SoloNet Kian Lelet

Kalau ada polling warung internet mana paling lelet di Solo, mungkin saya akan menempatkan SoloNet di Jl. Slamet Riyadi di urutan teratas. Anda bisa membayangkan, seberapa besar kecepatan aksesnya, bila 19 menit lebih, login di Facebook pun tak kesampaian. Ironisnya, warnet yang satu ini bukan tak punya modal untuk menaikkan bandwith, sebab inti usahanya memang jualan akses. SoloNet, bahkan merupakan satu pionir internet service provider di Solo.

Tapi, ya dasar pelit. Mungkin, begitulah itung-itungan bisnis kapitalis. Sudah lambat, bayarnya tetep sama: mahal!

Sepanjang yang bisa saya pahami, SoloNet seperti putri cantik yang tampak pemalu, meski sejatinya sombong. Merasa dicari banyak orang karena lokasinya strategis dan memang enak untuk nongkrong, tapi tetap saja jual mahal. Sang Putri merasa, masih banyak lelaki bakal datang meski ia o’on, gak nyambung kalau diajak ngobrol.

Sudah lama pelanggan protes soal kecepatan akses, alasannya tetap sama klisenya. Kadang dibilang akses internasionalnya ngadat, lain kali dijawab sedang banyak yang download atau streaming. Pokoknya, macam-macam kalimatnya, namun maknanya tetap sama. Kalau mau positive thinking, memang ada hikmahnya: bisa untuk latihan sabar.

Sejatinya, saya tak tega menulis demikian. Tapi, ya mau bagaimana lagi, wong kesabaran itu juga ada batasnya. Hitung-hitung, curhat terbuka ini sekaligus untuk mengingatkan pemiliknya, supaya bisa memperbaiki performa usaha jasanya, sehingga para petugas jaganya tidak menjadi sasaran uring-uringan pelanggan.

Asal tahu saja, SoloNet yang di Jl. Slamet Riyadi ini memang enak buat nongkrong. Ada warung makan dan mie ayam yang enak di dekatnya. Dan mulai petang hingga dinihari, ada angkringan penjaja sego-kucing yang selalu rela hati mengantar pesanan hingga bilik terdalam SoloNet.

Saya berkenalan dengan internet juga di SoloNet, tapi kantor pusatnya, Jl. Arifin, Kepatihan. Jauh sebelum ada warnet, bahkan ketika SoloNet masih ‘berjuang’ mencari user baru untuk akses secara dial up. Ketika itu -akhir 1990-an, pelanggan korporat masih membayar sangat mahal karena harus menyewa saluranleased line dari Telkom. Teknologi Wi-Fi belum semarak kini.

Memperoleh akses gratis kapanpun saya mau, sungguh menyenangkan. Sesekali, saya ikut ‘membayar’ kebaikan SoloNet dengan ikut mengisi -baik foto maupun tulisan, pada halaman SoloLama. Juga, turut mengisi buletin SoloNetter pada awal-awal penerbitannya.

Kedekatan itu pula yang sejatinya membuat saya masih setia nongkrong di SoloNet. Walaupun terus kecewa dengan lambatnya akses warnetnya, namun tetap saja saya kembali ke sana. Aneh. Bahkan, kadang saya merasa aneh dengan sikap saya itu. Dikecewakan, tapi tetap saja sayang.

Bagi yang belum telanjur sayang, ada baiknya Anda menimbang untuk datang. Meski tak ada salahnya, untuk mencoba sesekali, meski cuma sekadar ngecek, apakah yang saya sampaikan di atas sesuai faktanya.

Saya cuma bisa berharap, semoga ke depan bisa ada perbaikan. (Walau saya tak yakin bakal kesampaian)

2 thoughts on “SoloNet Kian Lelet

  1. Wah ini sih “Terlanjur cinta, walau harus selalu berderai air mata”. Heheheeee… 😀

    Mudah-mudahan SOLOnet-nya bisa menjawab ‘surat cinta’ dari kekasih lamanya ini dengan tidak lagi menjadi “o’on”. Eh tapi apa bisa ya, kan diajak ngomongnya suka gak nyambung ?. Ya sudahlah, kalau begitu kita berharap adanya hidayah saja. 🙂

Leave a Reply