Blogger Peduli? Hati-hati!

Rasa peduli, sejatinya adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia. Tapi kerap kali orang tak kuasa menghadapi kerasnya lingkungan sosial-politik yang mengelilinginya. Atau, gagal berakselerasi dengan sistem nilai/budaya, sehingga memaksa kita tumpul hati, majal rasa. Sering kita dengar berseliweran gosip tentang pencatutan bantuan, manipulasi data korban untuk mengeruk keuntungan, dan banyak lagi.

Maaf. Jangan terkecoh dengan pengantar di atas. Secara pribadi, saya sangat mendukung gagasan Gerakan Blogger Peduli. Karena itu, melalui halaman ini, saya akan urun rembug, sekadar memberdayakan sisa akal-budi yang dipadu dengan keberadaan cangkem saya, yang hingga kini berstatus freelance, seenaknya sendiri!

Pertama, bencana sering datang tiba-tiba. Dalam kasus tsunami Aceh/Nias, kerusakan infrastruktur menjadi kendala distribusi bantuan, baik medis maupun bahan makanan dan pakaian. Pada gempa Klaten/Jogja, infrastruktur tak terlalu parah sehingga orang berbondong-bondong datang mengirim bantuan, terutama banyak bahan makanan dan pakaian. Akibatnya, kedua jenis bantuan itu menumpuk. Sebagian mubazir.

Saya ingat, sebagian korban gempa di Klaten sejak hari kedua hingga kelima justru pusing menghadapi tumpukan mie instan dan beragam pakaian. Rupanya, meski sedang ’sengsara’ mereka lebih senang dan terhibur ketika beberapa teman saya menyumbang bawang, cabe, minyak goreng, garam dan sayuran mentah. Itu cukup menghibur.

Saya pun menjadi paham, lidah mereka tak bisa dipaksa menerima menu yang sama selama beberapa hari. Ini soal kecil, tapi menarik untuk diperhatikan.

Kedua, jangan sekali-sekali menggelontor duit kepada para korban bencana. Bisa ribet dan memancing perselisihan di antara mereka sendiri. Kalau memiliki jaringan di lapangan, lebih baik wait and see. Melihat situasi lapangan baru memberikan bantuan. Tapi kalau kepepet, bolehlah disalurkan ke lembaga-lembaga semacam Palang Merah Indonesia atau pos-pos bantuan kemanusiaan. (Jujur, saya kurang percaya kalau bantuan diserahkan melalui pos-pos yang dikelola pegawai negara. Banyak bohong dan sunatannya).

Ketiga, dalam situasi lapangan yang pasti crowded, mendingan kita mengambil peran keliling lapangan lalu melaporkan dengan perangkat komunikasi yang kita miliki. Asal tahu saja, manajemen bencana kita masih sangat buruk. Polisi, tentara, aparatur negara suka ke lapangan, lalu membuat laporan sendiri-sendiri sesuai temuan mereka di lapangan. Data sering tumpang-tindih tak karuan.

Seandainya mereka berangkat dari satu titik (posko bersama?) lalu berpencar setelah berbagi tugas, ada harapan data mendekati valid, sehingga tak ada lagi cerita desa A memperoleh bantuan berlimpah, sedang desa B kekurangan atau ta tersentuh sama sekali.

Komunitas BloggerPeduli bisa mengambil peran (di luar nyumbang harta) lewat kemampuan, kecakapan dan kelebihan (teknologi) yang dimiliki.

Keempat, jangan sampai kita meniru kelompok-kelompok yang suka cari muka di tengah bencana. Sejauh pengalamanku nyambangi beberapa kasus bencana speerti tanah longsor Banjarnegara, Gunung Merapi, gempa Klaten/Jogja, longsor Tawangmangu, banjir di Solo dan sebagainya, PKS termasuk partai yang paling banyak memasang bendera dan atribut partai, disusul PDI Perjuangan, lalu partai-partai lain seperti Golkar, PAN, PKB dan banyak lagi.

Sejauh mata memandang, lokasi bencana menjadi zona promosi atau kampanye. Nah, peran blogger adalah mari beramai-ramai mengolok-olok partai apa saja yang lebih suka masang gambar daripada mengotori tangan untuk menangani korban. (Dengan begini, bisa juga memudahkan kita masuk surga, karena kita mengingatkan agar menyumbang itu ikhlas, tanpa pamrih. Kalau nyumbang pakai tangan kanan, tangan kiri gak boleh tahu).

Saya yakin, para politisi itu cuma lalai atau lupa-lupa ingat saja, bahwa beramal itu harus ikhlas, tanpa pamrih agar Tuhan melimpahkan pahala-Nya.

Hehehehe…………… Bingung saya mesti ngomong apa. Harap maklum, namanya juga cangkem freelance!

(Daripada diam, malah nanti disalahin PamanTyo. Lebih baik mengikuti saran beliau, daripada ngumpet)

Leave a Reply