Alcatel, Alhamdulillah Kayak Telepon

Alhamdulillah, telepon genggam saya jadi baru kembali. Saya memperoleh segalanya dari Mas Mansyur, pria berdarah Jawa-Kalimantan yang sangat baik hati. Kecuali cover depan yang imitasi, semua saya peroleh versi original-nya. Dia pernah bersinggungan dengan pemasaran telepon genggam asal Perancis itu, dan kini seperti jadi ketua penggemar Alcatel di Indonesia.

Selain saya, dia juga pernah mengerjakan perbaikan dan jasa lainnya dari pengguna Alcatel dari berbagai kota, tak terbatas Jakarta. Ada dari Surabaya, ada pula yang dar Jambi, nun di seberang lautan sana. Tak cuma asyik dan ramah, Mas Mansyur juga baik hati. Saya diberinya headset baru, asli bikinan Alcatel pula. Katanya, dia masih punya 150 biji!

Sejatinya, dua tahun silam saya sudah sms-an dengannya, namun tak kunjung ada kecocokan waktu bertemu. Barulah Sabtu (11/10) kemarin, saya sengaja menjumpainya di daerah Sunda Kelapa. Kebetulan, Alcatel seri OT-535 yang saya pakai sejak delapan tahun silam itu tak bisa digunakan untuk panggilan keluar. Incoming call pun tak pernah nyambung. Praktis, hanya bisa untuk kirim-terima pesan pendek.

Di Solo, tak satu pun tukang reparasi yang sanggup. Jangankan memperbaiki, membuka casing pun tak ada yang berani. Jadi, Mas Mansyur bagai juru selamat saya. Saya tak bisa memindahkan data-data di dalamnya ke komputer, sebab tak punya kabel datanya. Kebetulan, saya tak bisa mengoperasikan fasilitas infra merahnya. Maka, lengkaplah penderitaan saya bila telepon jadul itu sampai almarhum.

Asal tahu saja, 800 memori telepon dan data pendukungnya tak bisa disebut sedikit. Apalagi, satu entry nama dilengkapi 23 opsi nomor telepon utama, kantor, rumah, alamat (rumah/surat elektronik), homepage, dll. Pokoknya, rambut bakal memutih bisa sukses memindahkan semua data di dalamnya secara manual.

Rupanya, penyebab rusaknya telepon saya hanya sederhana: terjadi crash program antara software pesawat dengan SIM Card. Tak lebih dari 10 menit, telepon saya berfungsi kembali.

Selebihnya, pertemuan pertama yang berlangsung hampir dua jam di sebuah rumah makan Padang itu sangat mengasyikkan. Semua aksesoris asli dibawanya, dan saya bisa membelinya dengan harga sangat murah. Termasuk, sebuah baterai cadangan yang juga asli punya. Masih baru pula!

Sayangnya, Mas Mansyur berhati terlalu baik. Untuk membuat baru telepon saya, dia hanya meminta biaya pengganti sebesar Rp 150 ribu. Sebagai bentuk apresiasi kepuasan, dia tak mau menerima ongkos tambahan. Sebaliknya, saya malah diberi headset secara cuma-cuma. Aneh!

Bila mengacu pada hukum pasar, mestinya dia bisa menjualnya dengan harga mahal. Apalagi, telepon genggam keluaran Alcatel sudah tak beredar lagi di Indonesia, sehingga barang yang saya punya pun masuk kategori langka….

Matur nuwun, Mas Mansyur….. Kini, telepon saya sudah tak bisa diremehkan teman-teman saya lagi. Dulu, setiap diejek, saya selalu bilang bahwa telepon milik saya itu sangat Islami. Akronimnya asyik, Alcatel = Alhamdulillah Kayak Telepon!

Leave a Reply