Menanti Teladan Pimpinan

Sala masa kini adalah Sala yang berubah. Banjir ‘ala kadarnya’ kerap menyambangi Jl. Slamet Riyadi di sekitar Sriwedari atau sebelah utara Stadion Manahan. Seolah melengkapi ritual banjir alias terlalu rutin seperti yang mendera kampung Beton dan Joyotakan, nun di tepian Bengawan Solo.

Januari, yang sering diplesetkan menjadi istilah hujan sehari-hari, merupakan masa kritis dimana bah biasa bertandang. Bila sudah demikian, maka pemerintahlah yang menjadi sasaran sumpah serapah. Banyak yang lupa, banjir yang melanda sebagian wilayah Kota Surakarta hingga menyebabkan puluhan ribu warganya mengungsi, setahun silam, bukan semata-mata kesalahan orang Surakarta semata. Entah itu karena warganya yang ogah merawat alam dengan menanam pepohonan atau hati-hati membuang sampah, atau pemerintahnya sebagai penanggung jawab tata kota.

Terendamnya Surakarta tempo hari merupakan akibat air waduk Gajah Mungkur yang tumpah sebab terbatasnya wadah. Pendangkalan menjadi penyebab menyusutnya kemampuan waduk menyimpan air. Ujung-ujungnya, ulah manusia di sekitar waduk menjadi penting diwaspadai. Kampanye menghijaukan pekarangan, ladang dan perbukitan mesti digencarkan sembari dibarengi aksi massif untuk memberi teladan.

Bahwa pengerukan waduk harus segera dilakukan, semua mafhum. Termasuk andai ada yang berkilah, pengerukan menjadi tersendat akibat minimnya dana negara. Tapi ya itu tadi, pemerintah mesti rajin turun ke lapangan untuk memperoleh peta yang sesungguhnya, dimana daerah yang benar-benar paling dominan memberi kontribusi penyusutan kualitas lingkungan. Jangan lagi menggunakan metode usang, menyusun rencana kegiatan dengan mendasarkan semata-mata pada perkiraan atau estimasi. Apalagi, kalau kegiatan semacam itu diorientasikan sebagai proyek. Akibatnya bisa gawat.

Kita berharap, pertemuan para kepala daerah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo dengan otoritas penjaga kali (Proyek Bengawan Solo dan Perum Jasa Tirta), menyusul tragedi banjir Surakarta setahun silam tak berhenti di meja perundingan.

Kini, saat frekwensi hujan terus meningkat baik dalam jumlah maupun durasi, kita belum melihat tanda-tanda adanya tindak lanjut pertemuan itu. Kampanye penyelamatan lingkungan baru sebatas retorika, yang barangkali terpaksa dilakukan karena berpapasan dengan wartawan secara kebetulan.

Pemerintah tak bisa menyelesaikannya sendirian. Masyarakat sudah dewasa untuk diajak bersama-sama mencegah kerusakan. Tak cuma pemerintah dan warga Wonogiri,  warga Klaten yang Kali Dengkeng-nya juga menyumbang volume air bengawan harus pula dilibatkan. Begitu seterusnya, termasuk Sukoharjo, Surakarta, Karanganyar dan Sragen. Kasihan kalau masih terus ada  warga yang kesusahan lantaran banjir yang pantas disebut musiman.

Lebih kasihan lagi ratusan ribu warga Bojonegoro, dimana menjadi ujung Bengawan Solo sebelum bertemu Laut Jawa.  Bisa diibaratkan, 10 bulan mereka mengumpulkan nafkah dan harta benda, namun ludes disapu air luapan Bengawan Solo. Praktis, dua bulan sisanya menjadi masa-masa yang mengenaskan. Sekeras apapun teriakan mereka, ettap saja tergantung dari apa yang terjadi di kawasan eks-Karesidenan Surakarta.

Mari kita sudahi berandai-andai. Mari kita galakkan perbaikan lingkungan demi masa depan yang indah, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Dan, sebelum lupa, jangan sekali-kali melupakan persiapan penanganan bencana dan korbannya. Untuk itu, pemerintahlah yang -sekali lagi- harus tampil tegak di depan. Memberi teladan…..

One thought on “Menanti Teladan Pimpinan

Leave a Reply