Senyum Damai Sang Bulan

 Seumur-umur, baru sekali itu saya melihat bulan tersenyum begitu indahnya. Tulus, tak ada yang disembunyikan. Dengan posisi melintang, bentuk sabit sang bulan menyerupai bibir, yang indahnya tak ditemukan pada artis manapun yang film atau sinetronnya pernah saya tonton.

Dua bintang yang kebetulan bertengger di atasnya, menyerupai mata yang tak kalah indahnya. Kedua mata itu menyempurnakan senyum sang bulan, mengawali bulan Desember, yang saya harap membawa ceria. Kebetulan, ia menyapa tepat pada tanggal 1, sejak menjelang magrib hingga beberapa saat selepas waktu isya.

Saya yang ketika itu sedang uring-uringan, dibuat tak berdaya ketika istriku berteriak histeris. Menjelang kami pergi jalan-jalan, ia menunjuk kolaborasi bulan-bintang, seraya mengejekku: “Orang, kok tak pernah tersenyum. Lihat tuh, si bulan!”

***

Kita tahu, Desember lantas menjadi bulan aneh dalam enam tahun belakangan. Sejak peristiwa Bom Bali 2002 (menyusul tragedi gedung WTC di New York dua tahun sebelumnya), lembaga kepolisian dan intelijen, dari Jakarta hingga Washington tak pernah alpa mengingatkan betapa Natal dan Tahun Baru adalah saat-saat krusial. Para menteri luar negeri –terutama negara-negara barat, juga begitu kompak mengingatkan warganya yang ingin pelesiran, kalau perlu dalam bentuk travel warning.

Desember lantas berubah menjadi bulan suram bagi siapapun. Semua persoalan seperti ditarik pada situasi yang saling berhadapan, bahwa Islam dan Kristen adalah musuh. Usaha-usaha kerjasama antarbangsa dan antarmasyarakat yang selama ini sudah mengabaikan unsur-unsur primordialisme, seperti dipancing dengan stimulus berupa pesan singkat: ‘Awas Ada Islam!’

Siapa yang sejatinya berkepentingan dengan situasi ‘ketidakrukunan’? Saya, kok justru curiga kepada para pihak-pihak yang semestinya bertanggung jawab pada penciptaan rasa aman, baik dalam sebuah negara maupun antarbangsa. Intelijen, sebagai institusi pengumpul data kecenderungan keamanan, saya yakin telah bekerja profesional. Persoalannya, bila analisis intelijen dipublikasikan dengan kemasan pesan menyeramkan.

Aparat keamanan, mestinya tak perlu membawa publik ikut serta dalam wilayah kerja dan tanggung jawab mereka. Pajak dan kewajiban-kewajiban lain yang sudah ditunaikan oleh warga negara, sudah seharusnya ditukar dengan hasil kerja yang bermutu, yang menenteramkan oleh penyelenggara negera melalui para aparaturnya.

Tentu, kalau kita sepaham, bahwa ketidakamanan, instabilitas dan semacamnya tidak boleh dimanipulasi sebagai sebuah proyek. Kita tahu, instabilitas dan kekacauan sangat mudah melahirkan ‘pahlawan’ selain memberi peluang bisnis persenjataan, apapun bentunya.

Saya percaya, ketika tatanan sebuah bangsa sudah mapan dan warganya sejahtera, tak bakal ada peluang munculnya keributan. Protes, apapun bentuknya, biasa dikelola menjadi seolah-olah berdasar, sepanjang klop dengan alasan pembenar.

Saatnya kita tersenyum, menyongsong peradaban lebih damai dan adil. Sehingga, kombinasi bulan dan bintang bisa menghasilkan senyum tulus, damai dan penuh kasih. Jangan lagi bulan-bintang (yang kerap diasosasikan dengan Islam) menjadi momok bagi umat Kristiani, atau apapun latar belakang agama, kultur, ras dan semacamnya.

Biarkan umat Kristiani merayakan Natal dengan damai dan dalam kasih Tuhan, tanpa ditakut-takuti dengan ancaman si bulan dan si bintang.

One thought on “Senyum Damai Sang Bulan

Leave a Reply