Iklan di Republik Munyuk

Keluarga munyuk sedang beruntung. Operator seluler XL menggunakan jenis satwa itu sebagai modelnya, bahkan menggusur Luna Maya. Tak mau kalah, AXIS pun melibatkan seekor munyuk lola, tanpa sanak-saudara demi mengejar pengakuan publik akan kedermawanan operator asal Timur Tengah itu, apalagi kalau buka dalam kontes pulsa murah. Baik, ya?

Munyuk pun manggut-manggut, mengamini pernyataan manusia yang mengapitnya. (Maaf ya, Nyuk, saya tak menyebutmu Si Pongo Pygmaeus atau siapa. Bagi saya, sebutan munyuk lebih egaliter untuk semua keluarga besarmu).

Kita tahu, munyuk tak bisa berpikir seperti manusia. Mereka tak beruntung sebab Tuhan tidak memberikan karunia-Nya berupa daya nalar. Meski demikian, mereka masih memiliki budi baik. Seperti dalam iklan dua operator itu, keluarga munyuk menuruti semua kemauan, bukan saja sutradara iklan, tapi juga sang pemberi order, yakni operator seluler itu.

Anehnya, sebagian dari kita, sepertinya justru lebih mudah diyakinkan oleh makhluk yang derajadnya di bawah manusia. Sepuluh tahun sebagai pengguna nomor 0817040xxxx keluaran XL, saya merasakan betul dampaknya. Panggilan keluar sering nyambung , tapi lawan bicara tak bisa menangkap suara saya. Sebaliknya, komplain lebih sering datang setelah terdengar nada sambung namun panggilan mereka tak kunjung saya terima. Padahal, tak ada tanda panggilan di layar handphone saya.

Baik, ya? Baik apanya, monyeeetttttttt!!! Kata seorang teman, sih, XL kebanjiran pelanggan baru dan –menurut bahasa bisnis, di luar ekspektasi sehingga base transceiver station/BTS tak sanggup menampung traffic yang mahapadat alias overload. Tak cuma pada lalu lintas percakapan, transfer data pun terganggu karenanya. Beberapa kali saya alami, akses internet program Xplor dengan BandLuxe yang berkemampuan hingga kecepatan 7,2 MBps pun terasa lelet.

Apa mau dikata, saya pasrah saja. Saya berpikir positip, mungkin Tuhan sedang melatih kesabaran saya. (Aneh juga, ya… Kenapa sikap tawakkal malah sering muncul lewat sentuhan kalbu dari operator seluler? Kenapa saat mengarungi kehidupan yang senyatanya, saya malah lupa pada Dia, padahal saya juga hafal beberapa syair Bimbo, termasuk Tuhan?)

Otak-atik gathuk pun lantas menjadi jalan pintas untuk lari dari kenyataan. Eskapis? Mungkin. Disebut klenik juga tak apa-apa, sebab kadang melintas di benak saya, jangan-jangan kehadiran munyuk-munyuk itu merupakan sasmita, semacam petunjuk atau tanda-tanda jaman, seperti yang pernah dinyatakan Rangawarsita sebagai jaman edan.

Memilih operator seluler bisa saja dianggap remeh. Tentu jika hal itu dibandingkan dengan aspirasi politik. Kita –ratusan juta manusia Indonesia, seperti sedang dihadapkan pada urusan gadai-menggadai, praktek mengagunkan masa depan.

Pemilu kian dekat, tak ada calon legislator yang bisa memikat, padahal sudah dikaruniai Tuhan akal sehat. Kemanapun kita pergi, di kanan-kiri banyak wajah-wajah asing yang nampang, minta dipilih dengan janji akan memperjuangkan aspirasi rakyat sebagai dalih.

Saya bingung. Tapi tawaran mereka, para politikus (yang masih karbitan atau sudah bangkotan) itu kadang memancing sikap congkak yang pinginnya saya sembunyikan dalam-dalam agar tak ketahuan. Desain dan isi pesan pada poster/spanduk/stiker mereka membuat saya muak. Jaka Sembung main gasing, gak nyambung, Cing!

Sudah begitu, mereka suka menganiaya lingkungan. Pepohonan, nyaris berubah menjadi milik partai atau calon legislator. Rambu-rambu lalu lintas pun tak luput dari atribut kampanye. Bayar pajak? So, pasti mereka tidak mau dengan dalih tak mampu.

Coba kita renungkan baik-baik, pantaskah mereka, politisi yang tak punya etika, tata krama dan kemampuan komunikasi itu kita pilih? Kalau berbicara saja tak mampu, masih percayakah kita akan kemampuan debat mereka dalam sidang-sidang di parlemen?

Kadang-kadang saya berpikir naif, tapi masuk akal meski terkesan sadis. Coba para calon legislator itu agak cerdas dan kreatif. Sedikiiiiiiiit saja….. Saya yakin mereka bisa menekan laju pertumbuhan kepadatan penduduk Indonesia.

Bagaimana bisa???

Mudah saja: kalau pesan dan desain-desain mereka menarik dan bersaing terpasang di setiap sisi jalan, dijamin akan menyita perhatian banyak orang. Dampaknya bisa diduga, angka kecelakaan akan meningkat drastis! Semoga para munyuk tak dieksploitasi orang sehingga tidak berjejalan di sepanjang jalan.

Eh, ntar nyoblos gambar munyuk aja, yuuu……kkkkkkkkkk!

Baik, ya?!?

One thought on “Iklan di Republik Munyuk

Leave a Reply