Pasar Yaik

Kota Surakarta kembali menghidupkan pasar malamnya. Namanya Night Market. Lokasinya di Jl. Diponegoro, tepatnya jalan menuju Pura Mangkunegaran dari arah Pasar Pon. Dulu, pasar yang dijejali pedagang kakilima yang menjual aneka macam barang terkenal dengan sebutan Pasar Yaik.

Pasar Yaik

Disebut Pasar Yaik, konon karena kata ya…ikk…! terucap dari mulut penjual sebagai pertanda terjadi kesepakatan, deal harga dengan pembeli, setelah diwarnai tawar-menawar yang sengit, namun penuh keakraban. Konon, Pasar Yaik ramai pada kurun 1970-1980-an sebelum bubar, entah oleh sebab apa.

Pasar Yaik wajah baru sudah mulai diuji coba sejak Selasa (10/2) malam, meski baru akan diremikan pada 16 Pebruari malam, menjelang peringatan ulang tahun Kota Surakarta keesokan harinya. Oleh karena pasar malam, maka pasar yang nantinya khusus untuk penjaja cinderamata dan makanan kering hanya dibuka pada malam hari saja. Sejak pukul 17.00 hingga pagi hari, jalan ditutup untuk berbagai kendaraan sebab dikhususkan bagi pejalan kaki.

Dengan adanya Pasar Yaik, saya senang dan tak lagi bingung setiap ada teman datang bertandang lalu bertanya dimana mereka bisa memperoleh cinderamata khas Sala, sebagai buah tangan, sarana untuk mengenang bahwa mereka pernah menginjakkan kaki di ibukota bekas kerajaan Mataram itu.

Pasar Triwindu Baru

Dulu, saya selalu bingung menjawabnya setiap ada yang menanyakan demikian. Menyarankan ke sisi timur alun-alun utara, barang yang tersedia tak terlalu fleksibel gunanya. Keris, topeng dan semacamnya, memang banyak terdapat di sana. Cocok untuk menghias ruangan. Tapi kalau yang dicari adalah barang-barang yang bisa dibawa kemana-mana semisal kalung, gantungan kunci atau dompet?!?

Syukurlah, Pasar Yaik sudah kembali hadir. Sebutan sebagai kota yang tak pernah tidur kian menemukan bentuknya kembali. Wedangan memang hampir selalu ada di setiap gang-gang di tengah perkampungan atau sepanjang jalan-jalan utama. Tapi, itu bukan tempat yang cocok untuk jalan-jalan memanjakan mata dan nafsu belanja.

Bisa jadi, Pasar Triwindu (yang kini berganti nama menjadi Pasar Windujenar) akan ikut-ikutan bukan hingga malam hari bila, kelak, Pasar Yaik sukses meneguhkan citra Surakarta sebagai kota wisata. Barang-barang antik yang dijual di sana, akan menggenapi minat para turis kategori wisata belanja.

Memang, ada sebagian orang yang mencibir bahwa Pasar Yaik tak melulu dijual barang-barang asli buatan Sala. Namun, bagi saya, tak ada salahnya membiarkan Pasar Yaik berjalan secara alamiah, mengikuti hukum penawaran dan permintaan. Kian beragam yang dijajakan, makin banyak pula alternatif pilihan belanjaan.

Pasar Windujenar

Siapa tahu, Surakarta, Sala atau yang lebih populer dengan sebutan Solo, menjadi outlet aneka produk kerajinan se-Jawa Tengah. Ada tenun Troso, lurik Pedan, atau batik Slawi dan Kebumen. Seperti Singapura, yang tak punya produk asli, namun aneka jenis produk global tersedia di sana. Daripada pasar kita dipenuhi produk-produk murahan dari China, masih lebih bagus disesaki karya kreatif bangsa kita sendiri.

16 thoughts on “Pasar Yaik

  1. Ani

    Ada positif dan ngeatif dalam setiap pembangunan yang dilakukan. Apalagi jika keterlibatan masyarakatnya masih kurang. Konsep masa lalu yang ‘pernah’ indah dicoba untuk dibangkitkan lagi. Meski sebenarnya sudah ada perubahan sosial dan budaya di sekitarnya. Bagaimana kejayaan masa lalu itu akan kembali jika tidak mampu menjawab kebutuhan jaman?

  2. irf

    pertamax …
    hekekekekekeke … basi banget komentarnya …

    ayo, diagendakan, bolokurowo bengawan.org hunting bareng nang pasar yaik ….

    saya tunggu informasi lanjutannya …..

Leave a Reply