Konferensi WHC: Kesuksesan yang Ternoda

Penyelenggaraan konferensi keempat anggota Organisasi Kota-kota Pusaka Dunia (Organization of World Heritage Cities) regional Euro-Asia di Surakarta bisa dibilang berhasil. Sukses. Lebih dari 500 orang penting berdatangan dari penjuru Eropa-Asia.

Tak hanya puluhan walikota dari 37 negara yang berkunjung, 93 walikota se-Indonesia pun turut meramaikan perhelatan, menyambut kunjungan para sahabat, delegasi dari 63 kota di Eropa dan Asia. Bahkan, sejumlah walikota Indonesia juga bersepakat membentuk Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang dideklarasikan Sabtu (25/10) malam.

Dari sisi target jangka pendek, Pemerintah Kota Surakarta sudah menuai sukses. Dari target hanya delegasi dari 31 negara, malah kelebihan enam. Hanya dua negara anggota OWHC Euro-Asia saja yang absen. Kehadiran mereka diharapkan membawa berkah dalam rentang waktu yang lebih panjang, yakni kunjungan warga dunia ke Surakarta akibat informasi betapa menariknya Surakarta sebagai daerah kunjungan wisata baru di Jawa, setelah Yogyakarta.

Penyambutan cukup meriah. Puluhan ribu warga kota berderet di sepanjang jalan utama, menyambut para walikota yang dikirab di tengah kota.Para delegasi tampak tersenyum puas.

Sebagai perantau yang hampir setiap hari menghirup nafas kehidupan Surakarta, banyak celah yang terasa kurang, bahkan menodai obsesi Walikota Joko Widodo dalam mempersiapkan Surakarta sebagai kota MICE, meeting, incentive travel, convention and exhibiton.

Dalam dunia jasa, faktor keramahan sudah menjadi keniscayaan. Namun soal adab atau tata krama, belum tentu sama pada setiap bangsa. Ada satu contoh, yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang, namun berpotensi menjadi persoalan besar di kemudian hari.

Pada banyak meja undangan terlihat sampah makanan berserakan. Gelas kosong tak disingkirkan, begitu pula daun pembungkus jajanan. Padahal, puluhan waiter dan waitress sudah disiapkan. Saya kuatir, faktor keterbatasan pengalaman melayani tamu menjadi penyebab. Mungkin, mereka tak bisa disalahkan sepenuhnya. Apalagi kalau pengusaha catering –yang memenangi tender pengadaan makanan, sejatinya tidak G.A.U.L. alias kuper. Bagaimana mungkin orang kuper bisa mengajarkan jenis pelayanan yang baik kepada para pelayannya?

Asal tahu saja, di Surakarta, banyak pengusaha catering mempekerjakan waiter dan waitress seadanya. Biasanya, para pemuda kampung yang tidak punya pekerjaan tetap. Dan, seperti kebiasaan yang kita jumpai dalam pesta-pesta pernikahan, piring dan gelas kotor sering menumpuk dan berserakan. Kadang di atas meja, atau di bawah meja-kursi tamu, yang baru dibersihkan ketika acara usai, tetamu sudah meninggalkan bangku.

Mungkin, sampah-sampah itu tak perlu ada di atas meja pesta para tamu, peserta konferensi WHC, bila panitia mengenali siapa tamu-tamu mereka, juga kesadaran untuk mempertaruhkan nama baik warga kota, juga pemerintahnya. Sekolah-sekolah pariwisata, dari tingkat menengah hingga level diploma, tersebar di seantero kota. Tentu, siswa/i dan mahasiswa/i itu bisa dipekerjakan, hitung-hitung kerja praktek dapat bayaran.

Noda kedua, yang menurut saya cukup fatal adalah klaim bangunan kampung Solo kuno yang menjadi bagian dari ekspo di halaman Pura Mangkunegaran. Menamakan diri Kampoeng Solo Koeno, sebuah kompleks rumah dilengkapi kandang kerbau –lengkap dengan dua kerbau asli di dalamnya. Anehnya, kandang itu diletakkan di bagian kiri depan, bersebelahan dengan gerbang masuk rumah.

Lazimnya, kerbau tidak pernah menjadi among tamu, yang menyambut kedatangan seseorang. Kandang, dalam masyarakat Jawa, terdapat di belakang rumah, sisi kiri, terpaut agak jauh dengan sumur yang terpisah dari bangunan utama.

Uniknya, ketika seorang teman –dosen jurusan Seni Rupa ISI Surakarta, memprotes pada pemilik bangunan, sang pemilik menjawab semaunya. Sang dosen bertanya, kenapa rumah khas Solo menggunakan ornamen ukir motif pedalaman Purwodadi, dan meletakkan dokar Kudus di halaman rumah ‘Jawa’.

Tak cuma itu, lesung, tempat menumbuk padi, yang dipajang di teras pun berasal dari pesisiran, termasuk perahu yang dijadikan pajangan, juga berasal dari kawasan pantai utara, yang bentuk dan fungsinya sangat berbeda dengan perahu Surakarta yang biasa digunakan untuk berdagang dengan menyusuri Sungai Bengawan Solo dan sebagainya.

Bagi Pak Dosen, tindakan semacam itu membohongi publik, bahkan membodohi banyak orang, termasuk para tamu. Sajian semacam itu, apalagi dalam forum bernuansa heritage, harus mempertimbangkan banyak faktor. Mulai antropologi budaya, aspek sosiologis, hingga pertimbangan-pertimbangan arkeologis.

Mau tahu kesalahan fatal lainnya? Lihatlah pendapa Pura Mangkunegaran yang diubah fungsi dan filosofinya. Tiga sisi utama, samping kiri-kanan dan depan, ditutup dengan kain dan aneka rupa demi memajang barang dagangan. Lalu?

So, what?!? Gitu, loh…..

Leave a Reply