Festival di Pecinan

Sebuah arak-arakan berlangsung meriah, Minggu (18/1) sore. Rombongan berangkat dari Pasar Harjanagara –lebih terkenal dengan sebutan Pasar Gede, berkeliling melewati kampung Sudiroprajan, perempatan Warung Pelem dan berakhir di Pasar Gede. Ada warna-warni liong, samsi dan dua naga, juga rombongan berkostum panakawan.

Liong di Pasar Gede

Peristiwa yang baru pertama kali digelar itu dinamai Grebeg Sudiro. Dikemas dengan sajian multikultur, sebab peristiwa itu sejatinya merupakan peristiwa budaya, yang sengaja diciptakan untuk menambah event dalam kalender acara wisata Surakarta.

Asal tahu saja, Sudiro(prajan) dan Pasar Gede merupakan kawasan yang saling terkait. Kampung Sudiroprajan lebih dikenal sebagai kampung peranakan Cina sebab di situlah Pemerintah Belanda menempatkan mereka sebagai koloni. Tak jauh dari Pecinan, terdapat koloni Arab di Pasar Kliwon. Di antara dua koloni itu, Belanda dan peranakan Eropa membuat kampung ‘pembatas’ yang di kemudian hari dikenal dengan nama loji Wetan.

Itu semua merupakan strategi kolonialis Belanda untuk memperkuat kedudukannya sebagai penguasa Jawa, bahkan di atas Kraton Surakarta. Strategi pecah belah dilakukan dengan memberi banyak priviles kepada keturunan Cina, bahkan kedudukan setingkat lebih tinggi dibanding keturunan Arab. Di komunitas Sudiroprajan diangkat centeng berpangkat mayor, sementara di Pasar Kliwon hanya berpangkat kapten. Padahal, fungsinya mereka sama: sebagai pengumpul pajak dan penanggung jawab keamanan di masing-masing komunitas.

grebeg_sudiro_7711.jpg

Kembali ke Grebeg Sudiro, festival itu mestinya bisa diperluas cakupannya, tidak sebatas kegiatan amal seperti pengobatan tusuk jarum gratis atau pembagian sembako dan sejenisnya. Kegiatan-kegiatan karitatif semacam itu justru akan membenarkan prasangka dan jebakan stereotiping, dimana keturunan Cina lebih mapan secara ekonomis dibanding mereka yang merasa lebih ‘pribumi’.

Padahal, di Sudiroprajan pula, sangat banyak saudara-saudara kita yang beretnis Cina juga hidup dalam situasi ekonomi serba pas-pasan. Mereka yang berhasil dan kaya, kebanyakan sudah menetap di luar Sudiroprajan.

Satu catatan pribadi saya atas Grebeg Sudiro adalah kurang beragamnya tampilan. Banyak jenis kesenian warisan nenek moyang kaum Tionghoa seperti wayang potehi, atau musik khas Tiongkok dan sebagainya di Surakarta. Sebab, kalau tak salah ingat, masih ada grup musik di Gandekan, dimana para musisinya juga masih hidup hingga kini.

Keragaman menjadi penting dikedepankan, supaya orang tak salah paham dan terjebak pada prasangka yang dilatari oleh ketidaktahuan mengenai kenyataan yang sesungguhnya, sehingga berujung pada pertentangan dan (apalagi) kebrutalan seperti dipertontonkan secara telanjang lewat Drama Dua Hari pada Mei 1998.

grebeg_sudiro_7749.jpg

Tak cuma terhadap pemerintah semata, lebih dari itu, kesadaran dari anggota komunitas keturunan Cina harus lebih ditumbuhkan. Banyak kegiatan amal dilakukan, termasuk partisipasi mereka dalam berbagai musibah, dari bencana tsuami di Aceh, gempa Klaten-Yogyakarta, banjir Surakarta, dan banyak lagi. Sudah banyak catatan keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Lebih dari itu, saya berharap festival-festival mendatang lebih diwarnai kegiatan-kegiatan yang lebih down to earth, dalam bentuk yang lebih praktis dan bersentuhan dengan masyarakat banyak yang eragam latar belakang kultur, sosial, ekonomi dan sikap politiknya.

Jujur, saya rindu dengan sikap ngemong, santun dan memberi aura kedamaian seperti yang ditunjukkan Haksu Tjie Tjay Ieng. Berbincang dengan rohaniwan setingkat dewan syuro dalam Konghucu seperti beliau, saya merasa ayem dan tenang menyongsong masa depan Indonesia. Nah, sifat-sifat seperti beliaulah, yang hingga kini masih saya harapkan tumbuh pada diri para penggerak festival atau Grebeg Sudiro.

Selamat merayakan Imlek saudara-saudaraku. Gong Xi Fat Chai…..

4 thoughts on “Festival di Pecinan

Leave a Reply