Sebuah Kitab tentang Solo

Sebuah buku yang bertutur relatif detil tentang Surakarta, Sala atau yang populer dengan sebutan Solo. Cocok dijadikan bacaan untuk orang dari luar Sala, meski sejatinya juga menarik untuk dijadikan bacaan penting bagi anak-anak muda, remaja, khususnya di Surakarta, yang sudah banyak yang lupa sejarah nenek moyangnya. Sayang, buku yang diterbitkan oleh Badan Informasi dan Komunikasi Kota Surakarta ini tak beredar luas. Konon, baru dicetak seribu eksemplar.

Kitab Solo

Sebagai orang Klaten yang menetap di Surakarta sejak 22 tahun silam, saya merasa memperoleh pencerahan, sebuah pemahaman baru tentang Sala, Solo dan Surakarta dari buku yang dinamai Kitab Solo oleh penulisnya, Mas Sarwendo, eh… Arswendo Atmowiloto itu.

Meski lahir dan besar di Sala -bahkan di usia sepuhnya beroleh gelar Kangjeng Raden Tumenggung dari Kraton Surakarta, beliau sanggup berjarak, bisa menuangkan penilaiannya tentang kota Surakarta dengan sedemikian kontemplatif dan obyektif. Andai tulisannya itu ditampilkan di website, pastilah akan menjadi panduan menarik bagi banyak orang. Guidance untuk bisa lebih tahu banyak dan memahami kenapa kebudayaan Jawa bisa begitu lentur, adaptif dan fleksibel terhadap perubahan jaman.

Bahkan, ketika banyak orang (termasuk saya) tidak lagi memercayai eksistensi kraton sebagai sumber tuladha, panutan dalam bersikap dan bertingkah laku, Mas Sarwendo bisa sedemikian gamblang menyodorkan sejumlah fakta yang tak bisa dihindari oleh siapapun. Betapa tata nilai, aura Surakarta dan tetek bengek manifestasi sikap ke-Jawa-an seseorang, semua bermuara pada kearifan tradisional yang dicontohkan oleh Sultan Agung.

Kalaupun harus saya sebutkan ‘cacat’ pada buku itu, yang terutama adalah banyaknya salah ketik, juga ejaan yang menurut saya kurang taat pada pakem, kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan betul. Hampir setiap tiga-lima halaman terlampaui, rasa risih saya selalu muncul sebagai reaksi atas sebuah teks. Ada kesan, Mas Wendo terburu-buru menggarap naskahnya. Atau karena editornya yang tak bekerja dengan teliti, sehingga kekeliruan-keleliruan ‘kecil’ terus berulang sehingga menjadikan Kitab Solo memancing kesan dikerjakan secara serampangan.

Padahal, dari sisi content, buku ini layak dibaca dan dijadikan rujukan bagi orang-orang yang ingin tahu budaya Jawa (baca: Sala) secara -kata Basiyo- lebih mendalem. Para pemandu wisata pun wajib membaca buku ini, sehingga bisa menuntun pada pemahaman yang lebih mendalem tentang Surakarta dan obyek-obyeknya. Dengan referensinya yang kian banyak, maka telling story-nya bisa digunakan untuk ngglembuk, melakukan persuasi kepada pelancong agar lebih betah tinggal (dan belanja) di Sala.

Satu kekurangan lainnya, Mas Wendo terlalu serius dalam menyampaikan gagasannya melalui buku ini. Kurang nyantai dan kurang lepas dalam bertutur, walau saya bisa memahami beliau sudah berjuang keras untuk tebitnya buku itu.

Ah, mungkin saya saja yang sok-sokan dan berharap terlalu banyak pada Mas Wendo. Tapi teniiin, saya ora ngapusi, bahwa buku ini memang kurang enak dibaca, apalagi bila kita sudah khatam membaca Canthing atau Senopati Pamungkas. Kita seperti kehilangan ruh penulisan gaya Mas Wendo.

Saestu lho, Mas Wendo…..

Jujur, begitulah kesan saya setelah membaca berulang-ulang Kitab Solo. Kok bisa, ya?

13 thoughts on “Sebuah Kitab tentang Solo

  1. Mudiono

    Maturnuwun sampun dijawab. Saya dulu kerap juga di TBS terutama teater Arena. Ya, sempat baca puisi bersama almarhum Gojek Joko Santoso dan para wartawan Solo. Setahu saya, Panjenengan asyik dengan kamera, jepret sana-jepret sini. Tapi ndak juga tuh. Ketoke yo melu acarane Mas Gojek juga ya….

  2. yogis

    jadi buku ini seperti panduan wisata gitu ya . . dirilis secara terbatas . . andai aja ada yang mau me re-release dan mengemas kembali buku ini . . .

  3. Mudiono

    Piye kabare, Mas Blontang? Suwe ora ketemu. Biyen aku yo kerep neng TBS, ketemu Mas Leak, Mas Hanin, etc, sok-sok yo Panjenengan barang. Isih aktif neng TBS to Mas?

    kabar sae… aku kangelan ngeling-eling, je… apa biyen duwe paraban khusus? saka komunitas teater atau apa? let me know, dong….
    /blt/

  4. Ani

    Saya tidak berani komentar banyak. Selalu saja ketika di sebut Jawa, atau Sala, itu identik dengan ini itu. Bagaimana kondisi sekarang? apakah berarti masyarakat yang tinggal di Sala adalah bukan orang Sala?

  5. hehehe… kebetulan aku sempat dengar gagasan awalnya. aku cuma melihat produknya doang, gak mau ngait-ngaitkan kemana-mana karena aku percaya pada Mas Wendo dan yakin akan kredibilitas beliau.

    dugaanku, beliaunya sibuk dan ketika sampai pada tenggat, harus kerja serba cepat (sehingga banyak yang terlewat) :p

  6. sy baru baca canthing sebagian. nerdasar gosip yang sy dengar, “buku proyekan” ini memang kurang bagus. mas blontank membenarkan gosip itu rupanya. he2.

Leave a Reply