si Dungu

Meski bukan muslim yang saleh, saya paling risih dengan bunyi dering telepon saat shalat berjamaah di masjid. Apalagi, pada momentum Jum’atan alias shalat Jum’at. Soal ketidakpedulian seseorang mengaktifkan nada panggil telepon genggam, saya sudah sangat sering menjumpai.

Sama dengan abai dan dungunya orang-orang yang membiarkan bunyi nada panggil teleponnya terdengar banyak orang di tengah-tengah pertunjukan tari, musik atau drama di gedung-gedung kesenian. Orang dungu, memang tak sanggup mengenal ruang dan waktu, apalagi soal harmoni sosial!

Muslim elementary level semacam saya saja tahu, bagaimana saya tak menyebut orang-orang demikian sebagau dungu nan tolol?!? Memang, Al Qur’an tidak melarang orang berlaku demikian. Lahirnya ayat-ayat Allah yang terlampau jauh dengan perkembangan teknologi kini tak bisa dijadikan alasan berkilah alias ngeles. Kalau bercakap-cakap saat khatib berkotbah saja dilarang, tentu kita harus pandai-pandai mengembangkan tafsir.

Datang ke masjid demi niat menunjukkan cinta dan patuhnya pada perintah Tuhan, bisa berbuah fatal, apalagi bagi orang-orang dengan tataran keimanan yang serba pas pada ambang batas. Sering, jujur saja, saya jadi marah dengan keadaan demikian. Malah, kebiasaan buruk yang mengumpat sering terpicu, meski kemudian saya mengucap syukur. Sebab, jebul saya masih muslim yang tahu adab dan semisaleh.

Banyak pemilik telepon seluler tak paham, ulah mereka membuat banyak tembok masjid jadi kotor tak karuan sebab takmir masjid terpaksa memasang pengumuman (yang kadang) asal-asalan hingga merusak keindahan. Malah, sepekan silam, saya menjumpai seseorang lelaki berusia 30-an meninggalkan tempat duduknya saat kotbah berlangsung demi menjawab panggilan. Lucu, tapi begitulah adanya.

Kualitas iman boleh pas-pasan, asal mengupayakan peningkatan meski hanya sebatas kemampuan. Tanpa ajaran agama pun, sepanjang masih waras, mestinya seseorang berupaya bertindak, berperilaku dan menciptakan perubahan yang lebih baik keesokan hari dan seterusnya.

Menilik tipografi yang sama persis dengan yang dipatenkan, saya yakin papan ini dibuat dengan perencanaan matang dan melibatkan tim kreatif profesional dan jempolan

Tapi, yang namanya manusia memang banyak warna. Anda tak banyak perilaku dungu ditunjukkan di banyak tempat dan kesempatan, saya yakin Telkomsel tidak perlu melihatnya sebagai peluang untuk beriklan secara murah tapi mengena (eh, yang begituan itu bikinan Telkomsel sendiri atau produk Ad Agency-nya, ya?). Entahlah.

Yang pasti, kehadiran peringatan a-la Telkomsel seperti yang saya lihat di Masjid Al Khoir, Timuran, Solo seperti itu cukup menarik. Sambil mengingatkan perlunya menjaga kekhusyukan ibadah (karenanya bakal beroleh pahala karena amal jariyah-nya), Telkomsel bisa beriklan secara murah sekaligus. Murah, sebab Telkomsel tak perlu membayar pajak reklame. Soal menyumbang uang kebersihan atau tidaknya terhadap masjid yang dipasangi iklannya, hanya Allah yang tahu.

Yang mengganjal di batin saya hanya satu. Copywriting yang berbunyi: Apalagi bagi pengguna kartuHALO & Simpati yang sinyalnya ada di mana-mana, menurut saya mengandung unsur kesombongan, riya’ sebab ada kesan merendahkan operator lain yang sinyalnya byar-pet (meski harus diakui, coverage operator yang satu ini memang terluas dengan pelanggan terbesar di Indonesia).

Kalau sombong saja dilarang oleh Islam, bagaimana menyusun teks yang baik supaya tidak dimurkai Allah, ya?

(Maaf, relijiusitas saya sedang kambuh)

Leave a Reply